DEMOCRAZY.ID – Rangkaian dokumen rahasia yang baru saja dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada awal 2026 membuka tabir mengerikan mengenai ambisi pribadi Jeffrey Epstein.
Di balik jaringan kejahatan seksualnya yang menyasar anak di bawah umur, Epstein ternyata memiliki obsesi untuk menciptakan “pabrik bayi” atau generasi manusia unggul melalui teknologi rekayasa genetika dan kecerdasan buatan.
Melansir laporan The Guardian, Epstein berencana menghamili banyak perempuan di peternakan luas miliknya di New Mexico untuk melahirkan keturunan yang memiliki DNA-nya.
Gagasan ini memandang tubuh perempuan hanya sebagai alat produksi biologis, sebuah ideologi ekstrem yang menghapus unsur persetujuan dan kemanusiaan.
Obsesi Epstein terhadap rekayasa manusia ini memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan program Lebensborn yang dijalankan oleh rezim Nazi Jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitler.
Menurut data United States Holocaust Museum, pada tahun 1935, organisasi elit SS pimpinan Heinrich Himmler mendirikan program Lebensborn (berarti “Sumber Kehidupan”).
Tujuannya adalah memproduksi secara massal generasi ras “Arya” yang dianggap paling unggul secara biologis.
Kasus Epstein bukan sekadar tentang predator seksual, melainkan tentang kegagalan sistem yang melindungi orang-orang berpengaruh.
Senator AS, Ben Sasse, sebelumnya mengecam kesepakatan hukum Epstein pada 2008 sebagai “kegagalan sistem yang menjijikkan.”
Nama-nama besar seperti Pangeran Andrew, Bill Gates, Donald Trump, hingga Bill Clinton terus terseret dalam pusaran dokumen ini karena interaksi mereka dengan Epstein.
Meski masing-masing tokoh tersebut membantah terlibat dalam tindakan ilegal, kehadiran mereka dalam arsip jutaan halaman ini menunjukkan bagaimana Epstein memposisikan dirinya sebagai perantara kekuasaan global.
Salah satu fakta paling krusial yang sedang didalami penyelidik adalah dugaan keterkaitan Epstein dengan intelijen Israel.
Rekan terdekatnya, Ghislaine Maxwell, adalah putri dari konglomerat media Robert Maxwell yang diketahui memiliki hubungan erat dengan Mossad.
Para ahli intelijen menduga operasi Epstein merupakan skema kompromat klasik:
Menjebak tokoh berpengaruh (bangsawan, duta besar, hingga pengusaha) ke dalam situasi yang memalukan.
Merekam kejadian tersebut secara diam-diam.
Menggunakan rekaman tersebut sebagai alat tawar (leverage) dalam negosiasi diplomatik, perdagangan, atau kesepakatan keamanan.
Jika Epstein memang beroperasi sebagai aset intelijen, maka pengaruhnya melampaui keuntungan pribadi, melainkan merambah ke wilayah manipulasi geopolitik yang mampu mengubah keseimbangan kekuasaan di berbagai kawasan dunia.
Sumber: Suara