Persoalan Kerugian Kereta Cepat Whoosh Dikuliti Habis-Habisan di Jepang!

DEMOCRAZY.ID – Polemik terkait kereta cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) sepertinya sudah jadi sorotan dunia.

Salah satu netizen di media sosial X dengen akun @RikeSants membagikan video sorotan dari Jepang soal Whoosh.

Ia menyematkan caption dalam unggahannya ini yang menyebut Jepang merasa bersyukur.

Jepang disebut sangat bersyukur karena gagal mendapatkan proyek ini dan justru dikerjakan di Indonesia.

“Whoosh dibahas Jepang 😌 mereka sepertinya justru bersyukur ga dapat proyek ini kemarin,” tulis akun tersebut.

Sementara itu, dalam unggahan video yang dibagikan terlihat seorang Reporter Stasiun televisi yang membahas soal Woosh.

Ada pernyataan menarik sekaligus menyinggung yang dilontarkan terkait proyek ini.

Sang reporter menyebut kekalahan Jepang dalam proyek ini disebut sebagai sesuatu yang bagus.

“Pasti mending Shinkansen Jepang lah, tapi sepertinya kekalahan kita di lelang tersebut adalah hal yang bagus,” ungkap sang reporter.

“Dari pihak China juga sepertinya sudah sangat kewalahan, ini sudah menjadi sejarah kelam bagi mereka,” tambahnya.

Sindiran juga dilontarkannya terkait pikiran China soal proyek ini yang dianggap merugikan.

“Wahhh kalau tau akan begini harusnya kita gak usah menang lelang waktu itu,” terangnya.

Disebutkan pula okupansi penumpang hanya 1/3 atau 1/4 dari total kursi yang tersedia jauh dari target yang diharapkan.

Sebagai tambahan informasi, keuangan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) berdarah-darah.

Beban berat pembayaran utang plus bunga ke pihak China, ditambah biaya operasional tinggi, membuat perusahaan merugi triliunan.

PT KCIC adalah perusahaan operator Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) alias Whoosh.

Praktis, kerugian PT KCIC harus ditanggung empat perusahaan BUMN Indonesia yang terlibat di dalamnya.

4 BUMN Indonesia membentuk konsorsium perusahaan patungan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

PT PSBI ini kemudian menjadi pemegang saham mayoritas di PT KCIC.

Sebagian besar pembiayaan proyek KCJB memang bersumber dari pinjaman China Development Bank (CDB).

Sementara sisanya ditopang oleh APBN, serta penyertaan modal gabungan antara BUMN Indonesia dan perusahaan asal China yang terlibat dalam pembangunan.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya