Pengamat: Prabowo Gunakan Dasco dan Sjafrie untuk Bangun Kekuatan Politik, Keamanan dan Pertahanan!

DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto membangun fondasi kekuatan politik serta keamanan–pertahanan nasional melalui dua tokoh kunci: Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad dan Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin.

Analisis ini disampaikan pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, yang menilai keduanya kini berperan sebagai “dua sayap burung” dalam strategi besar Prabowo menegakkan stabilitas nasional sekaligus mengamankan kedaulatan Indonesia dari ancaman dalam dan luar negeri.

Menurut Amir, Prabowo bukan sekadar membangun pemerintahan, tetapi sedang membentuk arsitektur kekuasaannya secara sistematis.

Di dalam arsitektur itu, Dasco dan Sjafrie memainkan peran yang tidak tumpang tindih, namun saling menguatkan.

“Dasco itu sayap politik. Sjafrie adalah sayap keamanan dan pertahanan. Dua sayap ini yang membuat Prabowo bisa bergerak stabil, tajam, dan mampu menghadapi tantangan apa pun,” ujar Amir kepada wartawan, Rabu (26/11/2025).

Amir menilai Dasco memiliki kecerdikan politik yang jarang dimiliki politisi lain.

Ia bukan sekadar pemain parlemen, tetapi sosok yang mampu membaca peta kekuatan nasional dan memahami cara merajut koalisi, meredam konflik, serta memperkuat legitimasi pemerintahan.

“Dasco adalah arsitek stabilitas politik dalam negeri. Kemampuan lobi dan kecepatannya membaca arah angin sangat krusial untuk menjaga pemerintahan Prabowo tetap solid,” kata Amir.

Sejak awal pemerintahan, Dasco terlihat aktif menggalang jejaring politik, meredakan gesekan antarpartai, serta memastikan dukungan parlemen berjalan stabil.

Langkah-langkah ini dianggap sebagai modal dasar bagi Prabowo untuk melangkah lebih jauh dalam agenda strategis nasional.

Jika Dasco memegang urusan politik, Sjafrie disebut sebagai “otak lapangan” dalam urusan keamanan strategis dan intelijen pertahanan.

Amir menilai Sjafrie merupakan salah satu figur dengan rekam jejak paling kuat dalam operasi intelijen, kontra-subversi, dan penetrasi jaringan keamanan.

“Sjafrie adalah sosok yang tidak banyak bicara, tetapi setiap langkahnya strategis. Prabowo mempercayai naluri dan pengalamannya,” jelas Amir.

Munculnya kontroversi Bandara Morowali yang disebut sebagai “negara dalam negara” membuka mata publik tentang adanya titik-titik rawan di mana korporasi asing—khususnya dari China—diduga mengelola fasilitas strategis tanpa kontrol penuh dari negara.

Kasus ini menjadi momentum yang memperlihatkan peran Sjafrie.

“Kasus Bandara Morowali adalah bunyi alarm bagi negara. Dan Prabowo, melalui Sjafrie, jelas tidak akan tinggal diam. Ini bukan hanya soal bandara, tetapi soal kedaulatan,” tegas Amir.

Amir menguraikan bahwa duet Dasco–Sjafrie merupakan pola yang jamak dalam strategi geopolitik modern: satu figur ahli politik untuk menjaga legitimasi internal, dan satu figur ahli pertahanan untuk menjaga kedaulatan eksternal.

“Banyak pemimpin dunia membangun dua pusat kekuatan seperti ini. Prabowo sedang membangun dual structure of power: Stabilitas politik dijaga Dasco. Keamanan strategis dan intelijen dijaga Sjafrie,” jelasnya.

Di tengah meningkatnya penetrasi investor asing di sektor strategis seperti nikel, Morowali, dan smelter-smelter besar, Amir melihat Prabowo membutuhkan figur seperti Sjafrie untuk memastikan negara tetap menjadi pengendali, bukan sekadar penonton.

Amir menekankan bahwa peringatan tentang “negara dalam negara” bukan sekadar retorika.

Ia mengingatkan bahwa banyak negara lain di Afrika jatuh dalam jebakan setelah membiarkan perusahaan asing menguasai infrastruktur strategis.

“Indonesia terlalu besar untuk dikuasai negara lain, tetapi bisa dipreteli perlahan melalui investor asing. Di sinilah peran Prabowo, Dasco, dan Sjafrie menjadi sangat penting,” ujar Amir.

Menurutnya, duet ini akan menentukan bagaimana Prabowo menavigasi tantangan baru: ketergantungan ekonomi pada korporasi tambang asing, kerentanan wilayah industri strategis, ancaman spionase ekonomi, dan potensi konflik sosial akibat ekspansi tambang.

Amir menutup analisanya dengan menyebut Prabowo tengah membangun sistem pertahanan–politik yang saling terkait.

“Jika Dasco mengamankan medan politik, Sjafrie mengamankan medan kedaulatan. Dua-duanya adalah sayap yang membuat Prabowo bisa terbang lurus dan kuat. Tanpa salah satu, burung itu pincang,” jelasnya.

Menurut Amir, publik harus melihat gerak Prabowo bukan sekadar reaktif terhadap isu Morowali, tetapi sebagai bagian dari strategi besar menegakkan kembali kedaulatan negara dalam seluruh dimensi: politik, ekonomi, dan pertahanan.

“Dengan dua tokoh itu, Prabowo ingin mengirimkan pesan: Indonesia tidak akan lagi menjadi negara yang bisa dipermainkan.” jelasnya.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya