DEMOCRAZY.ID – Setelah hampir 10 bulan menjabat tanpa menyentuh isu domestik Amerika Serikat, Paus Leo akhirnya secara terbuka mengkritik Donald Trump.
Langkah ini menjadi sorotan karena Paus Leo sebelumnya cenderung menahan diri untuk tidak terlibat langsung dalam dinamika politik negaranya.
Sebagai Paus pertama asal Amerika Serikat, pernyataan tersebut dinilai sebagai perubahan sikap yang cukup signifikan.
Dalam pernyataan publik terbarunya, Paus Leo secara langsung menyerukan kepada Trump untuk mencari jalan keluar demi mengakhiri perang.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa Vatikan ingin mengambil posisi lebih tegas di panggung global, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Dalam pernyataan publik terbarunya, Paus Leo secara langsung meminta Trump untuk mencari jalan keluar dari konflik yang sedang berlangsung.
Ia menggunakan istilah “off-ramp” atau jalan keluar sebagai ajakan untuk mengakhiri perang.
Sebelumnya, Paus Leo juga melontarkan kritik keras kepada para pemimpin dunia yang memicu konflik.
“Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki tangan yang penuh darah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut dinilai tidak biasa karena disampaikan dengan nada tegas, bahkan untuk ukuran seorang Paus.
Sebelum menyebut nama Trump secara terbuka, Paus Leo sebenarnya telah lebih dulu mengkritik kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
Namun, saat itu ia masih menyampaikan kritik secara implisit tanpa menyebut nama pejabat tertentu.
Perubahan dari kritik tidak langsung menjadi pernyataan terbuka ini menunjukkan adanya eskalasi sikap dari Vatikan.
Tak hanya lewat pernyataan, Paus Leo juga melakukan langkah strategis di internal Gereja Katolik Amerika.
Ia mencopot Timothy Dolan dan menggantikannya dengan Ronald Hicks.
Langkah ini dinilai sebagai upaya mengarahkan ulang kepemimpinan Gereja Katolik di Amerika Serikat.
Dalam beberapa pekan terakhir, Paus Leo terus meningkatkan kritik terhadap konflik global, termasuk perang di Iran.
Ia menilai serangan udara sebagai tindakan yang tidak pandang bulu dan seharusnya dilarang.
“Pemimpin politik Kristen yang memulai perang harus mengoreksi diri,” ujarnya dalam pernyataan sebelumnya.
Pejabat Vatikan, Michael Czerny, menilai suara Paus memiliki pengaruh moral yang kuat di dunia.
“Suara moral Paus Leo kredibel, dan dunia sangat ingin percaya bahwa perdamaian itu mungkin,” ungkap Czerny.
Saat ini, Paus Leo tengah menjalani rangkaian perayaan Paskah 2026 di Vatikan.
Puncaknya adalah pesan dari balkon Basilika Santo Petrus, yang kerap menjadi panggung seruan global.
Di tengah meningkatnya konflik dunia, pidato Paskah tahun ini diperkirakan akan kembali menekankan pentingnya perdamaian.
Sumber: Tribun