Rekam Jejak Iptu Nasrullah Muntu, Polisi Yang Kemampuannya Diakui Internasional, Kini Jadi Tersangka!

DEMOCRAZY.ID – Dalam sistem negara hukum, polisi memiliki peran yang sangat penting sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan menegakkan hukum.

Di Indonesia, tugas tersebut dijalankan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Namun, dalam praktiknya tidak jarang muncul kasus di mana aparat penegak hukum justru terlibat dalam pelanggaran hukum.

Fenomena ini menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.

Seorang perwira polisi berpangkat Inspektur Satu (Iptu), Nasrullah Muntu, ditetapkan sebagai tersangka kasus tewasnya remaja asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Korban berinisial Bertrand Eko Prasetyo (18) dan tewas setelah tertembak senjata yang digenggam Iptu Nasrullah di Jalan Toddopuli, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

Iptu Nasrullah Muntu merupakan pria kelahiran Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, tahun 1987.

Ia memiliki sejumlah prestasi. Belum lama ini namanya menjadi perbincangan setelah terlibat dalam penyelamatan balita bernama Bilqis Ramdhani.

Balita itu merupakan korban sindikat penculikan yang ditemukan di wilayah Suku Anak Dalam (SAD), Kabupaten Merangin, Jambi.

Iptu Nasrullah adalah Kanit Reskrim Polsek Panakkukang.

Pangkatnya adalah Iptu atau Inspektur Polisi Satu. Pangkat ini berada di tengah-tengah antara Inspektur Polisi Dua (Ipda) dan Ajun Komisaris Polisi (AKP).

Tanda kepangkatannya dua balok emas.

Sebelumnya, ia pernah lama bertugas di jajaran Jatanras sebagai Kasubnit II.

Aksinya yang mampu mengungkap pelaku penculikan Bilqis akhirnya diganjar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dengan penghargaan.

Melansir Kompas.com, Nasrullah memulai karier di Kepolisian dengan pangkat Bintara.

Perjalanan pangkatnya dimulai dari Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) pada 2005 dan berhasil menapaki jenjang perwira melalui Sekolah Inspektur Polisi (SIP) pada 2020, hingga meraih pangkat Iptu pada 2025.

Selain karier kepolisian, latar belakang pendidikannya sangat beragam. Ia merupakan polisi berpendidikan tinggi.

Ia memiliki gelar D-3 Akademi Keperawatan (2011) dan strata 1.

Pendidikannya terus berlanjut hingga strata 2 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) 2019.

Nasrullah kemudian berhasil meraih gelar doktor (S-3) Ilmu Hukum di Universitas Hasanuddin (Unhas) pada 2025.

Bahkan, kemampuannya juga diakui secara internasional.

Ia tercatat pernah bertugas dalam Formed Police Unit (PBB) di Unamid (Sudan).

Sebuah penugasan internasional yang bergengsi dan dianugerahi tanda Kehormatan Satyalencana Bhakti Buana pada 2013.

Dirinya juga fasih dalam berbahasa Arab dan Inggris.

Nasrullah juga diketahui merupakan penghafal Alquran.

Kronologi Penembakan Remaja

Peristiwa yang melibatkan Iptu Nasrullah Muntu terjadi pada Minggu (1/3/2026).

Saat itu, dia tengah membubarkan aksi tembak-tembakan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda.

“Jadi kejadiannya adalah pukul 7 pagi, di mana ada laporan dari salah satu kapolsek kami yaitu Kapolsek Rappocini di HT yang melaporkan bahwa ada anak-anak muda yang sedang bermain senapan omega.”

“Dan di situ lalu mencegat orang-orang yang jalan ya, lalu mendorong orang yang jalan juga,” kata Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana saat memberikan keterangan pers di kantornya, Jl Ahmad Yani, Makassar, Selasa (3/3/2026) malam, dilansir Tribun-Timur.com.

Aksi tembak-tembakan yang belakangan viral itu dianggap telah meresahkan warga lantaran berlangsung di badan jalan.

Nasrullah yang mendapat laporan itu langsung mendatangi lokasi seorang diri mengendarai mobil.

Setibanya di lokasi, dia melihat seorang anak muda tengah melakukan tindakan yang cukup keras kepada pengendara motor.

“Sehingga begitu Iptu N turun dari mobil langsung melakukan penangkapan, pegang pelaku sambil mengeluarkan tembakan peringatan,” lanjutnya.

Setelah melepaskan tembakan peringatan ke udara, Nasrullah mengamankan Bertrand, sedangkan pemuda lainnya kabur.

Saat itu Bertrand berusaha melarikan diri dan meronta.

Nahas, saat Bertrand tengah meronta, pistol yang masih dipegang Nasrullah meletus.

Peluru mengenai bagian tubuh Bertrand hingga mengakibatkan remaja itu tewas.

“Bertrand berusaha untuk melarikan diri, berusaha meronta dan ketika meronta pistol yang masih dipegang oleh IPTU N itu meletus dengan tidak sengaja terkena bagian tubuh belakang,” sebutnya.

Nasrullah kemudian membawa remaja itu ke Rumah Sakit Grestelina untuk mendapat pertolongan medis.

Selanjutnya, korban dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara.

Namun, setibanya di RS Bhayangkara, korban dinyatakan meninggal dunia.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya