Ribut! Mulai Ada Perselisihan, AS Kecewa dengan Serangan Israel di Kilang BBM Iran, Harga Minyak Terancam

DEMOCRAZY.ID – Operasi militer gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran mulai ada perselisihan.

Setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membombardir kilang BBM di Iran, Presiden AS Donald Trump dilaporkan marah.

Serangan yang terjadi pada Sabtu (7/3/2026) lalu itu dinilai melampaui kesepakatan awal dan memicu ketegangan diplomatik baru antara kedua sekutu tersebut.

Meskipun Israel sudah melaporkan kepada AS sebelum meluncurkan serangan, Washington mengaku terkejut dengan skala kerusakan yang ditimbulkan.

Menurut laporan Axios, hujan minyak bahkan sempat mengguyur permukiman warga akibat ledakan besar yang menyelimuti langit Iran dengan asap hitam pekat.

Seorang pejabat senior AS tak bisa menyembunyikan kekesalannya.

“Kami pikir ini bukan ide yang bagus,” cetusnya.

Bahkan, sumber internal menyebut respons pihak Gedung Putih saat mengetahui luasnya jangkauan serangan tersebut sangat keras dan penuh keterkejutan.

Trump disebut-sebut tidak menyetujui penghancuran infrastruktur minyak Iran tersebut.

Sang Presiden lebih memilih untuk “mengamankan” aset minyak daripada membumihanguskannya.

“Presiden tidak suka serangan itu. Beliau ingin menyelamatkan minyaknya, bukan membakarnya,” ungkap salah satu penasihat Trump.

Alasan utamanya jelas, yaitu ekonomi.

Trump khawatir kehancuran depot bahan bakar ini akan memicu kepanikan pasar global dan membuat harga BBM di tingkat konsumen melonjak tajam, yang tentu saja akan berdampak buruk pada citra politiknya di dalam negeri.

Hingga saat ini, foto-foto satelit menunjukkan kerusakan parah di berbagai titik infrastruktur energi Iran.

Selain ancaman krisis energi regional, tumpahan minyak yang terbawa air hujan kini menutupi atap rumah dan jalanan, menciptakan bencana ekologis di tengah berkecamuknya perang.

Hujan Asam Mengguyur Teheran

Suasana di Ibu Kota Iran, Teheran, dilaporkan kian kritis dan mencekam.

Usai rentetan serangan udara yang menyasar depo-depo minyak strategis, warga Teheran kini harus menghadapi fenomena mengerikan, yakni hujan hitam beracun yang mengguyur seantero kota.

Awan hitam pekat hasil pembakaran minyak menyelimuti langit, menutup cahaya matahari dan menciptakan atmosfer yang digambarkan warga sebagai “pemandangan kiamat”.

Lembaga Bulan Sabit Merah Iran telah mengeluarkan peringatan darurat bagi 10 juta penduduk Teheran.

Mereka diminta untuk tidak keluar rumah karena air hujan yang turun mengandung kadar asam tinggi dan partikel minyak yang sangat berbahaya bagi pernapasan dan kulit.

“Ini bukan lagi sekadar perang, ini adalah bencana lingkungan,” lapor salah satu jurnalis setempat sebelum akses komunikasi semakin sulit didapat, mengutip The Guardian.

Salah seorang warga yang berhasil dihubungi menggambarkan betapa hancurnya perasaan mereka melihat kota kebanggaan mereka luluh lantak.

“Langit hari ini sangat gelap, sama gelapnya dengan masa depan kami yang tidak pasti,” ungkapnya dengan nada getir.

Selain fasilitas energi, serangan udara tersebut dikabarkan juga mengenai beberapa fasilitas publik.

Dampaknya, warga kini berbondong-bondong mencoba mengungsi ke wilayah pegunungan Gilan atau ke arah Laut Kaspia demi mencari perlindungan dari polusi udara yang mematikan dan ancaman bom susulan.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya