DEMOCRAZY.ID – Dunia intelijen internasional saat ini tengah menaruh perhatian penuh pada situasi politik di Teheran.
Badan mata-mata Amerika Serikat dan Israel dilaporkan sedang mengalami kebuntuan dalam melacak posisi Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Ketidakhadiran sosok utama Iran ini menjadi sorotan tajam bertepatan dengan momen perayaan tahun baru Nowruz.
Laporan dari Axios menyebutkan bahwa CIA serta Mossad merasa kesulitan karena Mojtaba tidak menampakkan diri.
Padahal secara tradisi pemimpin tertinggi Iran selalu hadir secara fisik di hadapan publik setiap tahun baru.
Namun pada peringatan Jumat (20/3) kemarin sang pemimpin justru sama sekali tidak terlihat oleh khalayak.
Platform media sosial resminya hanya mengunggah pernyataan tertulis yang berisi ajakan untuk menjaga persatuan nasional.
Sejak didapuk menggantikan mendiang ayahnya yang wafat akibat serangan pada akhir Februari lalu ia belum muncul.
Muncul dugaan kuat bahwa Mojtaba mengalami luka serius akibat peristiwa ledakan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
Beberapa informasi menyebutkan ia menderita cedera sobek pada wajah serta mengalami patah tulang kaki.
Kabar dari media Kuwait Al Jarida mengklaim bahwa Mojtaba sedang berada di Rusia untuk pemulihan.
Ia disebut diterbangkan ke Moskow menggunakan armada militer atas instruksi langsung dari Presiden Vladimir Putin.
Akan tetapi pernyataan tersebut langsung dimentahkan oleh Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali.
Bantahan diplomatik itu justru membuat status keberadaan sang pemimpin menjadi semakin gelap dan tidak pasti.
Kondisi ini memaksa badan intelijen dunia bekerja ekstra keras untuk mendapatkan koordinat pasti sang pemimpin.
CIA bahkan mulai melakukan verifikasi terhadap foto-foto lama di media sosial untuk mencari petunjuk baru.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang identitasnya dirahasiakan memberikan komentar terkait absennya sang pemimpin dalam tradisi tersebut.
“Kami berharap melihat Mojtaba juga dalam bentuk tertentu. Dia tidak memanfaatkan kesempatan dan tradisi tersebut,” kata pejabat AS tersebut.
Lebih lanjut ia memberikan penilaian bahwa situasi ini menunjukkan kondisi yang tidak menguntungkan bagi stabilitas.
“Ini adalah pertanda buruk,” ujarnya lagi dengan nada penuh kekhawatiran.
Pakar keamanan Raz Zimmt menilai bahwa kemungkinan besar Mojtaba sedang mengendalikan urusan dari balik layar.
Faktor keamanan dan kondisi kesehatan yang belum pulih diduga kuat menjadi alasan ia tetap bersembunyi.
“Dalam keadaan luar biasa saat ini, kita tidak bisa mengharapkan dia untuk tampil di depan umum dan mungkin saja cedera yang dialaminya bahkan tidak memungkinkan dia untuk merilis video rekaman agar tidak memperlihatkan kepada publik seberapa parah kondisinya,” kata Zimmt.
Di sisi lain pimpinan CIA menyatakan bahwa struktur pemerintahan Iran ternyata tidak langsung runtuh pasca-kematian Khamenei.
Meskipun demikian pihak Barat meyakini sedang terjadi guncangan hebat dalam rantai komando militer mereka.
Hingga saat ini pihak Israel belum bisa memastikan siapa yang memberikan instruksi strategis di Iran.
“Kami tidak memiliki bukti bahwa dialah yang benar-benar memberi perintah,” kata seorang pejabat senior Israel.
Meskipun intelijen yakin Mojtaba masih hidup namun akses pertemuan tatap muka selalu ditolak dengan alasan keamanan.
Ketidakpastian ini semakin diperparah dengan kematian Ali Larijani yang tewas dalam serangan di Teheran.
AS dan Israel kini menduga bahwa kekuatan nyata Iran kemungkinan besar dipegang oleh Korps Garda Revolusi.
Seorang pejabat Amerika Serikat bahkan merasa aneh dengan skema kepemimpinan yang sedang terjadi di sana.
“Ini sangat aneh. Kami kira Iran tidak akan bersusah payah memilih orang yang sudah meninggal sebagai pemimpin tertinggi, tapi pada saat yang sama, kami juga tidak punya bukti bahwa dia mengambil alih kepemimpinan,” kata pejabat AS.
Sumber: Suara