DEMOCRAZY.ID – Dunia mengenal Bill Gates sebagai pahlawan revolusi komputer, Mark Zuckerberg sebagai jenius di balik interaksi sosial digital, dan belakangan, ChatGPT sebagai puncak kecerdasan buatan.
Namun, di mata Profesor Jiang Xueqin, narasi ‘kerja keras dari garasi rumah’ itu hanyalah dongeng pengantar tidur bagi publik yang naif.
Akademisi terkemuka asal China ini melontarkan tesis yang menghentak: raksasa teknologi seperti Google, Facebook, hingga internet itu sendiri bukanlah murni hasil inovasi sipil.
Menurut Profesor Jiang, semua itu adalah teknologi militer Amerika Serikat (AS) yang sengaja ‘dihibahkan’ kepada individu-individu tertentu.
Tujuannya? Sebuah agenda geopolitik dan kontrol massa yang jauh lebih besar dari sekadar mencari keuntungan iklan.
Pertanyaan mendasar yang dilemparkan Jiang sangat sederhana namun mematikan: Mengapa layanan canggih itu diberikan secara gratis?
Logika Jiang cukup tajam. Jika Pentagon atau Departemen Pertahanan AS mendatangi Anda dan berkata, “Ini ada komputer dan jaringan gratis, silakan pakai agar kami bisa memantau data Anda,” maka hampir dipastikan seluruh dunia akan menolak karena curiga.
“Tetapi, jika seorang pemuda seperti Mark Zuckerberg yang menawarkan Facebook secara gratis, semua orang akan berebut menggunakannya tanpa rasa curiga sedikit pun,” ungkap Jiang.
Dalam pandangannya, teknologi ini adalah instrumen militer yang dikemas dalam bungkus gaya hidup populer agar diterima tanpa perlawanan oleh masyarakat global.
Nama Profesor Jiang Xueqin kini mendadak menjadi magnet di jagat maya.
Di tengah desing peluru dan dentuman rudal yang mewarnai konflik AS dan Iran pada awal 2026 ini, analisis Jiang yang disampaikan hampir dua tahun lalu kini bak naskah sejarah yang sedang diputar ulang secara akurat.
Profesor Jiang bukanlah pengamat karbitan. Ia adalah intelektual berkebangsaan China-Kanada dengan rekam jejak yang mentereng.
Lulusan Yale University ini memiliki latar belakang Sastra Inggris, namun ketajaman analisisnya menembus jantung strategi geopolitik global.
Sejak 2022, ia mengajar di Moonshot Academy, Beijing. Melalui kanal YouTube-nya, Predictive History, Jiang membedah arah dunia menggunakan pendekatan sejarah yang dikombinasikan dengan game theory serta pola matematika.
Di Indonesia, sosoknya sempat viral setelah aktris Dian Sastrowardoyo membagikan momen saat menyimak kuliah strategis Jiang.
Popularitas Profesor Jiang mencapai puncaknya berkat video ikoniknya bertajuk Geo-Strategy #8: The Iran Trap yang dirilis pada Mei 2024.
Dalam video tersebut, Jiang melontarkan tiga ramalan besar yang kini menghantui Washington.
Apa yang membuat analisis Jiang Xueqin berbeda adalah metodenya. Ia tidak menggunakan bola kristal, melainkan Sejarah Prediktif.
Ia melihat bahwa sejarah selalu berulang dalam pola-pola matematika tertentu.
“Dunia sedang menyaksikan proses pembuktian dari apa yang ia sebut sebagai The Iran Trap,” ujar banyak analis yang kini mulai membenarkan tesis Profesor Jiang.
Jika prediksi ketiganya mengenai kekalahan AS benar-benar terjadi, maka peta kekuatan dunia akan berubah secara permanen.
Profesor Jiang mengingatkan kita bahwa di balik kemudahan teknologi yang kita genggam setiap hari, ada sejarah panjang dari laboratorium militer dan kepentingan negara adidaya.
Bill Gates dan Zuckerberg, dalam narasi Jiang, hanyalah wajah-wajah ramah yang dipasang untuk menutupi mesin besar di belakangnya.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah kita percaya pada teori Profesor Jiang, melainkan sejauh mana kita sadar bahwa setiap klik dan pencarian kita di internet adalah bagian dari permainan besar yang sudah dirancang sejak puluhan tahun silam.
Sumber: Inilah