DEMOCRAZY.ID – Geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan kini memasuki tahap yang jauh lebih berbahaya.
Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan militer skala besar ke Iran pada Sabtu, (28/2/2026), termasuk ke ibu kota Teheran, yang kemudian memicu lonjakan kekhawatiran pasar global.
Situasi makin panas setelah muncul laporan resmi yang awalnya diumumkan oleh Presiden AS Trump dan kemudian dikonfirmasi oleh media Iran bahwa pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi yang disebut Trump sebagai “Operation Epic Fury”.
Eskalasi ini membuka risiko yang lebih besar, mulai dari gejolak harga minyak, tekanan inflasi global, hingga meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan dan politik dunia.
Apabila konflik terus membesar dan berlangsung berkepanjangan, dunia bisa menghadapi sederet dampak buruk yang tidak kecil.
Salah satu dampak paling nyata dari memanasnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah adalah kenaikan harga minyak dunia.
Hal ini wajar mengingat kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi dan jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Ketika tensi militer meningkat, pasar cenderung bereaksi akan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan, sehingga harga minyak terdorong naik.
Melansir data Refinitiv, pada Senin (2/3/2026) per pukul 10.00 WIB harga minyak global mengalami kenaikan tajam sebagai respon tersebut.
Harga minyak Brent tercatat US$76,43 per barel, sedangkan WTI berada di level US$70,05 per barel.
Posisi ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan penutupan Jumat (27/2/2026) ketika Brent masih berada di US$72,48 per barel dan WTI di US$67,02 per barel.
Lonjakan harga ini juga dipicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan penghubung vital antara negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk Persia dengan pasar internasional, sehingga menjadi salah satu rute perdagangan energi paling strategis di dunia.
Selat Hormuz memiliki peran yang sangat besar dalam perdagangan energi global. Sekitar 22% pasokan minyak dunia, atau hampir seperempat total pasokan global, melintasi jalur ini.
Bukan hanya minyak, sekitar 20% perdagangan gas alam cair LNG dunia juga melewati Selat Hormuz pada 2022.
Artinya, ketika muncul kekhawatiran bahwa selat ini berpotensi ditutup atau terjadi ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas, pasar langsung merespons dengan kenaikan harga minyak.
Risiko gangguan pasokan menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga komoditas energi tersebut.
Meski demikian, arah pergerakan harga minyak ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan konflik.
Semakin lama ketegangan berlangsung dan semakin besar risiko gangguan distribusi energi, maka semakin besar pula peluang harga minyak bertahan tinggi atau bahkan kembali melanjutkan kenaikan.
Kenaikan harga minyak berpotensi langsung dalam mendorong terjadinya inflasi yang makin tinggi.
Lonjakan harga minyak menjadi ancaman serius bagi inflasi karena energi adalah komponen dasar bagi hampir seluruh kegiatan ekonomi.
Saat harga minyak naik, ongkos angkut dan biaya produksi ikut meningkat.
Pada akhirnya, kenaikan biaya ini biasanya diteruskan ke harga jual barang dan jasa, sehingga harga harga di masyarakat ikut naik.
IMF pernah mencatat bahwa kenaikan 10% harga minyak global rata rata dapat mendorong inflasi domestik sekitar 0,4 poin persentase pada awal dampaknya.
Contoh nyatanya terlihat saat perang Rusia dan Ukraina pecah pada 2022.
Perang tersebut memicu guncangan besar di pasar komoditas global dan mendorong kenaikan harga energi paling tajam sejak krisis minyak 1973.
Kenaikan harga komoditas itu kemudian ikut memperparah tekanan inflasi global.
Artinya, jika konflik geopolitik kembali memicu lonjakan harga minyak, ancamannya bukan hanya pada pasar energi, tetapi juga pada harga barang secara umum.
Jika kondisi ini berlangsung lama, daya beli masyarakat bisa tergerus dan tekanan inflasi akan semakin sulit dikendalikan.
Dampaknya juga akan terlihat pada suku bunga global. Ketika inflasi tinggi, bank sentral cenderung menahan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya.
Pada akhirnya, kondisi ini dapat menekan aktivitas ekonomi dan memperlambat pertumbuhan ekonomo global.
Dampak lain yang juga terasa adalah penguatan dolar AS di pasar global.
Hal ini tercermin dari pergerakan indeks dolar AS atau DXY, yakni indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.
Pada perdagangan pagi ini, DXY terpantau menguat 0,20% ke level 97,800. Dolar juga diuntungkan oleh statusnya sebagai aset aman ketika sentimen risiko pasar memburuk.
Menguatnya DXY menandakan aset berdenominasi dolar kembali diburu investor.
Saat ketidakpastian global meningkat, pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, dan dolar AS menjadi salah satu tujuan utama.
Kondisi ini kemudian menekan mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Rupiah melemah 0,42% ke level Rp16.830/US$ pada pagi ini, Senin (2/3/2026), setelah pada perdagangan sebelumnya melemah 0,06% di level Rp16.760/US$.
Pelemahan juga terjadi pada mata uang Asia lainnya, mulai dari ringgit Malaysia hingga won Korea Selatan yang terpantau ikut melemah.
Dengan kata lain, jika tensi geopolitik terus meningkat, penguatan dolar AS berpotensi berlanjut.
Dampaknya bukan hanya pada nilai tukar, tetapi juga dapat menambah tekanan di pasar keuangan negara berkembang yang sensitif terhadap arus modal dan perubahan selera risiko investor.
Eskalasi konflik geopolitik juga memicu volatilitas di pasar saham global.
Ketika ketidakpastian meningkat, investor biasanya cenderung melepas aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Akibatnya, bursa saham di berbagai kawasan bergerak di zona merah.
Pasar saham Asia pada Senin (2/3/2026) menjadi lautan merah. Indeks Nikkei 225 Jepang misalnya, terpantau turun 1,34% ke level 58.059,16 pada pukul 11.10 WIB.
Tekanan juga terjadi di bursa Asia lainnya. Hang Seng Hong Kong dan Straits Times Singapura masing masing turun 2,6% dan 2,1%.
Sementara itu, NZX 50 Selandia Baru, Shanghai Composite China, FTSE Bursa Malaysia KLCI, dan Taiwan Weighted Index juga tercatat melemah di kisaran 0,4% hingga 1,5%.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah sekitar 1,85% di level 8.088.
Koreksi di pasar saham ini menunjukkan bahwa sentimen risk off kembali mendominasi pasar global.
Jika konflik terus berlanjut dan harga komoditas terutama minyak semakin melonjak, volatilitas di bursa dunia berpotensi bertahan lebih lama.
Investor pun akan terus mencermati arah konflik, dampaknya terhadap inflasi, serta kemungkinan respons bank sentral ke depan.
Sumber: CNBC