Mulut Liar Trump ‘Hina’ MBS di Tengah Pusaran Isu Provokasi Perang Iran

DEMOCRAZY.ID – Gaya diplomasi ‘koboi’ ala Donald Trump kembali memakan korban.

Kali ini, sasaran mulut liarnya adalah sekutu strategis Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, yakni Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).

Di tengah pusaran konflik bersenjata antara koalisi AS-Israel melawan Iran yang terus mengguncang stabilitas global, Trump justru melontarkan cibiran vulgar yang merendahkan sang calon raja petrodolar.

​Ironisnya, hinaan tersebut terlontar dalam sebuah forum investasi yang disponsori langsung oleh pihak Arab Saudi.

Dengan gaya arogan yang khas, Presiden AS itu menyiratkan bahwa MBS kini sepenuhnya takluk dan bergantung pada kekuatan Washington.

​”Dia (MBS) tidak mengira hal ini akan terjadi. Dia tidak mengira akan menjilat pantat saya. Dia benar-benar tidak menyangkanya,” sesumbar Trump di hadapan publik.

​Pernyataan nir-etika ini jelas menjadi blunder diplomatik, terutama di saat pasar global sedang dilanda ketidakpastian hebat akibat eskalasi perang di Asia Barat.

Namun, arogansi Trump ini seolah mengonfirmasi adanya dinamika tarik-ulur tingkat tinggi yang tegang di balik layar antara Washington dan Riyadh.

​Bantahan Keras Arab Saudi

​Sikap merendahkan dari Trump ini muncul tak lama setelah mencuatnya isu sensitif mengenai peran MBS dalam konflik AS-Iran.

Berdasarkan laporan dari sejumlah sumber anonim yang memahami komunikasi tingkat tinggi AS-Saudi, MBS dituding secara tertutup terus mendorong Trump untuk melanjutkan perang dan menekan Iran secara agresif.

Tujuannya sangat ambisius: menjadikan krisis ini sebagai peluang bersejarah untuk membentuk ulang peta geopolitik Timur Tengah.

​Menyadari bahaya dari narasi tersebut, pemerintah Arab Saudi buru-buru mengambil langkah pengendalian kerusakan (damage control).

Mereka secara tegas membantah tudingan bahwa MBS bertindak sebagai provokator yang menginginkan perpanjangan perang.

Riyadh menegaskan posisi resminya yang diklaim selalu mengedepankan diplomasi.

​”Kerajaan Arab Saudi selalu mendukung penyelesaian damai atas konflik ini, bahkan sebelum konflik ini dimulai,” urai pemerintah Arab Saudi dalam pernyataan resminya.

​Pihak kerajaan menekankan bahwa komunikasi intensif dengan AS saat ini murni difokuskan pada pertahanan negara.

“Prioritas utama kami saat ini adalah membela diri dari serangan harian terhadap rakyat dan infrastruktur sipil kami,” tambah pemerintah Riyadh.

​Lebih lanjut, Arab Saudi justru membalikkan telunjuk dengan menuding Teheran sebagai akar dari memburuknya situasi kawasan.

“Iran telah memilih permainan politik yang berbahaya daripada solusi diplomatik yang serius. Ini merugikan setiap pihak yang terlibat, tetapi tidak ada yang lebih dirugikan daripada Iran sendiri,” pungkas pernyataan tersebut.

​Situasi ini memperlihatkan kontras yang tajam. Di satu sisi, Arab Saudi berusaha keras menampilkan citra sebagai negara rasional yang fokus pada pertahanan diri.

Namun di sisi lain, celetukan vulgar Trump justru menelanjangi realita politik transaksional yang keras, sekaligus berpotensi memicu keretakan aliansi pada momen yang paling krusial.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya