Proyek Ambisius Trump di Gaza: Membedah ‘Komite Teknokrat’ dan Peta Baru Palestina

DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menancapkan pengaruhnya dalam menentukan masa depan Jalur Gaza.

Gedung Putih mengumumkan pembentukan National Committee for the Administration of Gaza (NCAG), sebuah komite teknokratik yang dirancang untuk mengisi kekosongan kekuasaan sekaligus mengakhiri perang berkepanjangan di wilayah kantong Palestina tersebut.

Langkah ini bukan sekadar urusan administrasi biasa. NCAG diproyeksikan sebagai badan pelaksana lapangan yang bertugas memulihkan layanan publik dan membangun kembali institusi sipil yang luluh lantak.

Nama Dr. Ali Sha’ath, mantan Wakil Menteri Otoritas Palestina, dipercaya menakhodai komite ini.

Aliansi ‘Gajah’ di Dewan Eksekutif

Namun, yang mencuri perhatian publik internasional bukanlah sekadar jajaran teknokratnya, melainkan komposisi Dewan Eksekutif yang mengawasi operasional lapangan. Trump menarik tokoh-tokoh kunci ke dalam lingkaran ini.

Sebut saja Menlu Turki Hakan Fidan, utusan khusus Steve Witkoff, hingga menantu kesayangan Trump, Jared Kushner.

Tak ketinggalan, nama mantan PM Inggris Tony Blair dan perwakilan senior dari Uni Emirat Arab, Qatar, serta Mesir turut masuk dalam gerbong ini.

Sebagai pemegang kendali tertinggi, Trump memimpin langsung ‘Dewan Perdamaian’.

Di sini, ia didampingi oleh figur-figur kuat seperti Menlu AS Marco Rubio dan Presiden Bank Dunia Ajay Banga.

Ini memberi sinyal kuat bahwa AS ingin memastikan transisi kekuasaan berjalan sesuai dengan kalkulasi politik dan ekonomi mereka.

Gencatan Senjata dan Bayang-Bayang Brutalitas

Pengumuman komite ini merupakan kelanjutan dari fase kedua kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Poin krusialnya meliputi:

  • Demiliterisasi total di Jalur Gaza.
  • Penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah kantong.
  • Pelucutan senjata Hamas.
  • Pengerahan pasukan stabilisasi internasional.

Meski peta jalan menuju perdamaian sudah diteken, fakta di lapangan tetap menyisakan luka dalam.

Sejak pecah perang pada Oktober 2023, lebih dari 71.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa.

Ironisnya, meski gencatan senjata resmi berlaku sejak Oktober 2025, mesin perang Israel nyatanya belum sepenuhnya padam —hampir 450 jiwa melayang dalam serangan-serangan sporadis yang terus terjadi.

Dunia kini menunggu, apakah komite bentukan Trump ini benar-benar mampu menghadirkan stabilitas, atau justru menjadi instrumen baru bagi hegemoni Barat di tanah Palestina.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya