DEMOCRAZY.ID – Dalam sejarah Islam, tidak semua istri nabi dikenal sebagai wanita yang taat dan berbakti kepada suaminya.
Faktanya, siapa istri nabi yang masuk neraka adalah pertanyaan penting yang jawabannya tertulis jelas dalam Al-Quran.
Meskipun memiliki kedudukan mulia sebagai istri nabi, ada dua wanita yang justru membangkang dan bertindak melawan ajaran yang disampaikan suaminya.
Kedua istri nabi yang masuk neraka ini adalah istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth.
Melansir dari buku Ulumul Qur’an: Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, disebutkan beberapa kisah tentang wanita ahli neraka dalam Al-Qur’an, dua di antaranya merupakan istri dari nabi utusan Allah SWT.
Berikut ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (5/11/2025).
Pertanyaan tentang siapa istri nabi yang masuk neraka dijawab secara tegas dalam Al-Quran melalui Surah At-Tahrim ayat 10.
Allah SWT menjadikan dua istri nabi sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir yang membangkang, yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth.
Keduanya hidup di bawah pengawasan suami yang merupakan hamba Allah yang saleh, namun memilih jalan kekafiran dan pengkhianatan.
Kedudukan sebagai istri nabi ternyata tidak menjamin keselamatan di akhirat jika tidak disertai dengan iman dan ketaatan.
Kisah kedua wanita ini menjadi pelajaran bahwa ikatan keluarga, bahkan dengan para nabi, tidak akan bermanfaat jika seseorang memilih jalan kesesatan.
Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa kedua istri ini akan masuk neraka bersama orang-orang kafir lainnya.
Menurut berbagai kitab tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir, pengkhianatan yang dilakukan oleh kedua istri nabi ini bukan dalam bentuk perzinaan, melainkan pengkhianatan dalam hal akidah dan dukungan terhadap dakwah suami mereka.
Istri Nabi Nuh mengingkari risalah yang dibawa suaminya dan bahkan menghina Nabi Nuh di hadapan kaumnya.
Sementara istri Nabi Luth memberikan informasi kepada kaum Sodom tentang tamu-tamu Nabi Luth, sehingga membantu kaum yang melakukan kemaksiatan tersebut.
Kisah kedua istri nabi yang masuk neraka ini menegaskan prinsip penting dalam Islam bahwa amal dan iman seseorang bersifat individual.
Al-Qur’an secara gamblang mengisahkan tentang istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth dalam Surah At-Tahrim ayat 10.
Ayat ini berfungsi sebagai peringatan dan perumpamaan bagi orang-orang yang ingkar, menegaskan bahwa hubungan kekerabatan dengan orang saleh tidak akan menyelamatkan seseorang dari azab Allah jika ia sendiri tidak beriman.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 10:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
Artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke dalam jahanam bersama orang-orang yang masuk (neraka jahanam)’.”
Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa kedua istri nabi tersebut berkhianat kepada suami mereka, yang merupakan hamba-hamba Allah yang saleh. Pengkhianatan di sini diartikan sebagai ketidaksetiaan dalam hal keimanan dan penolakan terhadap risalah yang dibawa oleh suami mereka. Akibatnya, suami mereka tidak dapat memberikan pertolongan sedikit pun dari siksa Allah, dan mereka diperintahkan untuk masuk neraka bersama orang-orang yang ingkar.
Pesan utama dari ayat ini adalah bahwa iman adalah urusan pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Tidak ada perantara yang dapat menyelamatkan seseorang dari hukuman ilahi jika ia memilih jalan kekafiran.
Kisah ini menjadi pengingat keras bagi setiap individu untuk senantiasa menjaga keimanan dan ketaatan, terlepas dari status sosial atau hubungan kekerabatan mereka.
Istri Nabi Nuh menjadi salah satu contoh wanita yang durhaka meskipun memiliki suami yang sangat saleh. Nabi Nuh adalah rasul yang berdakwah selama 950 tahun untuk mengajak kaumnya beriman kepada Allah, namun istrinya justru menolak ajaran tersebut dan memilih bersama orang-orang kafir.
Istri Nabi Nuh tidak hanya menolak untuk beriman, tetapi juga aktif menghalangi dakwah suaminya.
Ia sering menghina dan merendahkan Nabi Nuh di hadapan kaumnya, mengatakan bahwa suaminya adalah orang gila dan tidak waras.
Tindakan ini sangat menyakitkan bagi Nabi Nuh yang telah bersabar selama ratusan tahun menghadapi penolakan kaumnya.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera sebagai persiapan menghadapi banjir besar, istri Nabi Nuh menolak untuk naik ke dalamnya.
Ia menganggap peringatan suaminya tentang datangnya azab sebagai omong kosong dan kebohongan belaka.
Sikap sombong dan keras kepala ini membuatnya tetap tinggal bersama orang-orang kafir.
Akibat kedurhakaan dan keengganannya untuk beriman, istri Nabi Nuh akhirnya ikut tenggelam bersama kaum yang kafir ketika banjir besar datang.
Melansir dari Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, kematian istri Nabi Nuh dalam banjir tersebut merupakan awal dari azab yang lebih besar di akhirat, yaitu azab neraka jahanam.
Kedurhakaan istri Nabi Nuh juga berdampak pada salah satu anaknya yang bernama Kan’an.
Anak ini menolak naik ke bahtera bersama ayahnya dan memilih mencari perlindungan di atas gunung.
Namun gelombang besar menjadi penghalang dan ia pun tenggelam, sebagaimana tercantum dalam Surah Hud ayat 43.
Kisah istri Nabi Nuh mengajarkan bahwa kedudukan sosial atau hubungan keluarga tidak akan menyelamatkan seseorang dari azab Allah jika tidak disertai dengan iman dan ketaatan.
Seorang istri yang memiliki suami nabi sekalipun akan masuk neraka jika memilih jalan kekafiran dan pembangkangan terhadap ajaran Allah.
Istri Nabi Luth adalah contoh kedua dari istri nabi yang masuk neraka sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Tahrim ayat 10.
Pengkhianatannya terhadap Nabi Luth dilakukan dengan cara membantu kaum Sodom yang melakukan perbuatan keji dan menentang dakwah suaminya.
Istri Nabi Luth secara diam-diam memberikan informasi kepada kaum Sodom tentang tamu-tamu yang datang ke rumah Nabi Luth.
Ketika ada tamu laki-laki yang datang, ia akan memberikan sinyal atau informasi kepada kaum yang melakukan homoseksual tersebut.
Tindakan ini sangat mempersulit dakwah Nabi Luth dan membahayakan para tamu yang datang untuk berlindung.
Istri Nabi Luth tidak hanya bersikap pasif, tetapi aktif mendukung kemaksiatan yang dilakukan oleh kaum Sodom.
Ia tidak merasa malu atau bersalah dengan perbuatan kaumnya yang melakukan homoseksual dan berbagai kemaksiatan lainnya.
Bahkan ia menganggap perbuatan tersebut sebagai hal yang wajar dan biasa.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Luth untuk meninggalkan negeri Sodom bersama keluarganya sebelum azab turun, Allah secara khusus memerintahkan agar istri Nabi Luth tidak dibawa serta.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, hal ini menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan azab baginya karena kedurhakaan dan pengkhianatannya.
Firman Allah dalam Surah Hud ayat 81 menyebutkan bahwa istri Nabi Luth akan ditimpa azab yang sama dengan kaumnya.
Ketika azab berupa gempa bumi, tanah longsor, dan hujan batu menimpa kaum Sodom, istri Nabi Luth juga ikut binasa bersama mereka. Kematiannya menjadi awal dari azab yang kekal di neraka jahanam.
Kisah istri Nabi Luth mengajarkan bahwa pengkhianatan dalam hal agama adalah dosa yang sangat besar.
Meskipun secara lahiriah ia adalah istri seorang nabi, tetapi hatinya tidak beriman dan tindakannya mendukung kemaksiatan.
Hal ini menunjukkan bahwa iman yang sejati harus disertai dengan loyalitas dan dukungan terhadap kebenaran.
Sumber: Liputan6