Muncul Fenomena Spanduk Prabowo-Purbaya, Ada Apa?

ADA FENOMENA APA SPANDUK PRABOWO-PURBAYA…?

Oleh: Aendra Rhenoz Medita | Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI)

Bagai kota kreatif, kota budaya, kota mahasiswa, Bansung itu penuh kejutan. Hari penuh indah sampai kini, ruang kreatif itu perlahan yang selalu menawan — dari mural seni dan poster acara komunitas selalu estetis, saya menemukan kalimat-kalimat seperti “Teknokrat Nasionalis – Patriotik – Ekonom Kerakyatan” atau “Bersatu untuk Indonesia Maju”.

Kalimatnya megah, tapi penempatannya menonjok dalam dan tajam bukan asal-asalan meski juga ada yang sering kali asal-asalan.

Tak jarang misalnya spanduk dipaku ke pohon, menutup rambu lalu lintas, atau dipasang miring dengan kabel seadanya.

Ironisnya, banyak dari spanduk ini mengkampanyekan nasionalisme dan kepedulian rakyat — tetapi pemasangannya justru merusak fasilitas yang digunakan rakyat.

Ruang publik sejatinya adalah milik bersama. Ketika satu kelompok mendominasi secara visual, warga lain kehilangan haknya untuk melihat kota yang bersih, netral, dan nyaman.

Kenapa Spanduk Politik Bermunculan Begitu Dini?

Kenapa saya bicara ini, ada setidaknya empat alasan utama yang mendorong fenomena ini:

1. Strategi “top of mind” politik

Dalam dunia pemasaran, ada istilah “frekuensi menciptakan familiaritas”. Semakin sering seseorang melihat wajah atau nama tokoh tertentu, semakin besar kemungkinan mereka mengingatnya saat pemilu tiba. Karena itulah spanduk tidak sekadar alat informasi — ia adalah alat psikologi massa. Ini baru baru setahu menjabat. MAsih empat tahun lagi akan ada pemilu.

2. Relawan bergerak lebih cepat daripada partai

Banyak spanduk tidak mencantumkan partai, hanya wajah tokoh dan nilai-nilai umum. Ini menandakan bahwa pemasangan tak selalu dilakukan oleh tim resmi, tapi oleh relawan yang ingin “mencari muka lebih awal”.

3. Aturan belum ditegakkan secara ketat

Meski pemerintah kota melarang pemasangan spanduk tanpa izin, penindakan sering lemah. Ketika tak ada sanksi nyata, para pemasang merasa leluasa. Pastinya akan ada pembersihan jika para petugas kebersihan saatnya razia.

4. Bandung dianggap kota strategis secara politik dan opini publik

Sebagai kota dengan konsentrasi pemilih muda, mahasiswa, dan kelas menengah berpandangan kritis, Bandung adalah panggung penting untuk membangun citra progresif.

Atau apakah Ini Tanda Kesadaran Politik Warga Meningkat?

Jawabnya Tidak sepenuhnya. Di satu sisi, kehadiran spanduk bisa dianggap sebagai tanda bahwa demokrasi bergerak; tokoh-tokoh berkompetisi, ide-ide ditawarkan ke publik.

“Fenomena Maraknya Spanduk Politik di Setiap Sudut Kota Bandung –sekali lagi– Menjelang Satu Tahun Pemerintahan Prabowo: Antara Kesadaran Politik dan Polusi Visual”

Memang dalam beberapa bulan terakhir, warga Bandung disuguhi pemandangan yang semakin terasa familiar: spanduk dan baliho politik muncul di mana-mana. Mulai dari perempatan besar hingga gang sempit, dari tiang listrik sampai pagar sekolah, hampir setiap sudut kota seperti tak lagi steril dari pesan-pesan politik.

Wajah-wajah tokoh publik, baik yang sudah menjabat maupun yang baru digadang-gadang, kini menghiasi ruang-ruang visual publik seakan ingin berkata: “Jangan lupakan aku.”

Fenomena ini menarik karena terjadi bahkan jauh sebelum masa kampanye resmi. Lebih spesifik lagi, ia mulai marak menjelang momen simbolis: satu tahun pemerintahan Prabowo. Meski belum jelas apakah spanduk-spanduk ini berhubungan langsung dengan pemerintah pusat, ritmenya menunjukkan satu hal: mesin politik menuju 2029 sudah mulai dipanaskan sejak sekarang.

