DEMOCRAZY.ID – Pernahkah mendengar Nabi Khidir? Banyak yang menganggap beliau masih hidup. Benarkah demikian?
Umat Islam wajib mengimani 25 nabi dan rasul. Namun, ternyata ada lebih banyak jumlah nabi dan rasul yang diutus Allah SWT.
Salah satunya adalah Nabi Khidir, yang dikisahkan bertemu dengan Nabi Musa. Namun, eksistensi Nabi Khidir ini menimbulkan perdebatan.
Ada yang menganggap Nabi Khidir masih hidup, tapi tak sedikit juga yang percaya bahwa ia sudah meninggal.
Kalangan ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hal ini.
Sebagian besar meyakini Nabi Khidir masih hidup dan baru akan wafat mendekati hari kiamat.
Namun, banyak ahli hadis ternama seperti Imam Bukhari dan Ibnu Taimiyah beranggapan bahwa Nabi Khidir sudah wafat.
Pendapat itu berlandaskan surah Al-Anbiya’ ayat 34:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
Wa maa ja’alnaa libasharim min qablikal khuld; afaimmitta fahumul khaalidoon
Artinya: Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW sama dengan manusia lainnya, yakni tidak akan kekal di dunia ini.
Allah SWT belum pernah memberikan kehidupan duniawi yang kekal kepada siapa pun sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, Allah SWT juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad akan meninggal dunia seperti nabi dan rasul sebelumnya.
Kalimat “seperti nabi dan rasul sebelumnya” dapat diartikan bahwa Nabi Khidir pun dianggap sudah wafat.
Selain itu, hadis riwayat Bukhari-Muslim menjelaskan bahwa tidak ada manusia yang hidup seratus tahun lagi dari waktu Nabi Muhammad SAW bersabda.
Sosok Nabi Khidir diceritakan dalam surah Al-Kahfi ayat 60-82. Ayat-ayat itu mengisahkan pertemuan Nabi Musa dengan Balya bin Malkan, yang para ahli tafsir sebut sebagai Khidir.
Para ahli tafsir tersebut juga berpendapat bahwa Khidir adalah seorang nabi berdasarkan firman Allah SWT dalam ayat 65-66 yang artinya:
“Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi kami. Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”.
Adapun pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir merupakan bentuk teguran dari Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam hadis berikut:
“Bahwasanya Musa AS (pada suatu hari) berkhotbah di hadapan Bani Israil. Kemudian, ada orang bertanya kepada beliau, “Siapakah manusia yang paling alim”. Beliau menjawab, “Aku”. Maka Allah menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah SWT. Kemudian, Allah mewahyukan kepadanya, “Aku mempunyai seorang hamba di tempat pertemuan dua laut yang lebih alim daripadamu”. (HR al-Bukhari dari Ubay bin Ka’ab)
Secara keseluruhan, ayat 60-82 surah Al-Kahfi menceritakan perjalanan Nabi Khidir untuk mengajarkan ilmu dan hikmah di balik tiga peristiwa yang ia tunjukkan kepada Nabi Musa.
Ketiga peristiwa itu adalah merusak perahu, membunuh anak, dan menegakkan dinding rumah yang hampir roboh, yang semuanya dipertanyakan Nabi Musa.
Pada akhir pertemuan mereka, Nabi Khidir pun menjelaskan hikmah di balik perbuatannya yaitu:
“Perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu”. (QS. Al-Kahfi: 79)
“Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran”. (QS. Al-Kahfi: 80)
“Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya)”. (QS. Al-Kahf: 81)
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya”. (QS. Al-Kahfi: 82)
Sumber: Inilah