Layar televisi di ruang-ruang publik masih menampilkan visual yang sama: gempuran udara di langit Teheran dan deru mesin perang di Teluk Persia. Perang yang melibatkan poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memasuki pekan pertama sejak pecah 28 Februari 2026 lalu. Namun, di balik dentuman mesiu, sebuah pertanyaan besar menggantung di langit geopolitik: Untuk kepentingan siapa perang ini sebenarnya dikobarkan?
Pekan ini, dunia seolah menahan napas. Klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Iran menyimpan senjata nuklir menjadi ‘bensin’ utama serangan masif ke Teheran.
Padahal, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi sudah tegas membantah tuduhan itu. “Apakah mereka memiliki senjata nuklir? Tidak,” tegas Grossi di hadapan media internasional, Selasa (3/3/2026).
Lantas, jika nuklir hanyalah dalih, mengapa Washington rela melanggar Piagam PBB dan hukum internasional? Jawaban atas pertanyaan ini membawa kita pada sebuah narasi klasik yang pernah diungkap oleh tokoh industri otomotif paling berpengaruh di dunia: Henry Ford.
Jauh sebelum rudal-rudal AS meluncur ke Timur Tengah, Henry Ford –pendiri Ford Motor Company– telah mencium aroma kuat pengaruh kelompok tertentu dalam pengambilan kebijakan di Amerika.
Melalui surat kabar miliknya, The Dearborn Independent, Ford mempublikasikan seri artikel bertajuk ‘Yahudi Internasional’ antara tahun 1919 hingga 1927.
Tulisan Ford yang paling menghebohkan adalah ulasannya mengenai The Protocols of Zion.
Di dalamnya, Ford membedah konspirasi dominasi dunia melalui opini publik yang dikendalikan oleh kekuatan pers dan finansial.
Akibat keberaniannya, Ford tak hanya dihujani label antisemitisme dan rasis, tapi juga mengalami nasib tragis. Maret 1927, Ford mengalami kecelakaan mobil misterius yang hampir merenggut nyawanya.
Meski diklaim sebagai kecelakaan biasa, banyak pihak menduga itu adalah upaya pembunuhan terencana untuk membungkam pemikirannya.
Buku Ford, The International Jew, sempat terjual 10 juta kopi sebelum akhirnya dikumpulkan dan dimusnahkan oleh kelompok-kelompok yang merasa terganggu.
Namun, pemikiran Ford tidak mati. Bagi Ford, kebenaran dari ‘Protokol’ tersebut tidak butuh debat panjang.
“Semuanya sesuai dengan apa yang tengah terjadi di dunia saat ini,” tulisnya dalam otobiografi My Life and Work (1922).
Kini, ucapan Ford seolah mendapatkan verifikasi di lapangan. Di saat Trump mengeklaim perang ini demi keamanan rakyat AS, data berbicara sebaliknya.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos dan CNN menunjukkan mayoritas rakyat AS (sekitar 43 hingga 59 persen) justru menolak perang ini. Hanya sekitar satu dari empat warga Amerika yang setuju menggempur Iran.
Jika rakyat AS tidak setuju, lantas suara siapa yang didengar Trump?
Jawaban jujur justru datang dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Di Gedung Capitol, Rubio secara implisit mengakui bahwa serangan ke Teheran adalah tindakan antisipatif untuk melindungi pasukan AS setelah Israel memutuskan untuk menyerang terlebih dahulu.
“Sudah sangat jelas jika Iran diserang oleh siapa pun –AS atau Israel– Iran akan membalas kepada pasukan AS,” ujarnya.
Pernyataan ini mempertegas bahwa posisi AS dan Israel saat ini tak ubahnya dua sisi mata uang yang mustahil dipisahkan.
Kebijakan luar negeri Washington nampak sangat dipengaruhi oleh kepentingan strategis Tel Aviv, persis seperti yang dikhawatirkan Ford seabad silam.
Perang di Timur Tengah hari ini bukan sekadar urusan kedaulatan, melainkan panggung verifikasi atas sejarah panjang pengaruh kelompok kepentingan di Gedung Putih.
Saat ribuan nyawa menjadi taruhan di Iran, buku The International Jew karya Henry Ford kembali relevan untuk dibaca ulang.
Bukan sebagai alat kebencian, melainkan sebagai kacamata untuk melihat: benarkah kebijakan sebuah negara adidaya murni demi rakyatnya, atau sekadar menjalankan agenda tersembunyi yang sudah tertulis sejak lama?
Sejarah mungkin bisa dibungkam dengan memusnahkan buku, namun realitas di medan perang sulit untuk berbohong.
Sumber: Inilah