Membedah 3 Cara Gibran ‘Balas’ Kritik Pedas dari Komika Pandji Pragiwaksono

DEMOCRAZY.ID – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dikritik tajam oleh komika Pandji Pragiwaksono melalui stand up comedy show bertajuk Mens Rea yang tayang di platform Netflix sejak akhir Desember 2025.

Dalam Mens Rea, Pandji mempertanyakan kualitas Gibran sebagai pemimpin.

“Presidennya maafin koruptor. Wapresnya Gibran,” kata Pandji.

Tidak hanya itu, Pandji menyindir penampilan Gibran dengan menyebutnya memiliki “mata ngantuk”.

“Ada yang milih pemimpin berdasarkan tampang, banyak. Ganjar ganteng ya. Anies manis ya. Prabowo gemoy ya. Atau Wakil Presidennya, Gibran, ngantuk ya. Salah nada salah nada, maaf, Gibran ngantuk ya? Nah gitu nadanya. Gibran ngantuk ya? Kayak orang ngantuk ya dia,” katanya.

Cara Gibran membalas kritik

Setelah mendapat sindiran dan kritik dari Pandji, Gibran tidak diam saja. Dia membalasnya dengan caranya.

Pengamat politik Adi Prayitno dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta membedah cara Gibran membalas kritik dan melakukan komunikasi politiknya.

Menurut dia, setidaknya ada tiga hal yang dilakukan Gibran.

Pertama, beberapa hari lalu Gibran menggunakan backsound lagu Melayu untuk membuat konten tentang kunjungan kerja ke Doss Guava XR Studio. Lagu itu pernah dinyanyikan oleh Pandji.

Adi mengatakan publik menganggap konten itu merupakan cara Gibran merespons kritik Pandji.

“Pesan politiknya sederhana. Sepertinya Gibran itu tidak baper. Gibran itu biasa-biasa saja dengan kritikan-kritikan semacam itu karena seorang pejabat publik kalau ada kritik, kalau ada serangan, bahkan bully-bully-an, adalah hal yang biasa,” ujar Adi dalam video yang tayang di kanal YouTube miliknya, Jumat, (9/1/2026).

Dia berkata Gibran seperti ingin mengatakan bahwa kritik-kritik yang diarahkan kepadanya tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.

“Ini memastikan bahwa Gibran cukup memantau situasi yang berkembang, terutama percakapan-percakapan di media sosial,” katanya.

Lalu, Adi mengklaim cara seperti itu adalah cara khas yang dimiliki Gibran ketika menjawab kritik.

Yang kedua, Gibran bertemu dengan sejumlah artis dan tokoh masyarakat seperti Teuku Adifitrian atau dokter Tompi, Raffi Ahmad, Melani Ricardo, dan Iko Uwais.

Adi berkata Tompi sempat bersitegang atau berbantah-bantahan dengan Pandji karena Tompi dinilai membela Gibran. Tompi menganggap kritik Pandji sudah menyinggung fisik Gibran.

Mengenai Raffi Ahmad, Adi menyebut artis yang diangkat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni itu juga tak lolos dari kritik Pandji.

“Ini semacam pesan politik bahwa orang-orang yang dikritik oleh dikritik oleh Pandji, disenggol oleh Pandji, diajak ketemu dan diajak kumpul oleh Gibran. Ini semacam pesan bahwa orang-orang yang dikritik Pandji itu adalah orang-orang yang tidak terlampau mempersoalkan apa pun dengan kritikan-kritikan itu,” kata Adi menjelaskan.

Yang ketiga, dalam pertemuannya dengan Tompi dan Raffi, Gibran membahas cara melakukan pemulihan dan pembangunan di Sumatra yang dilanda bencana alam banjir bandang dan tanah longsor.

“Apalagi dalam pernyataan politiknya, Gibran memberikan apresiasi kepada kawan-kawan seniman, budayawan, yang dinilai punya solidaritas yang luar biasa. Berkumpul mengumpulkan donasi,” ucap Adi.

“Secara politik, sepertinya Gibran itu ingin kasih pesan, ya seniman atau siapa pun, bahwa yang dia dibicarakan itu adalah hal-hal yang konkret dan turut serta bagaimana berkontribusi yang terkait dengan bencana alam di Sumatra.”

Adi mengatakan gaya politik semacam itu sengaja ingin ditunjukkan Gibran setelah mendapatkan kritik dari Pandji.

Menurut Adi, ketimbang membantah kritik atau melakukan klarifikasi, Gibran lebih suka meresponsnya secara simbolis lewat pesan politik yang bisa ditangkap oleh publik.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya