DEMOCRAZY.ID – Pakar telematika Roy Suryo mengaku telah mengendus perubahan manuver aktivis Eggi Sudjana dalam polemik keabsahan ijazah Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sejak April 2025 lalu.
Awalnya, Roy menyoroti video yang beredar di media sosial TikTok di mana Eggi menandatangani sebuah buku yang akan diberikan kepada Jokowi.
Dalam video itu, terlihat Eggi —yang menjadi salah satu tersangka dalam laporan Jokowi terkait tudingan ijazah palsu— justru memuji ayah Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
Eggi menyebut Jokowi sebagai sosok yang cerdas, berani, dan militan atau disingkat CBM,
“Ini saya tandatangani untuk saudaraku seiman se-Islam Bapak Joko Widodo. Insya Allah beliau itu CBM, cerdas, berani, militan,” ujar Eggi dalam video, dikutip Selasa (13/1/2026).
Menurut Roy, video TikTok Eggi yang memuji Jokowi tersebut sudah beredar pada Desember 2025 lalu, bukan saat Eggi dan tersangka laporan Jokowi lainnya, Damai Hari Lubis, bertandang ke kediaman Jokowi di Solo pada Kamis (8/1/2026).
Namun, kata Roy, video itu memang disebarkan berbarengan dengan kunjungan Eggi dan Damai Hari ke rumah Jokowi.
Kemudian, dia menyebut, ada orang-orang Jokowi yang turut terlihat dalam video itu, yakni anggota Relawan Jokowi (ReJo) Muhammad Rahmad dan HM Darmizal.
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga RI (Menpora) itu pun mengklaim, Muhammad Rahmad dan HM Darmizal dulu merupakan orang-orang yang ikut menggoyang Partai Demokrat.
Khususnya, saat menolak kepemimpinan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sekaligus mendukung Moeldoko sebagai pimpinan partai pada 2021 silam melalui Kongres Luar Biasa (KLB) di Sibolangit, Sumatera Utara.
“Ada juga video yang beredar di TikTok, buku yang ditulis [Eggi], ada CBM-nya, itu kan ternyata videonya sudah lama, video di bulan Desember tahun lalu,” jelas Roy dalam program Madilog yang tayang di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (13/1/2026).
“Jadi artinya itu tidak pada peristiwa kemarin.”
“Dalam video itu tampak si Muhammad Rahmad itu sebagai orang ReJo, relawannya Jokowi. Satu lagi orang ReJo yang ikut serta dalam mereka mengantar kemarin, itu kan namanya HM Darmizal.”
“Padahal yang kita tahu, yang saya tahu selain ReJo, mereka itu kan termasuk orang-orang yang dulu ikut dalam menggoyang Partai Demokrat. Demokrat-nya Moeldoko itu.”
Roy juga menyimpulkan, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis diantarkan ke kediaman Jokowi di Solo pekan lalu oleh mantan orang Demokrat yang kini mendukung Presiden RI ke-7 periode 2014-2019 dan 2019-2024 itu.
“Sekarang benang merahnya sebenarnya ketahuan kan, mereka orang-orang Jokowi yang dulu digunakan di Sibolangit, sekarang mengantarkan Damai Hari Lubis dan Eggi Sudjana ke sana,” tutur Roy.
Selanjutnya, Roy Suryo menyatakan, manuver Eggi Sudjana sudah terasa sejak April 2025.
Khususnya saat Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) mendatangi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta pada 15 April 2025, menuntut klarifikasi dan dugaan keabsahan ijazah Jokowi.
Saat itu, kata Roy, Eggi Sudjana tiba-tiba membatalkan keikutsertaannya. Padahal, Eggi Sudjana berstatus sebagai Ketua Umum TPUA.
“Mungkin bukan hanya semenjak Desember [Eggi Sudjana balik kanan, red],” papar Roy.
“Kalau orang mulai sadar, sebenarnya semenjak 15 April itu juga sudah menjadi pertanyaan.”
“Pada tanggal 15 April, kalau kita mau ingat ya, ketika rombongan TPUA itu bermaksud mendatangi Universitas Gajah Mada, mereka kan dalam satu bus besar.”
“Ternyata pada saat berangkat, last minute, Bang Eggi ternyata tidak ikut.”
Roy Suryo dan Eggi Sudjana sama-sama ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya pada Jumat (7/11/2025) lalu, terkait laporan yang dilayangkan Jokowi buntut tudingan ijazah palsu.
Namun, mereka yang ramai mempermasalahkan keabsahan ijazah Jokowi berada dalam kluster berbeda bersama enam tersangka lain, dengan sangkaan pasal yang berbeda:
Belakangan, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis melakukan manuver atau berubah arah.
Kuasa hukum Eggi Sudjana, Elida Netti, mengaku telah memegang ijazah Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat ditunjukkan Polda Metro Jaya dalam gelar perkara khusus, Senin (15/12/2025) lalu.
