DEMOCRAZY.ID – Rezim Zionis memberikan jawaban canggung ketika ditanya mengapa hanya Israel yang berhak memiliki bom nuklir di kawasan Timur Tengah, sedangkan negara lainnya tidak berhak.
Dengan mempertahankan kebijakan ambiguitas, Zionis melalui diplomatnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tak bisa mengelak bahwa Israel mengadopsi standar ganda terkait hak senjata pemusnah massal tersebut.
Trump Beri Sinyal Akan…
Dalam sesi tanya jawab yang tegang dengan jurnalis di PBB, Duta Besar Israel Danny Danon membela sikap nuklir eksklusif negaranya, menyebutnya penting untuk stabilitas Timur Tengah.
“Mengapa Israel memiliki hak untuk memperoleh senjata nuklir, tetapi tidak ada negara Timur Tengah lain yang memiliki hak yang sama?” tanya seorang jurnalis, menyoroti gesekan diplomatik yang telah berlangsung lama, seperti dikutip dari Roya News, Jumat (27/3/2026).
Sekadar diketahui, Israel tetap menjadi satu-satunya negara Timur Tengah di luar Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), kerangka kerja internasional yang bertujuan untuk mengekang penyebaran senjata nuklir.
Mendapat pertanyaan itu, Danon mencoba menghindari konfirmasi langsung tentang persenjataan nuklir Israel dengan alasan kebijakan negara tersebut tentang “amimut” atau ambiguitas.
Dia berkata, “Seseorang harus bertanya pada diri sendiri tentang setiap negara: ‘Siapa yang membawa stabilisasi ke wilayah tersebut dan siapa yang membawa kekacauan?'”
Dia menambahkan, “Israel adalah kekuatan penstabil di wilayah tersebut. Kami menginginkan perdamaian.”
Ketika didesak lagi tentang hal-hal spesifik senjata nuklir Israel, Danon mengakhiri sesi tersebut secara tiba-tiba, dengan mengatakan, “Saya sudah [menjawab]”, dan kemudian meninggalkan podium.
Sejak tahun 1960-an, Israel belum pernah mengonfirmasi maupun menyangkal statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.
Para kritikus berpendapat bahwa monopoli nuklir ini merusak prospek Zona Bebas Senjata Nuklir (NWFZ) di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, negara-negara seperti Iran menghadapi pengawasan dan sanksi internasional yang ketat sebagai penandatangan NPT, sedangkan Israel mempertahankan kemampuannya tanpa inspeksi wajib oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Konfrontasi ini menggarisbawahi perdebatan yang terus berlanjut tentang kesetaraan nuklir dan ketegangan diplomatik seputar posisi militer unik Israel di Timur Tengah.
Sumber: SINDO