DEMOCRAZY.ID – Apa yang bisa dilakukan seorang pemuda di usia 30-an? Bagi Ibrahim Traore, jawabannya adalah memimpin sebuah negara dan melawan hegemoni global.
Lahir dari keluarga sederhana dan ditempa lewat aktivisme mahasiswa Muslim, Traore membuktikan bahwa kepemimpinan tidak selalu memandang uban.
Keberaniannya memutus rantai ketergantungan asing menjadikannya simbol harapan baru—bukan hanya bagi Burkina Faso, tapi bagi generasi muda Afrika yang merindukan kedaulatan.
Mari menyelami lebih dalam profil sang Kapten yang kini menjadi sorotan mata dunia.
Kapten Ibrahim Traore adalah sosok sentral dalam politik Afrika Barat saat ini.
Menjabat sebagai Presiden Transisi Burkina Faso sejak kudeta 30 September 2022, Traore mencatatkan sejarah sebagai kepala negara termuda di dunia saat mengambil alih kekuasaan di usia 34 tahun.
Sering disandingkan dengan tokoh revolusioner legendaris Thomas Sankara, Traore membawa semangat nasionalisme Pan-Afrika yang kental, retorika anti-imperialis, dan kebijakan berani yang mengubah peta geopolitik kawasan Sahel.
Lahir pada tahun 1988 di Kéra, Burkina Faso, Traore memiliki latar belakang yang unik—kombinasi antara intelektualitas sipil dan ketangguhan militer.
Pendidikan: Ia menempuh pendidikan Geologi di Universitas Ouagadougou. Semasa kuliah, ia aktif dalam Asosiasi Mahasiswa Muslim, yang membentuk karakter vokalnya dalam membela rekan-rekannya.
Karier Militer: Bergabung dengan angkatan darat pada 2009, Traore mendapatkan pelatihan militer di Maroko dan Prancis.
Pengalaman Tempur: Ia pernah bertugas dalam pasukan perdamaian PBB (MINUSMA) di Mali pada 2019 dan terlibat dalam berbagai operasi kontra-pemberontakan di garis depan utara Burkina Faso. Pangkat Kapten diraihnya pada tahun 2020.
Kenaikan Traore ke puncak kekuasaan dipicu oleh ketidakpuasan internal militer terhadap Presiden Sementara Paul-Henri Sandaogo Damiba.
Alasan Kudeta: Traore dan perwira muda lainnya menilai Damiba gagal menangani ancaman pemberontakan jihadis dan memiliki ambisi pribadi yang menyimpang.
Proses Pengambilalihan: Pada 30 September 2022, Traore memimpin penggulingan Damiba yang kemudian melarikan diri ke Togo.
Pembentukan Pemerintahan Baru: Traore memproklamirkan diri sebagai kepala Patriotic Movement for Safeguard and Restoration (MPSR), menangguhkan konstitusi, dan membubarkan pemerintahan lama.
Di bawah kepemimpinan Traore, Burkina Faso melakukan putar haluan drastis dalam kebijakan luar negeri dan ekonomi, mengusung slogan “sumber daya untuk rakyat”.
Langkah paling mencolok Traore adalah memutus hubungan pertahanan dengan Prancis, mantan penjajah Burkina Faso.
Februari 2023: Penarikan total 400 pasukan khusus Prancis dari Burkina Faso.
Aliansi Baru: Mengisi kekosongan Barat, Traore mempererat hubungan dengan Rusia, Turki, dan Tiongkok. Dukungan dari grup Wagner (sekarang Africa Corps) menjadi sorotan internasional.
Media: Memblokir media Prancis seperti RFI dan Jeune Afrique yang dituduh menyebarkan disinformasi.
Traore melakukan nasionalisasi parsial pada sektor tambang emas:
Meningkatkan kepemilikan saham negara di proyek tambang dari 10% menjadi 15%.
Mewajibkan transfer teknologi dan keahlian kepada warga lokal.
Traore menjadi tokoh kunci dalam pembentukan Aliansi Negara-Negara Sahel (AES) bersama Mali dan Niger.
Blok ini merupakan pakta pertahanan bersama yang menolak campur tangan ECOWAS dan Barat, serta membentuk pasukan gabungan untuk melawan terorisme.
Meskipun populer di kalangan pemuda Afrika karena citra anti-imperialisnya, pemerintahan Traore menghadapi kritik tajam terkait stabilitas domestik:
Semula berjanji hanya memimpin transisi singkat, Traore kini memperkokoh posisinya.
Pada Mei 2024, sebuah Piagam Transisi baru disepakati, yang memperpanjang masa pemerintahan junta hingga Juli 2029.
Piagam ini juga memungkinkan Traore untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden mendatang.
Apakah Ibrahim Traore akan dikenang sebagai pembebas Afrika layaknya Thomas Sankara, atau terjebak menjadi pemimpin otoriter? Dunia kini menanti pembuktian dari sang Kapten muda.
Sumber: Inilah