Pemburuan Terbesar Sejak 98: 700 Anak Muda ‘Diproses’ Usai Demo Agustus 2025!

DEMOCRAZY.ID – Demonstrasi akhir Agustus melahirkan penangkapan berskala besar. Per September 2025, sekitar lebih dari 6.500 orang ditangkap polisi di puluhan kota yang mengadakan aksi.

Angka tersebut lalu menyusut menjadi seperenamnya, alias 1.000-an orang. Mayoritas, klaim kepolisian, telah dibebaskan.

Dari ribuan yang ditangkap, polisi menetapkan 959 orang menjadi tersangka, dengan rincian 664 tergolong kategori dewasa dan sisanya259anak di bawah umur.

Hingga 14 Februari 2026, mengacu rekapitulasi koalisi organisasi sipil bernama Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK), jumlah yang ditahan menyentuh 703 orang, dengan lebih dari 500 di dalamnya diputus bersalah.

Titik-titik dengan jumlah tahanan terbanyak10 besardapat dijumpai di Jakarta Utara (71 orang), Makassar (52 orang), Jakarta Pusat (48 orang), Bandung (46 orang), Surabaya (38 orang), Blitar (32 orang), Jakarta Timur (32 orang), Solo (31 orang), Kabupaten Kediri (28 orang), serta Kota Kediri (27 orang).

Berdasarkan data yang dihimpun GMLK, BBC News Indonesia bersama Project Multatuli berupaya membedah demografi para tahanan.

Data GMLK kami gunakan sebagai pijakan verifikasi silang atas beberapa sumber, terutama dari pendampingan yang ditempuh organisasi non-pemerintah seperti KontraS atau Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di masing-masing kota.

Di luar itu, kami melakukan pengecekan kembali terhadap informasi yang tersedia di Berita Acara Pemeriksaan (BAP), pemberitaan di media, serta Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) yang diakses melalui situs pengadilan negeri.

Hasilnya, dari 703 tahanan yang dicatat GMLK, kami mampu memperoleh 329 individu dengan keterangan usia per 2025.

Dari total tersebut, kami membaginya mengikuti kelompok usia yang dipatok Badan Pusat Statistik (BPS).

Generasi X (Gen X), kelahiran 1965-1980, kami dapatkan di dua individu, masing-masing berumur 45 serta 47 tahun.

Lalu Generasi Milenial (Gen Milenial), yang lahir pada rentang 1981-1996, muncul di 36 orang, dengan komposisi usia kurang lebih 29 sampai 43 tahun.

Sedangkan sisanya, dan ini yang mendominasi, dihuni anak-anak Generasi Z (Gen Z), kelahiran antara 1997 serta 2012. Jumlahnya mencapai 291.

Kalau kelompok Gen Z dibedah lagi, mereka yang berumur 20 tahun adalah yang terbanyak, yaitu, total, 56 orangkelahiran 2005.

Tak sebatas usia, kami berupaya pula mengetahui latar belakang ekonomi para tahanan. Dari 703 tahanan yang dikumpulkan GMLK, kami cuma bisa melacak 203 di antaranya.

Data yang kami peroleh kemudian dibagi lagi ke dalam empat klasifikasi menurut BPS: pekerja informal, formal, pengangguran, serta bukan angkatan kerja.

Bukan angkatan kerja merupakan kelompok dengan jumlah paling banyak ketimbang lainnya, sebesar 77 orang.

Komposisinya terbangun dari pelajar atau mahasiswa (76 orang) dan ibu rumah tangga (1 orang).

Di urutan kedua ada pekerja informal dengan 63 orang. Di bagian ini, spesifikasinya terpecah ke banyak sisi: mulai dari nelayan, petani, pedagang, pengemudi ojek, hingga buruh bangunan.

Pada pengelompokan sektor informal kami turut pula menemukan bahwa sebagian termasuk bagian dari Gen Z.

Lima tahanan yang lahir pada 2000, 2002, dan 2005, ambil contoh, bekerja menjadi pengemudi ojek.

Lalu di posisi berikutnya ialah kelompok pekerja formal dengan 40 orang, disusul setelahnya pengangguran (tidak bekerja) yang berjumlah 23 orang.

Untuk yang terakhir, “tidak bekerja,” rentang usianya berada di 18 sampai 37 tahun.

Penelusuran kami, tak ketinggalan, juga menyasar tingkat pendidikan terakhir para tahanan.

Kami tak memperoleh data dari keseluruhan tahanan, melainkan hanya 152 orang.

Pendidikan terakhir yang banyak dijumpai yaitu SMA, sekitar 101 orang.

Berdasarkan verifikasi silang kami atas data latar belakang ekonomi, di golongan mahasiswa atau pelajar, tidak semua yang berpendidikan terakhir SMA ini tidak lanjut ke perguruan tinggi.

Jumlahnya tak dapat kami pastikan. Namun, sebagian yang pendidikan terakhirnya SMA, mereka kini berstatus mahasiswabelum lulus.

Di bawah SMA, berturut-turut terdapat SMP (24 orang), SD (15 orang), diploma (2 orang), sarjana (9 orang), dan tidak sekolah (1 orang).

Tantangan terbesar dalam memverifikasi background para tahanan yakni keterbatasan data.

Tidak semua informasi di SIPP maupun BAP memuat petunjuk dasar mengenai identitas tahananusia atau pekerjaan.

Saat kami konfirmasi ulang ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di locus perkara, ternyata tidak semua didampingi oleh mereka. Ini, misalnya, muncul di Jakarta Utara, Makassar, serta Kediri.

Di Kediri, dari 50 tahanan lebih yang tercatat di database GMLK, kami sekadar mampu mendapatkan informasi atas dua individu.

Situasi tak jauh berbeda kami hadapi manakala menelusuri penahanan di Jakarta Utara. Dari 71 tahanan, kami hanya berhasil memperoleh informasi dasar tak sampai setengah jumlah tahanan.

Perwakilan GMLK, Karunia Haganta, mengungkapkan sulitnya menghimpun data para tahanan sekaligus menggambarkan bahwa proses pendampingan di lapangan begitu berliku dan terjal.

Sumber: BBC

Artikel terkait lainnya