Politikus Gerindra Mempertanyakan Gelar Pahlawan untuk Soeharto, Ungkap Alasan Ini!

DEMOCRAZY.ID – Politikus Partai Gerindra sekaligus mantan aktivis 1998, Pius Lustrilanang, menulis refleksi tajam menanggapi wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden Soeharto.

Dalam tulisannya berjudul “Jika Soeharto Jadi Pahlawan, Lalu Kami Ini Siapa?”, Pius mengungkapkan kegelisahan batinnya sebagai salah satu korban penculikan dan penghilangan paksa pada masa akhir Orde Baru.

“Setiap kali wacana pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto kembali dihembuskan, dada saya terasa sesak,” tulis Pius, Senin (10/11/2025).

“Jika Soeharto diangkat jadi pahlawan, lalu kami ini siapa? Kami yang dulu diculik, disiksa, dibungkam, dan dituduh makar hanya karena menuntut demokrasi — apakah kami harus menulis ulang sejarah kami sendiri sebagai pengkhianat republik?”

Mantan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu menegaskan bahwa luka masa lalu para aktivis belum pernah benar-benar diakui negara.

Ia mengingatkan bahwa laporan Komnas HAM tahun 2006 telah menyatakan kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis 1997–1998 sebagai pelanggaran HAM berat.

Namun hingga kini, negara belum pernah menyampaikan permintaan maaf resmi maupun menuntaskan kasus tersebut.

“Kami tidak menuntut balas, hanya kebenaran. Kami tidak ingin gelar, hanya pengakuan bahwa apa yang kami perjuangkan bukan kesalahan,” tegas Pius.

Pius menilai, rekonsiliasi sejati tidak bisa dilakukan dengan menghapus dosa tanpa pengakuan kesalahan.

Bangsa, menurutnya, tidak akan pernah sembuh jika menabur bunga di atas luka yang belum tertutup.

“Saya tidak menolak rekonsiliasi. Tapi rekonsiliasi sejati hanya mungkin lahir dari kejujuran,” tulisnya.

Dalam pandangannya, Soeharto memang tokoh besar, tetapi pahlawan nasional seharusnya mencerminkan teladan moral, bukan sekadar keberhasilan politik dan ekonomi.

“Pahlawan adalah teladan moral yang memberi ruang bagi kebebasan berpikir, bukan yang menakutinya. Bila Soeharto diangkat jadi pahlawan tanpa evaluasi moral, bangsa ini sedang memutihkan kekuasaan dengan tinta amnesia,” ujar Pius.

Ia menutup tulisannya dengan peringatan agar bangsa Indonesia tidak kehilangan arah dalam memahami sejarah dan makna keadilan.

“Soeharto mungkin tokoh besar. Tapi sampai bangsa ini berani menatap sejarah dengan jujur, gelar ‘pahlawan’ akan terdengar lebih seperti ironi daripada penghargaan,” pungkasnya.

Sumber: RadarAktual

Artikel terkait lainnya