Momen Ustadz Wijayanto Menunjukkan Ijazah Asli Alumnus UGM

DEMOCRAZY.ID – Suasana Tablig Akbar Milad Ke-50 SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo, Jawa Timur, di Masjid An-Nur, Jumat (16/1/2026), jauh dari kesan kaku.

Jemaah yang memadati masjid di Jalan Mojopahit 666 B itu dibuat larut dalam gelak tawa, tanpa kehilangan bobot pesan keilmuan dan refleksi sosial.

Pencair suasana pagi itu adalah Drs. Wijayanto, S.Sos., MA, penceramah yang dikenal gemar mengemas materi serius dengan humor segar.

Di tengah kajian, ia tiba-tiba mengangkat ponsel dan memperlihatkan sebuah dokumen di layar.

“Ini UGM asli,” ucapnya singkat, merujuk pada ijazahnya dari Universitas Gadjah Mada. Spontan, jemaah tertawa.

Kajian pun kian hidup.

Dengan gaya ringan namun mengena, Wijayanto mengajak jemaah menengok kondisi riil masyarakat Indonesia.

Ia menyebut tiga persoalan utama yang kerap ditemuinya: kurang responsif, malas berpikir, dan sulit fokus.

Tiga isu itu disampaikan tanpa nada menggurui, justru dibalut humor yang membuat jamaah merasa dekat dengan realitas yang sedang dibahas.

Humor kembali mengalir saat ia menyinggung istilah “haji macam-macam”.

“Ada haji Abidin, atas biaya dinas. Ada haji mansur, halaman rumah kena gusur,” katanya, disambut tawa.

Ia menambahkan celetukan khas lokal, “Kalau orang Sidoarjo tersasar, jangan dicari di masjid. Cari di pasar, pasti ketemu.”

Namun di balik kelakar, Wijayanto menyelipkan refleksi serius.

Berbekal pengalaman mengunjungi 36 negara, ia menyoroti Jepang sebagai contoh negara maju yang menghadapi persoalan berat pada kesehatan mental.

Tingginya angka bunuh diri, menurutnya, dipicu oleh empat faktor utama: kebosanan hidup, tekanan kerja, persoalan asmara, dan perundungan.

“Sekolah di Jepang justru yang paling banyak bullying. Enam kali saya ke Jepang, itu fakta yang saya temukan,” ujarnya.

Dosen UGM itu menegaskan bahwa kecerdasan akademik tidak pernah cukup bila berjalan sendiri.

Pendidikan, katanya, harus disertai pembentukan karakter dan ketahanan mental.

Ia mengajak jamaah—orang tua, pendidik, dan pelajar—menjadi pribadi yang mempesona, hangat, dan penuh energi positif.

“Kalau jamaah tertawa, berarti ada energi positif yang bergerak,” tuturnya.

Di bagian penutup, Wijayanto menekankan pentingnya keselarasan pendidikan di sekolah dan di rumah.

Keluarga memegang peran kunci dalam membangun atmosfer religius dan sehat secara psikologis.

Pendidikan agama, menurutnya, bukan semata menyiapkan anak menuju surga, tetapi juga menjadi jalan bagi orang tua untuk ikut terangkat derajatnya menuju surga tertinggi.

Tablig Akbar ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Milad Ke-50 Smamda yang mengusung tema “Mencerahkan Umat, Membangun Peradaban Berkemajuan.”

Sebuah perayaan setengah abad yang dirayakan dengan tawa, refleksi, dan harapan akan pendidikan yang semakin utuh—cerdas, berkarakter, dan berkemajuan.

[FULL VIDEO]

Sumber: Tagar

Artikel terkait lainnya