DEMOCRAZY.ID – Eks Dubes RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menyebut Iran tidak akan suka jika Indonesia menjadi mediator antara Amerika Serikat (AS) dan Iran demi menciptakan keamanan yang kondusif di kawasan Timur Tengah.
Hal tersebut disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI saat memberikan pernyataan resmi terkait serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Kemlu mengatakan bahwa Prabowo siap terbang ke Teheran, Iran, untuk memediasi kedua belah pihak.
Terkait hal ini, Dian malah menanggapinya berbeda karena dia mengira Iran tidak akan suka dengan langkah Prabowo tersebut.
Sebab, Indonesia kini sudah berada di pihak AS, apalagi setelah Prabowo memutuskan bergabung dengan Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS, Donald Trump.
“Saya kira mungkin Iran pun dalam hal ini tidak akan happy menerima Indonesia menjadi mediator, karena Indonesia sudah ada di pihak Amerika kok,” jelas Dian, Minggu (1/3/2026), dikutip dari YouTube Kompas TV.
“Suka atau tidak suka, kita tidak usah berdebat panjang, baik de jure maupun de facto, kita sudah ada di pihak Amerika yang kalau kita bergabung dengan BoP di lapangan pada waktunya, kalau masih ada BoP, kita harus bernegosiasi dengan Israel,” tambahnya.
Selain itu, kata Dian, Hamas juga tidak menerima kehadiran Indonesia lewat BoP tersebut.
Sehingga, menurutnya, Prabowo seharusnya lebih fokus pada urusan dalam negeri saja untuk saat ini, karena masih banyak persoalan yang perlu diselesaikan.
“Hamas pun tidak menerima kehadiran kita. Mau apa kita? Buat saya lebih baik kita, maaf dengan segala hormat Bapak Presiden, lebih baik fokus keadaan dalam negeri, masih banyak PR yang harus dikerjakan,” paparnya.
Adapun, Hamas sebenarnya tidak secara khusus menolak Indonesia, hanya saja lebih ke penolakan terhadap konsep pengamanan atau intervensi asing yang berpotensi melucuti senjata mereka.
Dian juga menjelaskan bahwa jika ingin menjadi penengah sebuah konflik, maka harus diakui oleh kedua belah pihak yang berkonflik.
“Dalam konteks negara, kedua belah pihak harus diakui secara diplomatik. Nah, kita sampai saat ini tidak punya pengakuan diplomatik terhadap terhadap Israel,” katanya.
Sebelumnya, Indonesia memutuskan bergabung BoP dengan tujuan mendorong komitmen kemanusiaan dan upaya perdamaian dunia, khususnya bagi rakyat Palestina.
BoP sendiri dibentuk usai Donald Trump mengajukan 20 poin perdamaian untuk Gaza dan disetujui oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada 18 November 2025.
20 poin perdamaian yang diajukan Trump dan didukung PBB itu berisi rencana bahwa Gaza akan menjadi zona bebas teror dan deradikalisasi, Gaza dibangun kembali untuk kepentingan rakyat Gaza.
Bila perang berakhir, maka pasukan Israel akan mundur, pembebasan sandera, tuntutan agar Hamas hidup damai dan menonaktifkan senjata, hingga bantuan untuk Gaza.
Dalam 20 poin perdamaian itu, memang ada tuntutan soal penonaktifan senjata Hamas dalam salah satu poin di atas.
Namun, Indonesia berjanji tidak akan terlibat pelucutan senjata Hamas.
Media Iran melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei telah tewas dalam serangan AS-Israel di Iran.
Pada hari ini, Minggu (1/3/2026), media resmi milik Iran, Press TV, Kantor berita Tasnim dan Fars mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kemudian Kantor berita Fars Iran memberikan detail lebih lanjut tentang pembunuhan pemimpin tertinggi tersebut.
Disebutkan bahwa Khamenei terbunuh di kantornya saat “menjalankan tugas yang diberikan kepadanya” pada Sabtu (28/2/2026) dini hari.
Atas kematian Khamenei ini, Pemerintah Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional.
Nantinya, akan ada upacara yang direncanakan di kemudian hari menyusul pengumuman sebelumnya tentang masa berkabung selama 40 hari.
Upacara-upacara ini kemungkinan akan berlangsung di tengah bombardir yang terus berlanjut di seluruh negeri.
Donald Trump, sebelumnya juga telah mengumumkan Ali Khamenei meninggal setelah serangan udara gabungan AS-Israel menghantam kompleks kediamannya pada hari Sabtu (28/2/2026).
Sebelum Khamenei dilaporkan tewas, media Iran juga melaporkan bahwa putri, menantu, dan cucu Khamenei tewas dalam serangan AS dan Israel.
“Setelah menjalin kontak dengan sumber-sumber terpercaya di lingkungan kediaman Pemimpin Tertinggi, kabar tentang gugurnya putri, menantu, dan cucu pemimpin revolusioner sayangnya telah dikonfirmasi,” demikian dilaporkan kantor berita Fars dan media Iran lainnya.
Kabar ini menyusul klaim Israel dan AS yang sebelumnya menyebut bahwa Ali Khamenei telah tewas dalam serangan Iran.
Namun, klaim itu sebelumnya sempat dibantah oleh Iran dan menyebutnya sebagai upaya untuk meruntuhkan mental pasukan.
Adapun, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang memicu ledakan di ibu kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan.
Tak lama setelah itu, Donald Trump kemudian mengunggah pernyataan video yang mengumumkan operasi tempur AS di Iran, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi.
Dari laporan lapangan menunjukkan asap tebal mengepul di atas distrik Pasteur, Teheran, yang merupakan lokasi kediaman Khamenei.
Otoritas Iran pun segera melakukan pengerahan keamanan besar-besaran di ibu kota.
Pihak AS dan Israel menegaskan bahwa operasi ini menargetkan situs-situs militer.
Militer Israel juga mengeluarkan peringatan agar warga sipil Iran menjauhi infrastruktur militer demi menghindari korban jiwa.
Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.
Sumber: Tribun