DEMOCRAZY.ID – Harapan dunia terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali pupus.
Setelah negosiasi panjang selama 21 jam di Islamabad, kedua negara gagal menemukan titik temu, meski sejumlah isu sempat menunjukkan kemajuan.
Pertemuan tingkat tinggi ini mempertemukan delegasi utama dari AS dan Iran dengan agenda besar yakni menghentikan konflik, membuka jalur energi global, serta meredakan ketegangan kawasan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi Washington, menyatakan bahwa pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan karena Iran menolak sejumlah persyaratan utama.
Di sisi lain, media pemerintah Iran menyampaikan narasi berbeda.
Mereka menilai kegagalan terjadi akibat tekanan dan tuntutan sepihak dari Amerika.
“Delegasi Iran bernegosiasi secara terus menerus dan intensif selama 21 jam untuk melindungi kepentingan nasional rakyat Iran; terlepas dari berbagai inisiatif dari delegasi Iran, tuntutan yang tidak masuk akal dari pihak Amerika mencegah kemajuan negosiasi. Dengan demikian, negosiasi berakhir,” demikian pernyataan yang dikutip dari penyiar negara Iran dari laporan Economic Times, Minggu, 12 April 2026.
Salah satu isu paling krusial dalam perundingan adalah status Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi nadi distribusi energi dunia.
Iran menyampaikan tidak akan mengubah situasi di Hormuz selama tidak ada “kesepakatan yang wajar” dari pihak AS.
Ini menunjukkan bahwa jalur tersebut tetap menjadi alat tawar strategis Teheran.
Selain Hormuz, isu lain yang memicu kebuntuan adalah program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pengakhiran konflik secara menyeluruh.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut bahwa diskusi mencakup seluruh isu utama tersebut dalam 24 jam terakhir.
Meski ada kesepakatan di beberapa poin, perbedaan tajam pada dua isu utama membuat negosiasi gagal mencapai hasil akhir.
Laporan dari media Iran menyebut bahwa Teheran tidak berada dalam posisi terdesak untuk segera mencapai kesepakatan.
Bahkan, mereka menegaskan tidak akan ada perubahan signifikan tanpa kompromi dari pihak Amerika.
Sikap ini mempertegas bahwa negosiasi bukan sekadar soal diplomasi. Tapi, juga pertarungan kepentingan strategis jangka panjang.
Perundingan yang masih deadlock ini perpanjang ketidakpastian global, terutama terkait stabilitas energi dan keamanan kawasan Timur Tengah.
Sumber: VIVA