Prabowo: Saya Sedih Kekayaan Negara Kita Bocor, Banyak Rakyat Miskin!

DEMOCRAZY.ID – Presiden RI Prabowo Subianto mengaku prihatin dan sedih dengan kenyataan bahwa banyak kekayaaan negeri ini bocor.

Hal itu ia sampaikan dalam pidato di acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1).

“Kita sama-sama mengerti dan paham bahwa kita adalah bangsa yang kaya. Setelah saya dipilih dan diangkat menjadi presiden, setelah saya mengambil alih pemerintahan, saya paham, lebih paham, lebih mengerti, atas kekayaan-kekayaan kita,” kata Prabowo.

“Tapi saya harus katakan, saya prihatin, saya sedih dengan kenyataan bahwa banyak kekayaan kita yang tidak pandai kita kelola sehingga banyak kekayaan kita yang bocor,” lanjutnya.

Ia mengatakan, dari dulu mengerti hal ini.

“Tapi saya tidak mengerti seberapa banyak kebocoran itu. Dari tahun ke tahun sebelum saya menjadi Presiden, saya berjuang sebagai ketua umum HKTI. Berjuang sebagai ketua umum sebuah partai. Kenapa? Karena saya melihat ada kejanggalan di bangsa kita,” ujarnya.

Prabowo mengaku banyak rakyat yang miskin.

“Saya melihat sudah beberapa puluh tahun negara yang begini kaya rakyatnya masih banyak yang miskin. Saya tidak dapat menerima di akal sehat saya dan di hati saya, bagaimana negara yang begini makmur, bagaimana negara yang berjuang ratusan tahun untuk merdeka tetapi kekayaannya kurang dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia,” tegasnya.

Prabowo Ingatkan Bahaya Impor Beras: Jangan Berjudi dengan Perut Rakyat

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketergantungan pada impor beras di tengah dunia yang kian bergolak merupakan risiko serius bagi masa depan bangsa.

Dalam Taklimat Awal Tahun pada retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, ia mengingatkan para menteri agar tidak menjadikan kebutuhan pangan rakyat sebagai ajang spekulasi.

Menurut Prabowo, swasembada pangan—terutama beras—bukan sekadar jargon politik, melainkan soal bertahan hidup.

Konflik global yang terus menyala membuat rantai pasok pangan dunia rapuh dan mudah terputus kapan saja.

Ia menyinggung realitas bahwa Indonesia selama ini mengimpor beras dari sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand, Kamboja, dan Vietnam.

Namun, konflik berkepanjangan di kawasan tersebut dinilai membuat ketergantungan impor menjadi pilihan berbahaya.

“Dalam kondisi negara pemasok beras terus berkonflik, aman kah kita menggantungkan perut rakyat pada impor?” tegasnya.

Prabowo juga menyoroti ketegangan India–Pakistan yang berpotensi mengganggu pasokan pangan global.

Pengalaman pandemi COVID-19 dijadikan pelajaran pahit, ketika negara-negara pengekspor menutup keran ekspor meski Indonesia memiliki kemampuan finansial untuk membeli.

Karena itu, Prabowo menyatakan kelegaannya atas capaian Indonesia yang tidak lagi mengimpor beras sepanjang 2025.

Ia bahkan menyebut cadangan beras nasional saat ini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah republik.

Jika pada era Presiden Soeharto cadangan beras pemerintah pernah mencapai 2 juta ton, kini angkanya melampaui 3 juta ton.

Bagi Prabowo, capaian ini bukan sekadar statistik, melainkan fondasi kedaulatan dan jaminan agar negara tidak pernah mempertaruhkan nasib rakyatnya di tengah gejolak dunia.

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya