DEMOCRAZY.ID – Pemerhati politik dan kebangsaan, M Rizal Fadillah, melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui sebuah tulisan bernada satir berjudul “Prabowo Jangan Tidur Ngorok”.
Dalam tulisannya, Rizal mengawali dengan ilustrasi sederhana tentang seorang penumpang yang tertidur dan mendengkur keras selama perjalanan dari Bandung ke Jakarta.
Meski tampak sepele, ia menyebut kejadian itu sebagai metafora kepemimpinan yang dinilai tidak peka terhadap kondisi di sekitarnya.
“Pemimpin itu tidak boleh tidur, apalagi ngorok keras. Itu mengganggu ketentraman rakyat,” tulisnya, Jumat (3/4/2026).
Rizal menilai pemerintahan Prabowo saat ini terkesan sibuk dengan berbagai agenda, namun belum memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Ia menyoroti berbagai program dan aktivitas luar negeri yang dianggap tidak berbanding lurus dengan kondisi rakyat di dalam negeri.
Menurutnya, aspirasi publik tidak direspons secara memadai, sementara beban hidup masyarakat dinilai semakin berat.
Ia juga menyinggung kesenjangan antara fasilitas pejabat dan kondisi rakyat.
Dalam kritiknya, Rizal turut menyoroti sikap pemerintah terkait isu internasional, khususnya dukungan terhadap Palestina dan posisi Indonesia dalam dinamika global.
Ia menyebut pernyataan Prabowo mengenai jaminan keamanan Israel sebagai hal yang memicu kegelisahan publik.
Selain itu, ia juga mengkritik kedekatan Indonesia dengan Amerika Serikat, yang dalam tulisannya dianalogikan sebagai “ikatan yang sulit dilepaskan”.
Rizal juga mengangkat berbagai tuntutan yang berkembang di masyarakat, mulai dari isu penegakan hukum hingga evaluasi kebijakan pemerintah.
Ia menilai suara-suara tersebut belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Beberapa tuntutan yang ia sebut antara lain pergantian pejabat, evaluasi program strategis, hingga penanganan kasus-kasus hukum yang menjadi sorotan publik.
Di akhir tulisannya, Rizal mengingatkan bahwa ketidakpuasan publik dapat berkembang menjadi keresahan yang lebih luas jika tidak segera direspons.
Ia bahkan menyarankan agar Prabowo mempertimbangkan mundur dari jabatannya jika dinilai tidak lagi mampu menjawab tantangan kepemimpinan.
Sebagai penutup, ia membandingkan situasi tersebut dengan dinamika politik di Amerika Serikat, di mana Presiden Donald Trump juga menghadapi tekanan publik.
“Jika pemimpin terus ‘tidur’ dan mengabaikan rakyat, maka bukan tidak mungkin rakyat sendiri yang akan ‘membangunkannya’,” tulis Rizal.