Ruang Publik yang Berubah Menjadi Ruang Promosi Politik

Ada spanduk baliho berukuran 4×6 meter dengan kalimat-kalimat seperti “Teknokrat Nasionalis – Patriotik – Ekonom Kerakyatan”. Kalimatnya megah, Tidak sepenuhnya. Di satu sisi, kehadiran spanduk bisa dianggap sebagai tanda bahwa demokrasi bergerak; tokoh-tokoh berkompetisi, ide-ide ditawarkan ke publik. Namun di sisi lain, jika komunikasi politik hanya hadir dalam bentuk baliho dan slogan kosong, maka yang meningkat bukanlah kesadaran, melainkan kejenuhan politik.

Beberapa warga bahkan sudah bersikap defensif. Banyak yang mulai “mati rasa” terhadap wajah-wajah politik di jalanan. Alih-alih tertarik, justru muncul komentar seperti:

“Katanya nasionalis, tapi numpang pasang spanduk di pohon.”

Reaksi semacam ini menunjukkan bahwa publik sudah lebih kritis. Murahnya biaya cetak tidak lagi menjamin murahnya simpati.

Bandung Butuh Politik yang Rapi, Bukan Pamer Identitas

Politik sejatinya tak harus selalu hadir dalam bentuk visual. Ada politik yang bekerja melalui dialog warga, diskusi publik, forum RT/RW, hingga kerja nyata di lapangan. Sayangnya, model komunikasi seperti itu kalah populer dibanding spanduk yang bisa dipasang dalam lima menit.

Padahal, warga Bandung bukan masyarakat yang bisa diyakinkan hanya dengan senyum lebar di baliho. Mereka butuh bukti nyata. Butuh solusi untuk banjir di jalan Pagarsih, butuh trotoar yang tak diblok motor, butuh angkot yang tak ngetem sembarangan.

Jika ruang publik penuh spanduk tapi ruang diskusi publik kosong, maka demokrasi kita hanya menjadi dekorasi.
Apa yang Bisa Dilakukan Warga?

Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:

•Dokumentasi dan laporkan ke Satpol PP atau petugas kerbersihan (pertamanan) jika spanduk dipasang di lokasi terlarang (pohon, rambu lalu lintas, tiang listrik).

•Gunakan media sosial untuk memberi tekanan publik. Tag akun resmi Pemkot atau dinas kebersihan.

•Dorong dialog, bukan hanya protes. Kadang spanduk dipasang oleh warga atau ormas lokal tanpa pemahaman aturan. Edukasi bisa lebih efektif dari marah-marah.

•Buat tandingan kreatif. Komunitas Bandung terkenal mahir membuat mural dan kampanye visual cerdas. Daripada marah pada spanduk politik, buat karya yang mengingatkan: “Bandung bukan papan reklame.”

Menjelang Satu Tahun Pemerintahan Prabowo, Apa Makna Fenomena Ini?

Bisa jadi ini bentuk dukungan. Bisa jadi ini bentuk penjajakan. Bisa jadi ini ulah pihak yang ingin menunjukkan bahwa mereka bagian dari arah masa depan. Namun satu hal jelas:

Wajah politisi boleh hadir di mana-mana — tapi suara rakyat tetap tidak boleh dibungkam.

Kalau politisi berani menempel wajah mereka ke setiap tembok kota, maka rakyat juga harus berani menempelkan opini mereka di ruang publik, baik dalam bentuk kritik, karya, atau kontrol.

Bandung Milik Semua, Bukan Milik Satu Warna

Bandung bukan hanya milik politisi, relawan, atau partai. Bandung adalah milik tukang cilok, mahasiswa ngekos, ibu-ibu pengajian, driver ojek online, pekerja pabrik, sampai kucing liar di trotoar Asia Afrika atau Dago.

Maka jika ada yang ingin “menitipkan wajahnya” di kota ini, hendaknya ia juga menitipkan kepedulian dan aksi nyata. Sebab warga Bandung sudah terlalu pintar untuk jatuh cinta hanya lewat spanduk.

Nah adanya FENOMENA SPANDUK PRABOWO-PURBAYA ini sebuah kisah baru padahal belum setahun menjadi presiden dan sang menteri belum juga 6 bulan kenapa sudah main di gadangkan? Bagus sih fenomena gebrakannya paska mengganti menteri yang lama..hmmm.

Catatan akhirnya sebuah reputasi adalah jiwa besar yang berakar pada kejujuran. Ia tidak hidup dari tepuk tangan, tapi dari keheningan nurani yang terus memelihara integritas. Dan kita saksikan nanti.. Yuk ah.. soal ada yang mau komentara silakan atas spanduk yang lagi rame itu… Tabik. ***

Artikel terkait lainnya