Pengamat: Tanda-Tanda Gibran ‘Mulus’ Menjadi Presiden!

DEMOCRAZY.ID – Conny Rakahuning di dalam podcast mengatakan memangnya Prabowo ini mau jadi Presiden berapa lama, rencananya Prabowo menjadi Presiden hanya dua tahun, lalu kemudian diikuti berikutnya Gibran maju mencalonkan diri sebagai Presiden.

Lalu, Damai Hari Lubis mengkomentari terkait Gibran akan menjadi Presiden di 2029.

Damai Hari Lubis menyatakan karena publik bangsa ini omon-omon membantu Presiden Prabowo dalam mengantisipasi “Gibran menuju RI 2” yang mereka sendiri (publik) mengatakan adalah “cacat konstitusi.”

“Padahal nyata dalam kasus whoos negara melalui menteri keuangan, mengatakan publis menolak keras utang BUMN dibayarkan oleh negara, karena realitas track record mengungkap berbagai keanehan,” kata Damai Lubis dalam keterangannya, 15/11/2025.

“Tentunya pengeluaran untuk kebutuhan projek kereta api cepat yang prinsipnya mesti efisiensi (presisi) untuk kebutuhan rakyat, harus lebih dulu dipertanggugjawabkan secara akuntabilitas,” tambah dia.

Namun tak lama statemen menkeu Purbaya dipatahkan oleh Presiden RI dengan mimik (body laguange) yang bukan karakternya.

Diantaranya mirip jiplak ‘(fotocopian)’ atau seolah didikte causa over macht, karena berdalil, “whoos untuk mencegah kemacetan”.

“Maka tanda-tanda apalagi yang dibutuhkan oleh rakyat bangsa ini yang nyata terus tertidur lelap karena ketakutan dan gemetar melawan kebatilan, dan kelebihan mimpi janji (fly on the air) pelaksanaan UMKM yang omon-omon,” kata Damai Hari Lubis.

“Karena apa? Tidak ngeh negara tentunya sibuk bahkan kewalahan melaksanakan tehnis terlebih menutupi kebutuhan financial program MBG yang memang urgensi (force meyeur) sehingga penguasa istana mesti fokus,” jelasnya.

Maka sepatutnya lanjut Damai Lubis, jangan heran kenapa masa lalu nusantara dalam tempo lama dikuasai kolonialis, walau akhirnya merdeka, namun pasca mengorbankan banyak darah bangsa ini yang sia-sia maupun yang mati mulia.

Lantas ia menyampaikan analoginya, sementara sosok Eggi yang hijrah namun tetap melawan, atau “beda jenis perlawanan” malah dituduh menerima uang oleh para sosok hasutan “para banci tampil maupun banci sembunyi (playing victim)”, yang tak mau berpikir atau tidak sanggup berpikir atau “malas mengasah makna iqra”.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya