Seorang presiden (pemimpin) tidak perlu terlalu pintar atau berpendidikan formal terlalu tinggi. Yang penting mempunyai kualitas pribadi unggul, berakhlak, berintegritas, dan memiliki skill tertentu.
Di dunia ini banyak orang pintar. Seorang pemimpin tinggal meng-organize segala bentuk dan jenis kepintaran.
Orang yang berpendidikan tinggi juga sangat banyak. Seorang pemimpin tinggal menseleksi dan menempatkan mereka berada dimana sesuai keahlian dan kebutuhan.
Pak Jokowi, Presiden Ketujuh RI, seorang pribadi sederhana yang tidak berpendidikan terlalu tinggi (hanya lulus SI, itupun dipertanyakan keaslian ijasahnya-versi Roy Suryo). Juga tidak terlalu pintar, bahkan banyak orang bilang ia bodoh, planga-plongo.
Bahasa Inggrisnya tidak fasih. Itu mungkin benar ! Tapi ia menjadi seorang Presiden Republik Indonesia yang paling dihormati.
Begitu juga dengan anaknya, Gibran Rakabuming Raka. Konon tidak lulus SMA (menurut versi Roy Suryo Cs). Tidak terlalu pintar juga.
Banyak orang bilang Gibran kurang banyak menguasai masalah, kebanyakan ngomong AI, cacat hukum konstitusi (menurut versi lawan politiknya) dan banyak lagi sindiran tentang kekurangan Gibran di mata “musuh-musuh” politiknya.
Tapi kenapa Pak Jokowi jadi presiden dan Pak Gibran juga bisa jadi wakil presiden yang disegani dan elektabilitas politiknya masih tinggi.
Kenapa? Ya karena akhlaknya bagus, sopan, merendah, merunduk, mau mendengar, rajin silaturahmi, menghargai dan mencintai rakyat kecil, senang berbagi, berani, tegas. Akhlak seperti ini disukai oleh para leluhur dan semesta.
Nabi Muhammad juga gak sekolah, konon buta hurup, gak bisa membaca dan menulis. Tapi kenapa diangkat menjadi seorang Nabi paling termasyhur sepanjang sejarah umat manusia? Jadi pemimpin kaum Quraisy Arab yang ditakuti.
Kenapa!? Ya karena akhlaknya, budi pekertinya yang hebat, jujur dan adil sehingga mendapat gelar dari kaum Quraisy sebagai Al Amien (orang yang dipercaya).
Seluruh para nabi, raja, presiden yang termasyhur dan kuat dalam sejarah manusia adalah mereka yang mampu berdiri di atas ahlak mulia.
Presiden Prabowo tiga kali kalah saat ikut konstestasi menjadi calon presiden dan calon wakil presiden. Kalah terus, padahal perjuangan dan kerja kerasnya luar biasa.
Kenapa kalah? Karena saat itu ia terkesan masih sombong, merasa sok pintar, sering menilai negerinya sendiri dengan kalimat buruk. Indonesia mau bubar lah, banyak korupsilah dst.
Juga karena salah bergaul dan didukung oleh sekelilingnya waktu itu dari kelompok orang yang kurang berakhlak (kelompok agama garis keras jarum pendek-mulut bau dan berapi) yang sering sebar hoaks dan caci maki orang lain.
Aura dan vibrasi frekwensi lingkungan politik Prabowo saat itu l negatif sekali. Ya tentu saja akhirnya kalah. Apalagi melawan pak Jokowi yang memiliki kualitas akhlak pribadi positif..
Nah, setelah Pak Prabowo berubah sikap, menjadi lebih berakhlak, lebih merunduk, lebih merendah, berpidato dengan bahasa lebih lembut dan tenang, serta hormat kepada Pak Jokowi sebagai mentor politik (orang yang berakhlak), tidak melupakan akar, dan menjauh dari kelompok orang negatif, barulah Pak Probowo bisa menang dalam Pilpres. Auranya kembali positif, gelombang frekuensinya bergetar positif.
Jika suatu hari akhlak Pak Prabowo berubah, tidak rendah hati, tidak merunduk seperti sebelumnya, malah takut sama Donald Trump yang saat ini mulai dijauhi pemimpin dunia, gak mau dengerin kritik dan masukan serta nasihat, malas turun ke bawah merangkul rakyat, mendukung Israel yang sumber kekacauan di Timur Tengah, menjual kekayaan SDA negeri ke pihak asing, merangkul lagi kelompok orang negatif (termasuk kelompok agama garis keras), ya bukan mustahil Pak Prabowo bisa tumbang lagi, karena kehilangan akar, tidak disukai leluhur dan juga tak didukung oleh semesta lagi. ***