DEMOCRAZY.ID – Salah satu diplomat Norwegia sekaligus pejabat PBB yang membuat Palestina semakin terjajah oleh Israel Terje Rød-Larsen terseret ke dalam skandal Epstein File.
Larsen yang merupakan diplomat Norwegia merupakan otak dibalik Oslo Agreement atau Perjanjian Oslo.
Perjanjian Oslo sendiri membuat wilayah Palestina semakin dijajah Israel.
Kesepakatan Oslo 1993–1995 menciptakan Otoritas Palestina (PA) untuk pemerintahan mandiri terbatas, melegitimasi PLO, dan menjanjikan negara masa depan, tetapi pada akhirnya gagal mencapai perdamaian abadi.
Sebaliknya, kesepakatan tersebut mengakibatkan peningkatan pemukiman Israel, fragmentasi wilayah Tepi Barat yang parah menjadi Area A, B, dan C, dan memperdalam kontrol keamanan Israel, yang menyebabkan kekecewaan luas di kalangan Palestina.
Pada akhirnya, 30 tahun kemudian terungkap nama Larsen masuk ke dalam Epstein File.
Hal itu diungkapkan mantan kolega Larsen di Dewan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Craig Mokhiber.
Mokhiber merupakan mantan kepala kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di New York.
Di X miliknya, Mokhiber mengatakan bahwa pasangan suami-istri asal Norwegia Mona Juul dan Terje Rød-Larsen masuk ke dalam berkas Epstein.
Jeffrey Epstein sendiri diduga kuat merupakan agen Mosad sebuah lembaga mata-mata Israel.
Dalam berkas tersebut, Larsen dan istrinya disebut telah mengambil pinjaman pribadi dari Epstein.
Bahkan anak-anak mereka dilaporkan menerima warisan sebesar 10 juta dolar AS dalam wasiat Epstein.
Mokhiber menyebut Perjanjian Oslo adalah kesepakatan yang membawa bencana karena mengabaikan hukum internasional, menghancurkan hak-hak Palestina selama tiga dekade.
Perjanjian Oslo juga telah memperkuat posisi ilegal rezim Israel di Palestina.
Ia juga mencatat bahwa Larsen kemudian menjabat sebagai utusan utama PBB untuk kawasan Asia Barat, yang dikenal dengan akronimnya sebagai UNSCO.
Ia menambahkan bahwa Larsen pernah menjadi atasannya di PBB untuk wilayah Palestina pada tahun 90-an.
Namun demikian Larsen dipaksa untuk mengundurkan diri karena skandal sebagai kepala Institut Perdamaian Internasional akibat urusan keuangannya dengan Epstein.
“Saya tidak dapat membuktikan bahwa Israel telah menyuap pejabat politik PBB yang bekerja untuk Palestina,” tulis Mokhiber,
“Tetapi saya tahu bahwa Larsen dan para penerusnya sebagai utusan PBB (UNSCO) secara konsisten memprioritaskan kepekaan rezim Israel di atas hukum internasional, dan hak asasi manusia rakyat Palestina.”
Diketahui Epstein File merupakan data kejahatan dari konglomerat Jeffrey Epstein terkait dengan kasus pedofilia.
Parlemen AS memutuskan agar FBI membuka seluruh data kejatuhan Jeffrey Epstein usai konglomerat tersebut diseret ke penjara pada tahun 2019.
Epstein sendiri diduga mengakhiri hidup di dalam sel penjara sebelum vonis dijatuhi hakim.
Hal itu membuat kasus pedofilia yang menyeret sejumlah nama konglomerat di seluruh dunia terkatung-katung.
Hingga pada Desember 2025, Parlemen AS memutuskan untuk mengesahkan undang-undang pembukaan File Epstein.
File sebanyak 3 juta halaman dan 2000 video itu kemudian bisa diakses oleh seluruh dunia.
Sumber: Tribun