Saat itu, Elida mengaku, menyentuh ijazah Jokowi dan mengklaim ada emboss dan watermark pada dokumen tersebut, sehingga menurutnya tidak diragukan lagi keasliannya.
Elida mengaku, merinding dan terharu ketika melihat langsung dokumen yang selama ini menjadi sumber polemik berkepanjangan tersebut.
Menurut kesaksiannya, fisik ijazah yang diperlihatkan memiliki fitur keamanan otentik yang membantah tudingan pemalsuan.
“Waktu map digunting, saya deg-degan. Ya Allah, akhirnya yang kita perdebatkan sekian tahun, sekarang ada sosoknya di depan mata. Saya melihat, saya merinding dan terharu,” ujar Elida saat berbincang di tayangan Channel YouTube Cumicumi, Jumat (19/12/2025).
Elida menceritakan, detik-detik saat penyidik membuka map penyitaan barang bukti tertanggal 23 Juni yang di dalamnya terdapat ijazah SMA dan S1 milik Jokowi.
Meski peserta dilarang menyentuh, Elida dan beberapa rekan pengacara dari klaster satu berusaha mendekat untuk memastikan keasliannya.
“Saya tusuk (tahan) dengan ujung jari saya. Saya pegang, ada emboss (huruf timbul), ada watermark, dan ada lintasan stempel,” ungkap Elida secara rinci.
Ia juga menambahkan detail kondisi fisik kertas yang menunjukkan usia dokumen tersebut.
“Di bagian bawahnya itu sudah robek-robek, mungkin karena sudah lama sekali. Kertas tua. Jadi bagi saya, itu adalah aslinya, bukan sekadar fotokopi,” tegasnya.
Kemudian, Eggi Sudjana bersama kuasa hukumnya, Elida Netti, dan sesama tersangka, Damai Hari Lubis, mendatangi rumah Jokowi di Sumber, Solo, Jawa Tengah pada Kamis (8/1/2026).
Pertemuan Eggi cs dan Jokowi digelar tertutup dan tidak terdokumentasi.
Namun, menurut Sekjen ReJO Prabowo–Gibran, Muhammad Rahmad, pertemuan berlangsung mengharukan, serta Eggi dan Jokowi dikabarkan sempat berpelukan.
“Saat pertemuan tidak ada foto dan video, namun sangat mengharukan. Karena pertemuan sangat terbatas dan tertutup, tidak sempat mendokumentasikan. Namun saya menyaksikan sendiri bagaimana Pak Eggi dan Pak Hari Damai Lubis berpelukan dengan Pak Jokowi sangat erat,” terang Rahmad saat dihubungi, Jumat (9/1/2026).
Rahmad yang ikut mendampingi mengaku turut terharu dengan adanya pertemuan ini.
Sebab, Eggi Sudjana sebelumnya menjadi salah satu pihak yang menuduh ijazah Jokowi palsu, sehingga berujung pada status tersangka pencemaran nama baik.
“Kami yang menyaksikan turut berkaca-kaca. Pertemuan Pak Eggi Sudjana dan Pak Hari Damai Lubis dengan Pak Jokowi adalah pertemuan patriotik yang patut menjadi suri teladan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas Rahmad.
Selain itu, Eggi Sudjana juga disebut-sebut menyampaikan permintaan maaf kepada Jokowi.
Namun, Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie menegaskan bahwa proses hukum tetap harus dijalankan, meski permintaan maaf seperti ini wajar diterima dalam interaksi antar manusia.
“Ya namanya kita kehidupan sesama namanya ada orang mau minta maaf tentu kita terima ya masak nggak kita terima. Tapi kalau ada pelanggaran hukum itu masalah yang tetap harus diperhatikan,” ujar Grace di kediaman Jokowi pada Jumat (9/1/2026).
Grace menekankan bahwa kebebasan berekspresi tidak boleh merugikan orang lain.
Menurutnya, setiap tindakan yang mencemarkan nama baik perlu diproses melalui jalur hukum.
“Harus dong. Bukan soal Pak Jokowi saja. Kita punya kebebasan untuk berpendapat. Tapi kebebasan kita bukan tanpa batas. Kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Dan itu harus dijamin negara ini,” tuturnya.
Wanita berusia 43 tahun ini menambahkan, penegakan hukum bukan hanya penting untuk kasus Eggi Sudjana, tetapi juga untuk memberikan kepastian bagi seluruh warga negara, agar tidak ada pihak yang sembarangan merugikan kebebasan orang lain.
“Kalau nggak orang akan seenaknya mencederai kebebasan orang lain. Proses hukum yang sudah berjalan kita hormati. Agar ada kepastian. Bukan untuk Pak Jokowi saja, tapi untuk seluruh orang di Indonesia, agar tidak dengan semena-mena bisa dicederai,” jelasnya.
Sumber: Tribun