Prabowo Boneka Jokowi? Jokowi Jangan Dikuyu-Kuyu!

Prabowo Boneka Jokowi? Jokowi Jangan Dikuyu-Kuyu!

Oleh: Syafril Sjofyan | Pemerhati Kebijakan Publik / Aktivis Pergerak 77-78

Jokowi Guru Politik saya. Hidup Jokowi!. Itu semua adalah perkataan yang diteriakkan Prabowo dalam berbagai kesempatan. Terakhir didepan investor asing. Prabowo menyatakan Jokowi Hopeng Prabowo.

Sang Presiden Indonesia ke 8 menyesalkan budaya Indonesia, juga menyesalkan rakyatnya yang mempersoalkan hopengnya. Kok Jokowi di kuyu-kuyu ketika tidak berkuasa lagi.

Karena Jokowi Presiden ke 7 adalah guru Prabowo. Prabowo harus patuh kepada guru. Harus digugu. Harus ditiru. Termasuk suka berbohongnya sang guru. Karena hopeng Presiden Prabowo harus melindungi Jokowi dengan kekuasaannya.

Rakyat harus patuh. Demokrasi omong kosong. Rakyat tidak perlu berpendapat. Mengkritik termasuk mengkuyu-kuyu bekas presiden hopengnya Prabowo.

Jika kemudian bermunculan kasus-kasus dugaan korupsi Jokowi presiden ke 7 hopengnya Prabowo, saat tidak berkuasa lagi. Kala berkuasa mana ada aparat ataupun elit yang berani mengungkap. Apalagi jika kebagian jatah rezeki dan jabatan.

Rakyat Indonesia harus maklum. Prabowo sebagai murid harus melindungi guru. Termasuk pelanggaran hukum gurunya?.

Jokowi hopeng Prabowo..Besti (istilah Gen Z) gimanapun harus dilindungi. Hai rakyat jangan ganggu Jokowi bestinya Prabowo. Kalaupun Silvester Matutina besti Jokowi sudah inkrah melanggar hukum. Tidak bisa ditangkap. Maklumi saja.

Jika ada dugaan korupsi besar keterkaitan Jokowi seperti Whoosh, Chromebook, Dana haji, Pertamina, OCCRP sudahlah diamkan saja. Jokowi hopeng Prabowo.

Jangan persoalkan ucapan para koruptor akan dikejar sampai antartika. Eta mah, sekadar omon-omon saja. Pemanis biar rakyat suka saja.

Hopeng tidak boleh disentuh. Mikul duwur mendem jero. Yang cuci piring kotor ya urusan Presiden sekarang. Rakyat jangan nyinyir!.

Jangan juga contoh negara tetangga ketika mantan Perdana Menteri Najib ditangkap karena korupsi oleh Perdana Menteri penggantinya. Jangan juga contoh beberapa Presiden di negara maju seperti Korea yang menangkap mantan presiden atau Perdana Menterinya yang merugikan negara. Jangan tiru itu di negara maju. Negara Indonesia belum maju.

Rakyat harus maklum. Budayanya memaafkan semua kerugian negara yang diperbuat mantan Presidennya. Supaya negara tidak maju seperti negara maju lainnya. Sekali lagi maafkan saja.

Kemudian ada perintah Jokowi sang hopeng Prabowo; “Agar amankan Prabowo dan anaknya Gibran dua periode!. Walaupun anak kesayangannya tidak punya ijazah SMA, dan tidak berkemampuan. Tentunya Prabowo sebagai besti Jokowi dan guru Prabowo akan nurut mengamankan.

Rakyat diam sajalah. Maklum beliau tersebut hopeng Presiden ke 8. Demokrasi buang jauh-jauh saja. Ini mungkin sudah takdir bagi Republik Indonesia. Ber ijazah palsu, atau tanpa punya ijazah SMA bisa memimpin Indonesia.

Jangan tanya apakah mantan mertua Prabowo Presiden ke II Soeharto, juga guru bagi Prabowo?. Jangan tanya apa Presiden ke V Mega dan ke VI SBY juga sebagai guru bagi Prabowo?. Belum pernah kedengaran teriakan bapak Prabowo.

Dalam setiap kesempatan, Prabowo hanya menyebut Jokowi sebagai guru. Teriakan Hidup Jokowi. Belum ada teriakan hidup SBY! Belum ada teriakan hidup Megawati!. Satu-satunya hanya hidup Jokowi, bahkan dinyanyikan. Benar-benar Jokowi adalah hopeng Prabowo. Besti !!.

Jangan ganggu!. Sudahlah, diam saja!. Atau kalau mau ada lowongan ribuan jabatan komisaris BUMN. Ikut teriak Hidup Jokowi!, Atau jadi relawan Jokowi.

Bukan relawan Prabowo. Mana tahu ada reshuffle jabatan Menduda (eh Menteri muda) bisa terpanggil. Atau bisa dipanggil menjadi Komisaris dengan gaji dan fasiltas besar.

Mari berdoa saja, mungkin Allah belum memberi negara kita Indonesia, pemimpin benar-benar berkualitas, sesuai kata dan tindakan. Walaupun negara kita besar dalam jumlah pulau dan jumlah 285 juta rakyatnya. Hanya yang ada Jokowi, Prabowo dan Gibran saja. Miris. Ya gimana lagi negara kita belum punya pemimpin yang berjiwa besar.

Ya Allah kedepan berikan Indonesia pemimpin yang benar amanah, cerdas, tegas, berani. Bukan yang omon-omon, pemimpin yang sesuai kata dan tindakan. Bukan boneka. Bukan pula yang bodoh berijazah palsu dan bukan pula yang mengaku tamat SMA.

Doa memiliki kekuatan spiritual sebagai senjata terkuat. Mungkin saja kita rakyat kurang berdoa, sehingga belum diberikan pemimpin yang baik, terperangkap dalam lingkaran setan kebodohan.

enar. Kalau doa saja tanpa usaha tidak akan dikabulkan. Contoh dibeberapa negara Gen Z berhasil menumbangkan kekuasaan rezim. Seperti di Nepal. Nah di Nepalkan saja. Walahualam. ***

Artikel terkait lainnya