Prabowo Menggulung IKN Secara Senyap: Warisan Jokowi Yang Direm Pelan-Pelan!

DEMOCRAZY.ID – Ketika Presiden Prabowo Subianto menerbitkan sebuah dekrit yang menggeser status Ibu Kota Nusantara dari national capital menjadi political capital pada 2028, publik mungkin awalnya menganggapnya sebagai permainan istilah.

Namun di balik perubahan nomenklatur itu, ada pergeseran orientasi yang jauh lebih besar daripada sekadar semantik.

Perubahan ini menjadi sinyal bahwa Prabowo sedang memberi jeda—jika bukan jarak—terhadap ambisi Jokowi yang ingin melihat IKN menjadi pusat pemerintahan penuh dalam tempo cepat.

Dalam dekrit tersebut, tidak ada daftar kewajiban yang harus diselesaikan sebelum 2028. Tidak ada tenggat yang mengikat. Tidak ada daftar siapa yang wajib pindah ke sana.

Dekrit hanya memuat “tujuan”, bukan mandat hukum. Artinya, proyek IKN kini berada pada fase simbolik, bukan operasional.

Dan inilah inti persoalan: Prabowo sedang menurunkan ekspektasi tanpa pernah mengucapkan itu secara eksplisit. Sebuah langkah politik yang halus, senyap, namun strategis.

IKN: Dari Proyek Ambisius Menjadi Simbolik

Selama dua tahun terakhir masa pemerintahannya, Jokowi menjadikan IKN sebagai monumen politik.

Targetnya agresif: upacara 17 Agustus 2024, pemindahan awal ASN, hingga mimpi membangun kota futuristik yang konon akan menjadi “smart forest city”. Semua itu kini dipetakan ulang.

Dengan mengubah status IKN menjadi political capital, Prabowo seperti sedang berkata: “Kita jalan, tapi tidak tergesa.”

Tidak ada lagi tekanan untuk merampungkan istana, memindahkan pusat pemerintahan dalam satu gelombang besar, ataupun menggenjot pemindahan ASN dalam jumlah masif.

Keputusan ini membuat pemerintah baru bisa bergerak dengan tempo sendiri, bukan dengan bayang-bayang warisan politik Jokowi.

Ekspektasi publik otomatis turun. Risiko politik pun menurun.

Manuver Diam, Pesan Keras

Prabowo tentu memahami bahwa membatalkan IKN sama sekali akan memantik badai politik.

Namun merelaksasi target, menurunkan status, dan menggeser proyek ke ranah simbolik adalah jalan tengah yang cerdas.

Ia tidak perlu menegasikan Jokowi secara terang-terangan; cukup mengubah kerangka dan ritme.

Andai Jokowi menginginkan IKN sebagai permata mahkota masa pemerintahannya, Prabowo kini memolesnya menjadi lencana yang belum harus berkilau.

Menarik garis halus antara menghormati pendahulu, sekaligus menghapus beban yang tidak rasional.

Dengan tidak adanya aturan main—no rule book—tentang apa yang harus selesai pada 2028, IKN menjelma proyek yang bisa diperlambat tanpa dianggap mangkrak.

Sebuah political cushioning yang menghindarkan Prabowo dari perang opini dan biaya politik.

Ekonomi IKN: Tidak Seindah Brosur

Di sisi ekonomi, realitasnya jauh dari narasi indah. Investasi swasta yang dijanjikan tak kunjung datang dalam skala yang dibanggakan. Infrastruktur dasar pun masih tercecer.

Di luar pembangunan inti, kawasan IKN lebih menyerupai proyek work in progress yang tidak memiliki kepastian transformasi menjadi kota hidup.

Dengan dekrit baru, Prabowo seolah memindahkan IKN dari kategori urgent national project menjadi gradual political project.

Pemerintah tetap bisa menyuntik anggaran, tetapi tanpa kewajiban menghadirkan sebuah ibu kota yang berdenyut pada 2028.

Jalan Sunyi Menuju Reposisi Politik

Inilah yang membuat langkah Prabowo tampak seperti koreografi politik tingkat tinggi.

Ia tidak sedang melawan Jokowi. Ia juga tidak sedang membatalkan IKN. Ia hanya menggeser permainan.

Dengan menyebut IKN sebagai political capital, bukan lagi national capital, Prabowo membuka ruang fleksibilitas: apa pun hasilnya nanti, pemerintah bisa berkata bahwa 2028 memang tidak dimaksudkan sebagai tahun operasional—melainkan tahun simbolik.

Pada akhirnya, publik mungkin membaca keputusan ini sebagai tanda awal: Prabowo mulai menata warisan politiknya sendiri, bukan meneruskan ambisi pendahulunya mentah-mentah.

Dan cara terbaik untuk menapikan keinginan Jokowi adalah dengan mengubah arah tanpa pernah mengatakan bahwa arah itu berubah. Diam, tetapi tegas. Halus, tetapi menghantam.

Sumber: FusilatNews

Artikel terkait lainnya