Pesan Terakhir Yang Membakar Semangat Juang: 8 Jam Sebelum Syahidnya Dr. Ali Larijani

DEMOCRAZY.ID – Dr. Ali Larijani, seorang negarawan senior, filsuf, sekaligus ahli strategi politik Republik Islam Iran, gugur sebagai martir pada Senin malam dalam serangan agresi Amerika Serikat dan Israel.

Kabar tersebut diumumkan pada Selasa malam oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), lembaga yang ia pimpin sejak Agustus tahun lalu.

Dalam serangan yang sama, putra mudanya, Mortaza Larijani, Wakil Keamanan SNSC Alireza Bayat, serta sejumlah pengawal juga turut gugur.

Serangan ini terjadi 18 hari setelah Amerika Serikat dan rezim Israel melancarkan agresi tanpa provokasi terhadap Iran.

SNSC menyebut kemartiran Larijani sebagai “impian lama” yang akhirnya tercapai, setelah perjuangan panjangnya untuk memajukan negara dan Revolusi Islam.

Kepemimpinannya di bidang keamanan selama perang yang sedang berlangsung melawan agresi Israel dan Amerika dinilai luas dan berperan besar dalam memberikan kerugian militer maupun ekonomi yang signifikan kepada pihak lawan.

Sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, dan Kepala Kehakiman Mohseni Ejei, menyampaikan belasungkawa serta bersumpah akan membalas kematiannya.

Perjalanan Jabatan dan Karier

Ali Larijani dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengalaman dalam struktur politik dan keamanan Iran.

Ia kembali diangkat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi pada Agustus 2025, jabatan yang pernah ia pegang hampir dua dekade sebelumnya.

Penunjukannya menekankan perannya dalam pengawasan yang cermat, membangun sinergi antar lembaga, serta menghadapi ancaman teknologi baru dengan pendekatan yang cerdas dan berorientasi pada rakyat.

Ia menggantikan Jenderal Ali Akbar Ahmadian setelah terjadinya perubahan besar pasca agresi 12 hari oleh Israel dan Amerika terhadap Iran.

Larijani lahir pada 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga ulama terkemuka asal Iran.

Ayahnya, Ayatollah Mirza Hashem Amoli, merupakan ulama terkemuka yang sempat mengasingkan diri ke Najaf akibat tekanan rezim Shah sebelum kembali ke Iran pada 1961.

Latar Belakang Akademik

Perjalanan akademiknya mencerminkan kedalaman intelektualnya. Ia awalnya menempuh studi matematika dan ilmu komputer di Universitas Teknologi Sharif.

Namun, setelah berkonsultasi dengan ulama terkenal Morteza Motahhari—yang kemudian menjadi mertuanya—Larijani beralih ke filsafat Barat.

Ia meraih gelar magister dan doktor filsafat di Universitas Teheran, dengan disertasi yang membahas filsuf Jerman abad ke-18, Immanuel Kant.

Sosok Multitalenta

Larijani memiliki karier panjang di berbagai bidang, mulai dari militer, media, hingga politik.

Ia memulai karier di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan mencapai posisi wakil komandan pada dekade 1980-an, saat perang Iran-Irak berlangsung.

Namanya semakin dikenal ketika memimpin lembaga penyiaran nasional IRIB selama satu dekade (1994–2004), yang ditandai dengan pengembangan program domestik.

Pada 2005, Presiden Mahmoud Ahmadinejad menunjuknya sebagai Sekretaris SNSC sekaligus negosiator utama program nuklir Iran. Di bawah kepemimpinannya, Iran melanjutkan pengayaan uranium yang kemudian memicu sanksi internasional.

Ia mengundurkan diri pada 2007 akibat perbedaan pandangan dengan Ahmadinejad. Setelah itu, ia terpilih menjadi anggota parlemen dari Qom pada 2008 dan menjabat sebagai Ketua Parlemen selama tiga periode berturut-turut hingga 2020.

Selama masa tersebut, ia berperan penting dalam pembentukan kebijakan dalam negeri dan luar negeri, termasuk persetujuan parlemen terhadap kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 (JCPOA).

Peran Politik dan Strategis

Pada 2020, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei menunjuknya sebagai penasihat senior serta anggota Dewan Kebijakan Strategis.

Larijani juga pernah mencalonkan diri sebagai presiden pada 2005, meski hanya menempati posisi keenam.

Meski demikian, ia tetap aktif berperan dalam berbagai isu strategis. Setelah perang 12 hari, ia sempat melakukan kunjungan ke Moskow dan bertemu Presiden Vladimir Putin untuk membahas program nuklir Iran serta ketegangan kawasan.

Sebagai Sekretaris SNSC, ia menghadapi berbagai tantangan besar baik di dalam maupun luar negeri, termasuk memperkuat sistem pertahanan nasional melalui pembentukan dewan pertahanan baru.

Warisan Pemikiran dan Akhir Hayat

Latar belakang filsafatnya sering tercermin dalam pidato-pidatonya, di mana ia memandang tantangan Iran dari sudut pandang moral dan sejarah.

Kini, ia disebut telah bergabung dengan para martir besar lainnya, termasuk pemimpin dan mentornya, Ayatollah Khamenei, tepat 18 hari setelah wafatnya sang pemimpin.

Dalam unggahan terakhirnya di media sosial, menanggapi ancaman pembunuhan terhadap dirinya, Larijani memberikan orasi dalam bentuk teks yang menggugah jiwa para pejuang muda.

Kurang lebih Terjemahannya sebagai berikut:

Terjemahan dari tweet dan isi surat yang terlihat pada gambar:

🟢 Tweet oleh Ali Larijani

“Pada kesempatan upacara pelepasan para pelaut Angkatan Laut Republik Islam Iran: Kenangan mereka akan selalu hidup di hati rakyat Iran. Pengorbanan (kesyahidan) ini akan menjadi fondasi bagi kekuatan Republik Islam selama bertahun-tahun dalam struktur angkatan bersenjata. Saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Tinggi derajat yang tinggi bagi para syuhada tercinta ini.”

📝 Isi Surat (tulisan tangan)

“Dengan nama Tuhan
Kepada saudara-saudara seperjuangan…
Kehidupan adalah ujian, dan kematian adalah bagian dari jalan ini.
Janganlah bersedih, karena ini adalah takdir Ilahi.
Kesabaran dan keteguhan kalian akan menjadi penjaga jalan ini.
Saya memohon agar kalian tetap kuat dan tidak meninggalkan perjuangan.
Suatu hari kita akan bertemu kembali.

Salam saya kepada kalian semua.
Jangan lupakan jalan para syuhada.”

Artikel terkait lainnya