‘Rakernas Projo Upaya Melanggengkan Dinasti Jokowi Penghancur NKRI’

‘Rakernas Projo Upaya Melanggengkan Dinasti Jokowi Penghancur NKRI’

Oleh: Sholihin MS | Pemerhati Sosial dan Politik

RENCANA penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) VII Pro Jokowi (Projo) di Jakarta pada 25-26 Oktober kemungkinan adalah sebagai bentuk konsolidasi kekuatan Komunis Gaya Baru (KGB) yang telah bermetamorfose atau berafiliasi menjadi berbagai organisasi massa seperti PSI, Projo, Joko Mania, Sahabat Jokowi dan beberapa relawan pembela Jokowi.

Secara politik, dukungan kepada Jokowi yang sudah lengser dan tidak mungkin lagi menjadi capres atau cawapres adalah sangat tidak masuk akal.

Jadi apa tujuan utama dan visi misi Projo selain untuk kultus individu arahnya ke mana ?

Apakah untuk melawan atau menekan Presiden Prabowo yang belakangan ini mulai berani bersimpang jalan dengan Jokowi?

Apakah Jokowi sedang memberikan peringatan kepada Prabowo kalau dirinya masih punya power untuk “mendepak” Prabowo kapan saja?

Secara implisit, sebenarnya Jokowi masih merasa dirinya sebagai penguasa, sehingga titahnya tidak boleh diabaikan Prabowo.

Apalagi Jokowi masih merasa menguasai pimpinan-pimpinan kementrian strategis, lembaga-lembaga negara, baik Eksekutif, Legislatif, maupun Yudikatif.

Sekuat apa pun Jokowi, karena dia sudah tidak punya jabatan resmi di pemerintahan, seharusnya tidak membuat ciut nyali Prabowo yang secara hukum adalah Presiden sah.

Jika Prabowo lebih tunduk kepada Jokowi daripada kepada rakyat dan konstitusi, maka Prabowo telah berkhianat kepada rakyat, kepada UUD 45, kepada kebenaran, dan berkhianat kepada bangsa dan negara.

Diduga, tindakan Projo untuk tetap mempertahankan organisasinya ada beberapa motif :

Pertama, sebagai implementasi keinginan Jokowi untuk tetap mempunyai pembela yang loyal demi memenuhi kepentingan politiknya.

Kedua, sebagai bagian dari rencana kebangkitan ideologi komunis yang hendak merubah Indonesia menjadi negara komunis.

Ketiga, sebagai persiapan untuk mem- back up Gibran untuk menggantikan Prabowo jika suatu saat turun di tengah jalan.

Keempat, “memperaiapkan Gibran untuk maju nyapres di tahun 2029.

Kelima, bisa juga sebagai lahan mendapat cuan terutama dari para pimpinan dan pengurus Projo.

Apa pun alasannya, pelaksanaan Rakernas Projo ini perlu diwaspadai atau bahkan dicurigai sebagai rencana tindakan makar terhadap Pemerintahan Prabowo.

Jokowi itu penjahat bangsa dan negara, maka semua sepak terjang pendukung Jokowi adalah bertentangan dengan kehendak rakyat.

‘Rakernas Projo dan Kultus Jokowi’

DENGAN tema “Selalu Setia di Garis Rakyat” Projo tanggal 25-26 Oktober 2025 akan mengadakan Rakernas VII di Jakarta. Apapun alasannya hal ini adalah penggalangan kekuatan untuk membangkitkan pasukan Jokowi.

Aneh di Indonesia ini, ada mantan Presiden yang intens melakukan konsolidasi “machtsvorming” layaknya mau menjadi atau memperpanjang kekuasaan sebagai Presiden.

Bagi bangsa, setia di garis rakyat adalah mewaspadai kebangkitan rezim korup, nepotis, penipu, dan jahat. Melakukan perlawanan atas gerakan model PKI yang menghalalkan segala cara termasuk kudeta.

PKI dahulu juga senang melakukan rapat-rapat akbar untuk menciptakan citra diri kuat, solid, dan didukung rakyat. Pencitraan itu saat ini berbasis pada uang dan kerakyatan palsu.

Projo akronim dari Pro Jokowi sekaligus bermakna kerajaan atau istana. Ormas eks relawan ini bersimbol kepala Jokowi.

Nyata pada bendera dan logo merahnya. Nama-nama Budi Arie Setiadi, Panel Barus, dan Freddy Damanik melekat.

Seiring dengan PSI yang mengusung Jokowisme, maka Projo sebagai sayap ormas siap bermain untuk melindungi dan memajukan Jokowi and family.

Di tengah serangan besar pada Jokowi atas kasus ijazah palsu, korupsi, dan oligarki, nampaknya Rakernas VII menjadi strategis untuk memperkuat benteng pertahanan dan menyiapkan serangan balik.

Apalagi isu hubungan Jokowi dan Prabowo terus dikritisi, Gibran digoyang, serta Budi Arie yang terlempar dari Kabinet. Karungan duit judol tidak bisa menyelamatkan jabatan Arie.

Prabowo bagusnya tidak hadir, karena ini merupakan pelembagaan budaya politik yang buruk. Membangun kultus tokoh ala negara Komunis.

Sorotan publik pada Prabowo akan tajam. Prabowo sendiri sedang mendapat tekanan untuk memproses hukum atau mengadili Jokowi serta memakzulkan Gibran.

Tuntutan menjelang 20 Oktober semakin kuat. Satu tahun pemerintahannya akan diuji dengan bukti, bukan orasi janji-janji.

Pidato puja-puji atas Jokowi dalam Rakernas justru menjadi ajang bunuh diri Prabowo. Apalagi jika ada teriakan hidup Jokowi jilid dua. Hancurlah Prabowo.

Tri tuntutan rakyat yakni Adili Jokowi, makzulkan Gibran, dan ganti Kapolri akan berperang dengan agenda Rakernas Projo yang berjuang untuk perkuat Jokowi, jaga Gibran, dan pertahankan Kapolri. Disini pertarungan akan dimulai.

Konsistensi reformasi Kepolisian yang disiapkan Prabowo menjadi bacaan apakah memang Prabowo itu harapan atau pecundang, macan atau tikus, mandiri atau termul?

Rakernas akal-akalan Jokowi bertema “Selalu Setia di Garis Rakyat’ akan berkonfrontasi dengan kekuatan rakyat sesungguhnya yang setia dan gigih melawan pemimpin korup, penipu, dan jahat.

Kekuatan itu bergerak dan berjuang terus agar Jokowi diadili, Gibran dimakzulkan, dan Kapolri diganti.

Tanpa perlu Rakernas, rakyat akan tetap setia untuk menumbangkan kezaliman.

Apakah itu rezim Joko Widodo, Prabowo Subiyanto, atau lainnya. Rakyat sudah mengerti dan tidak mau memberi konsesi lagi. ***

Artikel terkait lainnya