Ribuan Tahanan ‘Dipenggal’ dan Dikubur di Ruang Bawah Tanah Gedung Lawang Sewu Semarang

DEMOCRAZY.ID – Ruang bawah tanah Lawang Sewu, Kota Semarang, Jawa Tengah menyisahkan misteri dan rasa penasaran bagi para pengunjung.

Sejak Desember 2024 lalu, ruang bawah tanah Lawang Sewu kembali dibuka untuk para pengunjung setelah tutup dari 2014 silam.

Dibukanya ruang bawah tanah membawa angin segar bagi warga lokal untuk menjadi tour guide atau pemandu bagi pengunjung.

Mereka meminta urunan uang dari para pengunjung ruang bawah tanah tanpa mematok harga atau seikhlasnya.

Harga satu tiket ruang bawah tanah Lawang Sewu Rp 50.000. Namun, anak-anak usia di bawah 10 tahun tidak diperbolehkan ikut turun ke bawah gedung Lawang Sewu.

Para pengunjung sebelum turun ke ruang bekas tahanan itu diminta memakai atribut proyek seperti sepatu, helm dan tali safety serta senter.

Pintu ruang bawah tanah masih asli dari zaman penjajah Belanda tertutup rapat. Sebelum turun ke bawah, pemandu memberikan imbauan kepada pengunjung.

“Jadi semua barang-barang harus taruh di loker, tidak boleh ada dokumentasi karena kebijakan dari pengelola,” kata pemandu Umar (bukan nama sebenarnya), Selasa (24/3/2026).

Para pengunjung masuk ke pintu ruang bawah tanah, kemudian menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu jati.

Suasana mistis sangat terasa dan ditambah sepanjang jalan bawah tanah digenangi oleh air.

Menurut cerita Umar, ruang bawah tanah pada era zaman penajajahan Belanda digunakan sebagai resapan air genangan atau hujan.

Tujuannya adalah untuk melindungi kantor pusat perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) pada tahun 1907.

Ia memastikan, ketika era penjajahan Belanda, ruang bawah tanah itu tidak pernah digunakan sebagai tempat tahanan warga negara Indonesia.

“Pada era Jepang menduduki Indonesia, ruangan ini dijadikan tempat tahanan. Sebelumnya hanya sebagai resapan air, jadi ketika air turun ke sini, maka akan menjadi ac alami dan ketika airnya segini (tunjuk ketinggian air di tembok kurang lebih satu meter) itu bisa menahan goncangan gempa bumi,” tegasnya.

Selama bangunan itu dikuasa Jepang, ada dua ruang tahanan yaitu dengan posisi duduk dan jongkok.

Satu ruang tahanan jongkok berukuran 1,5 meter ×1,5 meter diisi oleh lima orang dan bagian atasnya diberi penutup agar tidak bisa berdiri.

Sedangkan, ruang tahanan berdiri diisi oleh lima enam orang dengan ukuran 1×1 meter.

“Di dua ruang tahanan ini, mereka makan, buang air besar dan kecil di sini. Jadi bisa dibayangkan baunya pada saat itu,” tutur Umar sembari duduk di pipa air sepanjang 90 centimeter bersama pengunjung.

Lebih lanjut pria berkaos abu-abu itu, ruang bawah tanah Lawang Sewu pernah digunakan syuting salah satu progran televisi yakni uji nyali tahun 2004 silam.

Awalnya, lokasi uji nyali tak jauh dari tangga pengunjung turun ke bawah. Pada episode berikutnya, titik penempatan peserta uji nyali mundur sekira tiga sampai lima meter lebih jauh dari tangga.

“Coba matikan senternya, gelap kan, ada yang berani uji nyali di sini? Waktu itu hanya penerangan dari kamera saja,” terang Umar sambil kembali menyalakan senter.

Ruang Eksekusi

Di bawah tanah Lawang Sewu, para pengunjung berkeliling sekira 15 menit untuk melihat ruangan yang ada.

Di bagian terakhir berkeliling, Umar menunjukan sebuah ruangan tempat para tahanan dieksekusi dengan cara dipenggal.

“Dulu besi baja kecil di lantai ini adalah bekas tatakan meja besar terbuat dari baja. Di atasnya ada pisau besar berantai untuk memenggal kepala tahanan,” ungkap Umar sembari menunjukin sekitar ruang eksekusi tahanan.

Masih kata Umar, meja baja dan pisau besar berantai berusia ratusan tahun itu saat ini di simpan di Museum PT KAI Bandung, Jawa Barat.

Alasan dipindahkan agar benda bersejarah peninggalan kolonial Belanda tidak hilang dicuri maupun rusak termalan oleh usia.

Pria berusia sekira 50 tahunan itu menambahkan, setelah diseksusi, jasad para tahanan itu dipindahkan ke ruangan sebelah.

Ada sekira kurang lebih enam pintu yang kini sudah ditutup oleh batu bata. Ruangan itu ditutup sejak tahun 1960an dan konon kata Umar masih banyak kerangka manusia di dalamnya.

“Di dalam ruangan ini ada 1.000 lebih kerangka manusia. Sempat waktu itu mau dipindahkan dengan cara ritual dan penghormatan sebagai pahlawan, arwahnya menolak dan memilih tetap di sini (jasadnya),” tandasnya menyudahi panduan.

Sementara itu, Siska salah satu pengunjung mengaku sudah sejak lama penasaran dengan ruang bawah tanah Lawang Sewu.

Sama seperti pengunjung lain, awalnya ia mengira ruang bawah tanah itu sebagai penjara sejak era kolonial Belanda.

“Pas diceritain ternyata dari zaman Jepang. Jadi bisa nambah wawasan saya juga kan ke sini,” terangnya.

Ia menambahkan, kekurangan dari perjalanan di ruang bawah tanah adalah tidak diperbolehkan membawa Hp sehingga tak bisa mengabadikan momen.

Wanita 32 tahun itu menegaskan, ruang bawah tanah tersebut jika tanpa penerangan sangat-sangat gelap tak bisa melihat sekitar.

Wajar saja jika pada saat uji nyali di televisi, pesertanya tidak kuat berada di ruang bawah tenah tersebut.

“Mungkin kalau saya ditinggal di bawah situ sendiri sudah nangis-nangis kali ya karena memang gelap banget kalau enggak pakai senter,” imbuhnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya