Pengamat: Prabowo Masuk Jebakan Geng Jokowi Melalui Penerbitan PP untuk Perpol 10/2025 dan Bisa Jatuh!

DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai Presiden Prabowo Subianto telah masuk ke dalam jebakan politik yang dirancang secara sistematis oleh apa yang ia sebut sebagai “Geng Jokowi”, menyusul diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) sebagai payung hukum Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 10 Tahun 2025.

Menurut Muslim Arbi, kebijakan tersebut bukan hanya berpotensi melanggar prinsip konstitusional, tetapi juga secara perlahan merusak legitimasi politik Prabowo di mata publik, khususnya di ruang media sosial yang kini menjadi arena utama pembentukan opini politik.

“Prabowo sedang masuk jebakan politik yang sangat halus. PP untuk Perpol 10/2025 ini justru menjadi alat untuk menjatuhkan Prabowo dari dalam kekuasaan itu sendiri,” kata Muslim Arbi kepada media, Senin (29/12/2025).

Muslim Arbi menyoroti substansi Perpol 10/2025 yang dinilainya bertentangan secara langsung dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), yang secara tegas melarang polisi aktif menduduki jabatan sipil di luar fungsi kepolisian.

Putusan MK tersebut selama ini dianggap sebagai pilar penting reformasi sektor keamanan pasca-Reformasi 1998, yang bertujuan menjaga profesionalisme Polri sekaligus mencegah kembalinya dwifungsi aparat bersenjata dalam ranah sipil dan politik.

“MK sudah jelas melarang polisi aktif masuk jabatan sipil. Tapi Perpol ini justru membuka ruang abu-abu, bahkan terang-terangan. Ini kemunduran reformasi,” tegas Muslim.

Ia menilai bahwa penerbitan PP sebagai dasar hukum Perpol tersebut merupakan langkah berisiko tinggi yang dapat menyeret Presiden Prabowo pada konflik konstitusional, sekaligus membuka pintu gugatan hukum dan tekanan politik dari berbagai kelompok masyarakat sipil.

Lebih jauh, Muslim Arbi mengamati bahwa sejak isu Perpol 10/2025 mencuat, citra Presiden Prabowo di media sosial mengalami penurunan signifikan.

Narasi yang berkembang, kata dia, bukan lagi soal konsolidasi pemerintahan baru, melainkan tudingan bahwa Prabowo justru melanjutkan bahkan memperparah praktik kekuasaan lama.

“Di media sosial, Prabowo mulai dipersepsikan bukan sebagai pemimpin perubahan, tapi sebagai kelanjutan dari rezim sebelumnya. Ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Menurut Muslim, kondisi tersebut justru menguntungkan kelompok politik di sekitar Presiden ke-7 Joko Widodo.

Ia menyebut, setiap polemik yang melemahkan posisi Prabowo akan memperkuat daya tawar politik “Geng Jokowi” di dalam dan di luar pemerintahan.

“Mereka senang. Karena semakin Prabowo diserang publik, semakin tergantung dia pada jaringan lama,” kata Muslim.

Dalam analisisnya, Muslim Arbi menyebut manuver ini sebagai permainan politik tingkat tinggi yang sangat canggih.

Ia menduga, jebakan tersebut dirancang agar Prabowo tampak sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas kebijakan kontroversial, sementara aktor-aktor lama tetap berada di balik layar.

“Ini bukan jebakan kasar. Ini jebakan konstitusional, jebakan opini publik, jebakan sejarah. Kalau Prabowo tidak sadar, dampaknya bisa sangat fatal,” ujarnya.

Ia bahkan memperingatkan bahwa jika konflik ini terus membesar, bukan tidak mungkin stabilitas politik pemerintahan Prabowo akan terganggu sejak awal masa jabatan.

Muslim Arbi menilai bahwa polemik Perpol 10/2025 berpotensi menjadi titik masuk krisis kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo.

Terlebih, isu ini menyentuh sektor sensitif: relasi sipil-militer-polisi dan penghormatan terhadap konstitusi.

“Presiden bisa jatuh bukan karena kudeta, tapi karena kehilangan legitimasi. Sejarah Indonesia dan dunia penuh contoh seperti itu,” tegasnya.

Ia mendesak Presiden Prabowo untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap PP dan Perpol tersebut, termasuk berani mengambil jarak dari pengaruh politik lama yang dinilainya masih sangat kuat mencengkeram struktur kekuasaan.

Bagi Muslim Arbi, polemik ini merupakan ujian awal yang sangat menentukan bagi Presiden Prabowo Subianto: apakah ia akan tampil sebagai pemimpin independen yang taat konstitusi, atau justru terjebak dalam skenario kekuasaan yang diwariskan rezim sebelumnya.

“Kalau Prabowo ingin selamat secara politik dan sejarah, dia harus keluar dari jebakan ini sekarang juga,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Istana Presiden maupun Mabes Polri terkait kritik terhadap PP dan Perpol 10/2025 tersebut.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya