Peluang Bisnis Trump di Balik Penutupan Selat Hormuz, Semua Soal Keuntungan!

DEMOCRAZY.ID – Bagaimana bisa ketegangan di Selat Hormuz bisa menguntungkan Donald Trump?

Ya semua pada akhirnya tentang minyak dan uang.

Saat Iran memperkuat cengkeramannya di Selat Hormuz, insting bisnis Presiden Amerika Serikat (AS) itu berjalan.

Seketika Trump yang dikenal pebisnis ini melihat ada peluang besar di balik penutupan Selat Hormuz.

Atau mungkin Trump sudah tahu dan membiarkan Selat Hormuz ditutup jika perang terjadi dengan Iran.

Yah dengan penutupan Selat Hormuz maka pembeli minyak dan gas dunia akan beralih dari Timur Tengah ke negara lain.

Trump menangkap peluang itu dan menawarkan negara-negara yang selama ini bergantung pada minyak Timur Tengah untuk membeli minyak dan gas Amerika.

Biarkan Selat Hormuz Bergejolak

Blokade Iran terhadap Selat Hormuz yang sangat penting telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Dan sekarang, Presiden AS Donald Trump tampaknya mencium peluang besar itu.

Dalam pidato nasionalnya pada Kamis (2/4/2026), Trump menjelaskan rencananya mengenai jalur energi vital tersebut dengan sangat jelas.

“Mundur dan biarkan negara-negara yang bergantung padanya membersihkan kekacauan.

Atau beli saja minyak dan gas dari Amerika,” itulah Trump, sang pengusaha, yang berbicara.

Sederhananya, jika Selat Hormuz, yang dilalui 20 persen minyak global sebagian besar tetap tertutup maka pembeli di Asia dan Eropa kemungkinan akan beralih ke AS.

Ini berarti potensi keuntungan besar bagi pemerintahan Trump.

Bahkan, ekspor bahan bakar AS melonjak ke rekor tertinggi pada bulan Maret karena negara-negara Asia dan Eropa menggantikan pasokan dari Timur Tengah akibat gejolak tersebut.

Beli Minyak dari AS

Sebagian besar pidato Trump hari ini didedikasikan agar bagaimana AS telah menjadi produsen minyak dan gas nomor satu di bawah kepemimpinannya.

Dan itu masuk akal karena belum lagi jutaan barel yang diterima AS dari Venezuela setelah Trump berhasil mengendalikan negara itu dengan menangkap presidennya beberapa waktu lalu.

Setelah menguasai Venezuela, yang dikenal negara kaya minyak, kini Trump menyerang Iran.

Atau Trump sudah mempersiapkan Venezuela sebagai ladang minyak baru dan kemudia menyerang Iran?

Sekali lagi dalam pidatonya hari ini, Trump menggambarkan Amerika sebagai negara yang kaya energi, menekankan bahwa AS memproduksi lebih banyak minyak dan gas daripada Arab Saudi dan Rusia gabungan. Lalu muncullah bujukannya.

“Beli minyak dari AS, kami punya banyak, kami punya begitu banyak!” kata Trump.

Jika tidak, maka carilah minyak sendiri dengan risiko Anda sendiri.

Hal ini sebagian menjelaskan mengapa Presiden AS yang eksentrik itu tiba-tiba menarik kembali usulannya agar angkatan laut Amerika mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.

Awal pekan ini, ia bahkan mengemukakan gagasan agar AS keluar dari perang melawan Iran tanpa membuka kembali Selat Hormuz.

Trump sangat menyadari bahwa penyempitan yang berkepanjangan di Selat Hormuz akan membuat dunia hanya memiliki sedikit alternatif.

Untuk mengisi kekosongan itu, minyak mentah dan gas AS siap sedia.

Trump sengaja menggembar-gemborkan hal itu dalam pidatonya.

AS Tak Butuh Minyak Selat Hormuz

“AS hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz. Kita tidak membutuhkannya,” katanya.

Pernyataan itu sebagian benar.

Berdasarkan data resmi, AS mengimpor 0,5 juta barel minyak mentah per hari melalui Selat Hormuz pada tahun 2024.

Angka tersebut mewakili 7?ri total impor minyak mentah.

Dengan demikian, meskipun AS tidak sepenuhnya terlepas, ketergantungannya pada minyak mentah Timur Tengah saat ini lebih rendah dibandingkan sekitar satu dekade lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak mentah AS telah melonjak menjadi sekitar 13-13,6 juta barel per hari, termasuk yang tertinggi di dunia.

AS juga merupakan pengekspor bersih minyak bumi.

Ditambah lagi dengan kendali Washington atas minyak mentah di Venezuela , yang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.

Setelah penangkapan Nicholas Maduro, Trump telah mengambil alih kendali penjualan minyak negara itu dan hasilnya.

AS menerima lebih dari 80 juta barel minyak dari Venezuela pada bulan Februari.

“Sekarang kami bekerja sama dengan Venezuela dan, dalam arti sebenarnya, menjadi mitra usaha patungan. Kami bekerja sama dengan sangat baik dalam produksi dan penjualan minyak dan gas dalam jumlah besar. Kami sekarang sepenuhnya independen dari Timur Tengah,” kata Presiden AS.

Ya, penjualan jelas meningkat. Ekspor bahan bakar AS naik ke level rekor pada bulan Maret karena negara-negara Eropa dan Asia merasakan dampaknya akibat penutupan Selat Hormuz.

Menurut data dari analis pasar Kpler, ekspor produk minyak bumi AS seperti bensin, solar, dan bahan bakar jet melonjak menjadi 3,11 juta barel per hari pada bulan Maret, naik dari sekitar 2,5 juta barel pada bulan Februari.

Selain itu, ekspor bahan bakar AS ke Eropa meningkat sebesar 27%, sementara penjualan ke Asia meningkat lebih dari dua kali lipat, seperti yang dilaporkan Reuters.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya