DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang tatanan geopolitik global.
Di tengah berkecamuknya perang di Timur Tengah, Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk terlibat langsung dalam proses suksesi kepemimpinan Iran pasca-gugurnya Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam pernyataan yang memicu perdebatan sengit, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam melihat suksesi di Teheran.
Ia secara spesifik melarang Mojtaba Khamenei, putra mendiang Khamenei pemimpin tertinggi Iran, untuk naik takhta.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Amerika, ketika situasi politik Iran tengah memanas di tengah konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Trump menilai Mojtaba Khamenei tidak memiliki kapasitas untuk memimpin Iran dan menyebut pencalonannya sebagai langkah yang tidak dapat diterima oleh Washington.
“Mereka membuang-buang waktu. Putra Khamenei itu figur ringan. Saya harus terlibat dalam penunjukannya,” kata Trump.
Menurut Trump, Amerika Serikat menginginkan pemimpin Iran yang mampu membawa stabilitas dan perdamaian, bukan sosok yang melanjutkan kebijakan konfrontatif pemerintahan sebelumnya.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima bagi saya. Kami ingin seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian bagi Iran,” ujarnya.
Trump juga memperingatkan bahwa jika Iran kembali dipimpin oleh figur yang melanjutkan kebijakan keras pemerintahan sebelumnya, konflik antara kedua negara bisa kembali meletus.
Ia bahkan menyebut kemungkinan perang baru dalam lima tahun ke depan jika kepemimpinan Iran tidak berubah arah.
Pernyataan tersebut muncul hanya sehari setelah Gedung Putih menegaskan bahwa pergantian rezim bukan tujuan utama operasi militer Amerika Serikat di Iran.
Namun komentar Trump justru memunculkan spekulasi baru bahwa Washington ingin memainkan peran besar dalam masa depan politik Teheran.
Namun, di jalan-jalan Teheran, pernyataan Trump justru membangkitkan trauma kolektif.
Rakyat Iran masih mengingat dengan jelas peristiwa kudeta tahun 1953 yang didukung oleh CIA, di mana Amerika Serikat menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh yang terpilih secara demokratis.
Bagi publik Iran, intervensi Trump dianggap sebagai pengulangan sejarah yang pahit.
Mohamed Vall, koresponden Al Jazeera dari Teheran, melaporkan bahwa sentimen publik di sana sangat kompa.
“Itu tidak akan terjadi lagi,” katanya.
Upaya Washington untuk mendikte kursi pemimpin tertinggi justru dipandang sebagai penghinaan terhadap kedaulatan bangsa, yang justru bisa memperkuat persatuan internal di tengah gempuran militer.
Komentar Trump ini menciptakan kontradiksi tajam dengan narasi Gedung Putih.
Hanya sehari sebelumnya, pejabat tinggi AS menegaskan bahwa “perubahan rezim” bukan tujuan utama operasi militer mereka.
Pernyataan Trump justru membuka tabir bahwa Washington kini membidik kendali politik penuh atas masa depan Iran.
Para analis memperingatkan bahwa langkah ini sangat berbahaya. Alih-alih menciptakan stabilitas, campur tangan langsung Amerika dapat memperpanjang durasi konflik dan menutup rapat pintu diplomasi.
Di sisi lain, dunia internasional memandang proses suksesi ini bukan lagi sekadar urusan domestik Iran, melainkan medan persaingan pengaruh global yang mematikan.
Kini, pertanyaan besarnya bukan lagi siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya, melainkan seberapa jauh Amerika Serikat bersedia melangkah untuk menanamkan pengaruhnya di tanah yang pernah mereka guncang tujuh dekade silam.
Sumber: Tribun