DEMOCRAZY.ID – Jagat media sosial kembali diramaikan dengan kritik keras yang menyasar elite politik Indonesia.
Seorang warganet di platform X (dulu Twitter) dengan akun @TogaHglQ melontarkan sindiran tajam terhadap sikap pemerintah yang dinilai pasif atas tewasnya seorang pemimpin Asia di wilayah negaranya sendiri akibat serangan kekuatan asing.
Dalam unggahannya, akun tersebut menggunakan gaya retoris yang disebut-sebut “ala-ala Soekarno”, lengkap dengan julukan “Macan Asia” dan seruan khas, “Haaai Antek Asing!”
Akun itu menulis: “Pemimpin di Asia dibunuh di wilayah negaranya yang berdaulat oleh kekuatan asing. Jangankan protes, mengucap belasungkawa pun tak berani. Tua-tua biawak. Makin tua makin lawak.”
Unggahan tersebut merujuk pada eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Israel serta keterlibatan Amerika Serikat.
Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, narasi yang dibangun akun itu mengarah pada kritik terhadap sikap pemerintah Indonesia yang dinilai tidak cukup tegas dalam merespons kematian tokoh penting di kawasan Asia akibat serangan asing.
Frasa “Macan Asia” sendiri kerap digunakan untuk menggambarkan Indonesia sebagai negara besar dengan populasi muslim terbesar di dunia dan posisi strategis di kawasan.
Namun, dalam unggahan tersebut, istilah itu justru dipakai secara satir.
Penggunaan gaya bahasa menyerupai retorika Soekarno menjadi perhatian tersendiri.
Diksi seperti “Antek Asing” dan nada konfrontatif mengingatkan publik pada pidato-pidato Presiden pertama RI yang dikenal keras terhadap imperialisme dan kolonialisme.
Bagi sebagian warganet, unggahan tersebut dianggap sebagai ekspresi kekecewaan terhadap arah politik luar negeri Indonesia yang dinilai terlalu berhati-hati.
Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang mengingatkan bahwa diplomasi tidak selalu dilakukan secara terbuka dan retoris.
Indonesia secara konstitusional menganut politik luar negeri bebas aktif.
Dalam konteks konflik global, pemerintah sering kali memilih jalur diplomasi tertutup, komunikasi bilateral, dan pendekatan multilateral melalui forum internasional.
Namun di era media sosial, tuntutan terhadap pernyataan terbuka dan sikap tegas semakin menguat.
Publik tidak hanya menilai kebijakan, tetapi juga simbol dan gestur politik.
Unggahan @TogaHglQ menunjukkan bagaimana ruang digital menjadi arena baru pertarungan opini, tempat narasi nasionalisme, kedaulatan, dan keberanian diplomatik diperdebatkan secara terbuka—kadang dengan nada satir, kadang dengan amarah.
Apakah “Macan Asia” masih mengaum, atau justru memilih berbisik di balik layar diplomasi? Perdebatan itu tampaknya akan terus bergulir di ruang publik.
Julukan: Macan Asia.
Gaya: ala-ala Soekarno.
Ucapan terkenal: Haaai Antek Asing!Pemimpin di Asia dibunuh di wilayah negaranya yang berdaulat oleh kekuatan asing. Jangankan protes, mengucap belasungkawa pun tak berani.
Tua-tua biawak. Makin tua makin lawak.
— Toga Nainggolan (@TogaHQ) March 4, 2026
Sumber: RadarAktual