DEMOCRAZY.ID – Di tengah simpang siurnya video yang beredar di media sosial, teka-teki mengenai seberapa parah kerusakan di Israel akibat serangan Iran akhirnya mulai terkuak.
Pemerintah Israel diketahui menerapkan media blackout atau sensor ketat terkait informasi kerusakan, namun kesaksian dari warga negara asing yang keluar dari negara tersebut membuktikan sebaliknya.
Fakta ini diungkapkan oleh Mantan Pilot Tempur F-16 TNI AU, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati.
Menurutnya, meski ada sebagian video yang direkayasa, kerusakan infrastruktur di Israel adalah nyata.
“Kerusakan itu sebagian riil. Memang ada media blackout di sana karena ancaman hukuman. Tapi sekarang sudah mulai keluar kesaksian-kesaksian, misalnya dari orang India yang pulang ke negerinya,” ungkap Agung dalam sebuah wawancara podcast, baru-baru ini.
“Kerusakan itu sebagian real, sebagian lagi mungkin buatan ya. Tetapi memang ada media blackout di sana yang membuat tidak bisa orang mendapatkan data atau mengirim data karena ancaman hukuman,” ungkap Agung dalam kanal Youtube Forum Keadilan TV, Kamis (12/3/2026).
Agung juga membeberkan taktik militer Israel yang sengaja menyembunyikan fasilitas vital mereka.
Ia menegaskan bahwa rudal-rudal Iran sejatinya hanya menargetkan fasilitas militer atau pejabat.
“Rupanya banyak dari bunker–bunker itu bunker–bunker pemerintah ya khususnya atau pemiliter itu di letak di tengah-tengah tempat penduduk. Mungkin tujuannya untuk deception ya biar orang enggak mau menyangka apa,” ujarnya.
Eskalasi konflik ini ternyata memukul telak Amerika Serikat (AS) dari berbagai sisi: diplomasi, militer, hingga ekonomi.
Indikasi kepanikan AS terlihat jelas ketika Kementerian Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan via media sosial X, meminta seluruh warga sipilnya segera keluar dari Timur Tengah.
“Artinya dia nggak menjamin keamanan warga negaranya. Negara ini tidak sanggup menjamin warga negaranya keluar dari Timur Tengah di mana pun itu padahal ya situasinya baik-baik saja,” ungkap Agung.
Di sektor ekonomi, serangan presisi di Timur Tengah langsung memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus angka 150 per barel.
Efek domino ini langsung memukul harga BBM di dalam negeri AS dan memicu ketidakpuasan rakyat.
Menurut Agung, situasi ini menjadi simalakama bagi para politisi di AS, terutama menjelang Pemilu November mendatang.
Para senator dan politisi kini terjepit antara terus mendukung Israel karena dorongan donor politik, atau mendengarkan konstituen mereka yang marah akibat meroketnya biaya hidup.
Kegagalan Israel membuka informasi justru menjadi bumerang.
Iran memenangkan “perang informasi” dengan leluasa menyebarkan narasi ke dalam negeri Israel, menghasut rakyat Israel agar menekan pemerintah mereka sendiri untuk segera menghentikan perang.
Tak hanya itu, secara geopolitik, AS makin terisolasi. Negara-negara Teluk menolak bergabung dengan AS, sementara kekuatan besar seperti Rusia, China, dan Pakistan secara terang-terangan merapat ke kubu Iran.
Di sisi militer, meski angkatan laut Iran mungkin menjadi target gempuran, Teheran masih memegang “kartu truf” yang mematikan, yaitu Selat Hormuz.
Agung menjelaskan, Iran tidak butuh armada laut besar untuk menutup selat sempit yang lebarnya hanya sekitar 33 km tersebut.
Mereka cukup menempatkan ranjau laut atau menembakkan rudal panggul dari daratan.
“Nggak perlu rudal yang gede-gede cukup rudal panggul saja sudah bisa untuk jebol kapal,” tegas Agung.
Kondisi inilah yang membuat posisi tawar Iran melonjak tajam.
Mengendalikan jalur nadi ekonomi global membuat Iran bisa mendikte negara-negara lain.
Sumber: Suara