DEMOCRAZY.ID – Salah satu tersangka dalam perkara dugaan fitnah ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Jokowi, Rizal Fadillah, kembali bicara menanggapi kunjungan Eggy Sudjana (ES) dan Damai Hari Lubis (DHL) ke kediaman Jokowi di Solo beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan bahwa klarifikasi dari Eggy Sudjana terlalu lambat dan justru menempatkan posisi politik Eggy di persimpangan jalan.
“Klarifikasi jangan terlalu lama karena itu dapat membuat Eggi di simpang jalan yakni antara tuduhan pengkhianatan atau pemulihan kepercayaan,” ujar Rizal kepada fajar.co.id, Jumat (16/1/2026).
Rizal kemudian menyinggung munculnya Pernyataan Sikap Ketua Umum Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) pada 12 Januari lalu.
Pernyataan itu, kata dia, muncul secara tiba-tiba pada sore hari dan menyebar luas ke publik.
“Pada 12 Januari, tiba-tiba sore hari muncul dan tersebar Pernyataan Sikap Ketum TPUA yang menyebut dirinya BES (Bang Eggy Sudjana) yang isi utamanya memecat beberapa orang dari pengurus dan rekanan TPUA atas dasar hak prerogatif Ketua Umum,” ungkapnya.
Ia menyebut sejumlah nama yang dicopot dari struktur TPUA, termasuk dirinya sendiri.
“Mereka yang dipecat adalah Azzam Khan, Muslim Arbi, Izmar, Kurnia Rayani, Rizal Fadillah, dan Rustam Effendi,” lanjut Rizal.
Rizal mengaku merespons pernyataan pemecatan tersebut dengan perasaan geli sekaligus merenung, karena menurutnya itu menjadi bentuk klarifikasi awal yang disampaikan Eggy.
“Ketika membaca Pernyataan Sikap Ketum tentang pemecatan, langsung respons hati tertawa geli dan merenung oh ini jawaban klarifikasi awal rupanya,” katanya.
Ia mempertanyakan dasar kewenangan Eggy dalam melakukan pemecatan tersebut.
“Tertawa geli karena dipecatnya oleh Eggy eh BES atas nama hak prerogatif ketum. Darimana ya dapat hak itu? Mungkin wangsit Solo. Dunia tahu yang begitu tuh egois atau keakuan alias otoriter, kumaha aing,” ucap Rizal.
Kata Rizal, pemecatan itu justru memperjelas bahwa pertemuan dengan Jokowi bukan merupakan agenda resmi TPUA.
“Klarifikasi awal adalah bahwa memang pertemuan Solo dengan Jokowi merupakan inisiatif sendiri atau berdua, bukan TPUA karena Tim nyatanya dibantai dengan pemecatan,” tegasnya.
Ia juga membantah klaim yang menyebut kunjungan tersebut sebagai kelanjutan dari pertemuan TPUA dengan Jokowi pada April 2025 lalu.
“Sowan Jokowi sebagai pertemuan kedua atas pertemuan TPUA 16 April 2025 lalu mengada-ada dan hanya karangan alasan. Beda misi dan cara dengan yang dulu, bro,” katanya.
Rizal bahkan menyebut pemecatan dirinya dan rekan-rekan justru membawa kelegaan secara moral.
“Dipecat oleh Eggy dari TPUA sangat membahagiakan bukan karena akan dapat pesangon tetapi Eggy telah melepaskan para pecatan dari dosa kenistaan pertemuan merengek-rengek berbaju nasehat Musa Harun ke Fir’aun,” imbuhnya.
Ia menekankan bahwa penggunaan analogi kisah Nabi Musa dan Harun dalam konteks tersebut sebagai bentuk penistaan ayat.
“Itu menista ayat. Kedua utusan Allah itu membawa misi pembebasan kaum tertindas fa arsil ma’anaa banii isrooil bukan kepentingan pribadi apalagi untuk menerapkan restorative justice,” Rizal menuturkan.
Rizal juga menyampaikan nasihat personal kepada Eggy Sudjana agar lebih fokus pada kondisi kesehatan dan spiritualitas.
“Bang Eggy Sudjana (BES) sebaiknya fokus saja pada penyembuhan sakit, lebih mendekat diri pada Allah, lepaskan dunia yang tidak pernah memuaskan, serta waspada akan akhir yang buruk (su’ul khotimah),” terangnya.
Ia menyebut polemik kunjungan ke Solo justru memperburuk situasi dan menyulitkan klarifikasi.
“Sowan ke Jokowi kemarin adalah fitnah. Terbayang akan sulit untuk klarifikasi selain tembak sana tembak sini. Pecat sana dan pecat sini,” katanya.
Rizal menggambarkan posisi Eggy saat ini sebagai kondisi yang rawan.
“Kasihan Eggy berada di tepi jurang. Seorang ulama berkomentar sambil bercanda setelah masuk jurang lalu kelelep dalam tumpukan sampah,” ucapnya.
“Nasehat untuk Bang Eggy Sudjana (BES) kembalilah ke jalan yang benar. Takutlah pada Allah yang dapat membolakbalikkan hati,” kuncinya.
Sumber: Fajar