DEMOCRAZY.ID – Ketua Majelis Syura Partai Ummat Prof. Amien Rais melontarkan kritik keras terhadap era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disebutnya telah melakukan “destruksi total” terhadap Indonesia selama berkuasa dari 2014 hingga 2024.
Dalam video yang diunggah di kanal YouTube-nya pada Rabu (21/1/2026), Amien menuduh Jokowi telah menghancurkan demokrasi dan menyebabkan lonjakan kemiskinan.
Menurutnya, data Bank Dunia per 28 Juni 2025 mencatat 194,6 juta jiwa hidup di bawah garis kemiskinan, sementara standar BPS yang menetapkan garis kemiskinan Rp20.000 per hari dinilainya tidak realistis.
“Keluarga yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan tiga anak dengan Rp100.000 harus bisa hidup. Mungkin masih hidup tetapi hidup dalam subhuman, dalam kondisi setengah manusia,” ujar politikus senior tersebut.
Amien juga mengarahkan tuduhan serius terkait korupsi berskala raksasa yang disebutnya sebagai “state capture corruption”.
Ia menduga pejabat tinggi negara termasuk Jokowi telah dikuasai oligark yang diberi “lampu hijau” untuk mengeruk kekayaan negara.
Mantan Ketua MPR RI ini bahkan mengaitkan penangkapan Bupati Pati, Sudewo, oleh KPK dengan dugaan kasus korupsi Rp42 miliar sebagai cerminan dari “politik bunuh diri” era Jokowi.
“Jangan-jangan mereka hanya meniru apa yang terjadi di Istana kepresidenan semasa Jokowi jadi presiden,” katanya, seraya mengutip pepatah Melayu: “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Data KPK yang disebutkan Amien menyebutkan sejak 2024, lembaga antirasuah tersebut telah menjerat 36 legislator dan 2011 kepala daerah.
Yang mengejutkan, Amien juga menyinggung kekhawatirannya bahwa Presiden Prabowo Subianto berpotensi menjadi “Jokowi jilid dua”.
Ia mempertanyakan keputusan Prabowo yang mengangkat Jokowi sebagai penasihat Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
“Apakah Prabowo meneruskan politik bunuh diri Jokowi atau tidak? Kita bisa lihat dari langkah-langkah Prabowo. Saya lihat ada potensi sampai batas tertentu, Prabowo bakal menjadi Jokowi jilid dua,” tandas Amien.
Politikus 81 tahun itu menutup pernyataannya dengan harapan agar Prabowo benar-benar bisa “mengucapkan selamat jalan” kepada Jokowi dan tidak membiarkan mantan presiden itu terus memberikan pengaruh yang disebutnya “sangat destruktif” bagi masa depan Indonesia.
Sumber: JakartaSatu