‘Pengkhianat Negara Yang Dijadikan Dewa’

‘Pengkhianat Negara Yang Dijadikan Dewa’

Oleh: Sholihin MS | Pemerhati Sosial dan Politik

TERUNGKAPNYA kasus Bandara China IPMI di Morowali yang lepas sama sekali dari pengawasan otoritas Pemerintah RI membuka satu lagi tindakan pengkhianatan Jokowi terhadap negara.

Bandara itu, termsuk proyek PIK, Pulau Reklamasi, Pagar laut, dan kemungkinan masih ada lagi yang belum terbongkar, adalah nyata-nyata seperti membangun negara dalam negara.

Ini adalah sebuah pengkhianatan terhadap kedaulatan negara RI secara nyata.

Bandara itu bukan saja dipenuhi para TKA China ilegal, tapi juga seluruh pejabat Indonesia tidak bisa masuk ke area ini, mungkin hanya Jokowi dan Luhut yang bisa masuk yang dianggap antek mereka, bahkan konon Kapolri dan Ketua DPR juga tidak bisa masuk.

Perampasan kedaulatan negara yang benar-benar mencolok di depan mata pun masih terus terjadi, bahkan Jokowi dan Luhut malah sengaja membiarkan China menjajah Indonesia.

Kalau tindakan semacam ini tidak layak disebut pengkhianat bangsa dan negara, lalu sebutan apa yang pantas untuk Jokowi dan Luhut?

Jika saja Indonesia itu masih sebagai negara berdaulat, Jokowi dan Luhut sudah seharusnya dihukum mati.

Dari awal hingga akhir, sepertinya seluruh perbuatan Jokowi selalu merugikan bangsa dan negara.

Coba kita ungkap beberapa tindakan biadab Jokowi berikut ini :

Pertama, menggunakan ijazah palsu untuk mendaftar jadi Presiden (hampir dipastikan juga ketika mendaftar sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI)

Kedua, memalsukan persyaratan Gibran jadi Wapres dengan penipuan dan rekayasa (hukum).

Ketiga, seluruh aturan hukum yang berlaku telah dirubah demi menyelamatkan diri, keluarga, dan oligarki Taipan.

Keempat, melakukan mega korupsi hampir di semua proyek yang ditangani (tambang, IKN, kereta cepat Whoosh, PIK, quota haji, dll)

Kelima, memalak para menteri dan kepalah daerah yang harus setor yang jumlahnya dari miliar sampai triliunan.

Keenam, mengendalikan para mafia, bandar judi (terutama _online_), peredaran narkoba, dll agar bisa setor setiap saat dalam jumlah yang sangat besar.

Ketujuh, ,engembat berbagai dana umat mulai dari dana haji, bpjs, asabri, taspen, dll.

Kedelapan, menyandera para menteri, ketum Parpol, bahkan Kapolri dengan melibatkan kedalam berbagai kasus korupsi agar mereka bisa dikendalikan dan tunduk kepada dirinya.

Kesembilan, diduga sebagai otak pembunuhan 6 laskar FPI, 894 petugas KPPS, tragedi kanjuruhan, para ulama, ustadz dan aktivis demokrasi.

Kesepuluh, menjual atau menggadaikan negara kepada China demi kepentingan pribadi (melalui berbagai pembangunan fasilitas kepentingan China dan masuknya para TKA China secara ilegal).

Kesebelas, menindas rakyat sendiri dengan berbagai program tipu-tipu (vaksin, pajak, kenaikan BBM, dll) demi kepentingan diri dan oligarki Taipan.

Keduabelas, melakukan kecurangan Pilpres 2024 dengan memenangkan Paslon Prabowo-Gibran demi membuat sabotase dan menyandera pemerintahan Prabowo.

Tak ada satu pun kebaikan Jokowi bagi negeri ini, sebaliknya seluruh kejahatannya sudah seharusnya diproses hukum secara adil.

Para penegak hukum demi menjalankan amanah Tuhan dan rakyat harus berani memproses hukum Jokowi.

Begitu biadabnya Jokowi, tapi kenapa terus dipuja-puja bahkan dijadikan dewa?

Waraskah pera pemuja Jokowi? ***

Artikel terkait lainnya