DEMOCRAZY.ID – Guntur Romli mempertanyakan langkah Presiden RI Prabowo Subianto yang disebut siap menjadi penengah konflik Iran dengan AS-Israel, namun belum menyampaikan ucapan duka atas wafatnya Ali Khamenei.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini juga menyoroti sikap Presiden Prabowo Subianto yang hingga kini belum menyampaikan ucapan duka cita secara terbuka atas meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei.
Kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran itu dikonfirmasi media Iran, Fars News Agency, pada Minggu (1/3/2026).
Dalam laporannya, Khamenei disebut tewas akibat serangan militer yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran.
Berdasarkan pantauan Tribunnews hingga Selasa (3/3/2026) pagi, belum terdapat pernyataan resmi maupun unggahan belasungkawa dari Prabowo melalui akun media sosial maupun kanal komunikasi resminya.
Melalui akun Instagram pribadinya, Guntur Romli mempertanyakan alasan di balik sikap tersebut.
“Apakah Prabowo merasa tidak enak, atau mungkin takut (?) pada Trump dan Netanyahu? Karena meninggalnya Ali Khamenei akibat serangan militer AS dan Israel,” tulis Gun Romli.
“Tapi apakah hanya karena afiliasi politik dan konflik politik sehingga mematikan nurani kemanusiaan sampai-sampai tidak berani ucapkan bela sungkawa?”
Gun Romli pun mengingatkan, seharusnya Prabowo dapat menerapkan kebijakan politik luar negeri Bebas Aktif, apalagi Indonesia menjalin hubungan diplomatik baik dengan Iran maupun AS.
Sehingga, menurutnya Prabowo tidak seharusnya melewatkan ucapan bela sungkawa atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.
“Bukankah Indonesia tidak sedang berkonflik dgn Iran? Bukankah Indonesia sama-sama punya hubungan diplomatik dgn AS dan Iran, meskipun keduanya sedang konflik, harusnya Prabowo tetap bisa “bebas aktif” antara keduanya,” ujar Gun Romli.
“Jadi, apa hambatan Presiden Prabowo tidak mengucapkan duka cita atas berpulangnya kepala negara sahabat?”
Guntur Romli pun mengingatkan Prabowo agar tetap mengedepankan etika dan kemanusiaan.
Ia berharap, Prabowo berani mengucapkan bela sungkawa atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, terlebih ada niat untuk bertolak ke Teheran demi menjadi penengah antara AS-Israel dan Iran.
“Kalaupun terjadi konflik bukan alasan untuk membunuh rasa kemanusiaan, bukankah junjungan kita Nabi Muhammad Saw tetap berdiri dan menghormati iring-iringan jenazah orang Yahudi, meskipun saat itu berkecamuk konflik antara umat Islam di Madinah dan umat Yahudi?” tutur Gun Romli.
“Saya berharap Pak Prabowo punya keberanian mengucapkan duka cita atas berpulangnya kepala negara sahabat: Sayyid Ali Khamenei, selain pertimbangan etik, humanistik, juga diplomatik, syukur-syukur jadi ke Teheran Iran menjadi juru damai.”
Ia menduga ada pertimbangan politik tertentu, mengingat Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurutnya, sebagai kepala negara, Prabowo tetap perlu mengedepankan etika diplomatik dan nilai kemanusiaan, terlepas dari dinamika konflik geopolitik yang terjadi.
“Iran dan Indonesia adalah dua negara sahabat dan memiliki hubungan diplomatik yang baik. Secara etika, ucapan duka cita atas wafatnya kepala negara sahabat adalah hal yang wajar,” tulis Guntur Romli.
Ia juga mengingatkan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, yakni tetap menjalin hubungan baik dengan semua pihak tanpa terlibat dalam konflik.
Tidak adanya ucapan duka cita dari Prabowo atas meninggalnya Ali Khamenei juga dipertanyakan oleh Gun Romli, sapaan akrab politisi, penulis, sekaligus aktivis Nahdlatul Ulama (NU) ini.
Sebab, Iran dan Indonesia adalah dua negara sahabat dan memiliki relasi diplomatik yang kuat.
“Saya belum menemukan ucapan duka cita dari Presiden Prabowo atas meninggalnya Sayyid Ali Khamenei, Kepala Negara Iran,” tulis Gun Romli.
“Prabowo adalah kepala negara dan kepala pemerintahan Indonesia. Iran dan Indonesia dua negara sahabat, punya relasi diplomatik yang kuat, tapi anehnya, ada kepala negara sahabat meninggal, Prabowo tidak ucapkan duka cita. Secara etika, raibnya ucapan ini patut dipertanyakan.”
Kemudian, Gun Romli menyoroti sikap Prabowo yang siap bertolak ke Teheran untuk membuka dialog dan menjadi mediator/penengah antara pihak AS-Israel dan Iran.
Pria yang lahir di Situbondo, Jawa Timur 17 Maret 1978 tersebut pun mengkritik niat Prabowo menjadi penengah, meski itu adalah sikap yang dilandasi kepedulian.
Menurut Gun Romli, bagaimana bisa menjadi penengah AS-Israel vs Iran, sedangkan Prabowo saja tidak menyampaikan duka cita atas gugurnya Ali Khamenei.
“Ketika pecah serangan AS dan Israel terhadap Iran, Prabowo, buru-buru menawarkan diri menjadi juru damai dan siap berangkat ke Teheran, Iran, suatu sikap yg bisa dipuji sebagai kepedulian untuk perdamaian,” tulis Guntur Romli.
“Tapi, bagaimana mau jadi juru damai dan bisa diterima Teheran, mengucapkan duka cita saja tidak dilakukan?”
Gun Romli dalam unggahannya pun menilai, sikap Prabowo yang siap bertolak ke Teheran untuk jadi mediator AS-Israel vs Iran, hanyalah untuk memoles citra dan mencari panggung.
Kata dia, Prabowo mengabaikan etika persahabatan antar dua-negara, karena tidak menyampaikan bela sungkawa untuk Pemimpin Tertinggi Iran yang wafat pada usia 86 tahun tersebut.
“Karena itu muncul kritik: tawaran Prabowo ke Teheran hanya untuk memoles citra diri dan cari panggung, keinginanannya muluk-muluk dan melangit, tapi hal dasar, etika persahabatan: mengucapkan duka cita saja tidak ditunaikan,” tutur Guntur Romli.
Di tengah eskalasi militer antara AS-Israel dengan Iran, Prabowo menyatakan kesiapannya memfasilitasi kedua belah pihak agar melakukan deeskalasi konflik.
Hal ini diketahui dari pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu), Sabtu (28/2/2026).
Dalam pernyataan tersebut, Prabowo bersedia untuk bertolak ke ibu kota Iran, Teheran, demi memfasilitasi mediasi.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” tulis pernyataan resmi Kemlu.
Sumber: Tribun