Kota Bekasi, dengan populasi lebih dari 2,5 juta jiwa dan pertumbuhan urban yang pesat, menghadapi dinamika kesehatan yang unik. Sebagai kota penyangga Jakarta, Bekasi memiliki tantangan seperti kepadatan penduduk, migrasi tinggi, polusi, penyakit tidak menular (PTM), stunting, serta kebutuhan layanan kesehatan yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat. Di garis depan upaya ini berdiri Dinas Kesehatan Kota Bekasi atau yang akrab disebut DINKES BEKASI.
DINAS KESEHATAN BEKASI bukan hanya pengelola puskesmas dan rumah sakit daerah, melainkan arsitek utama sistem kesehatan kota yang berorientasi pada promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Melalui visi “Menjadi penyelenggara pelayanan kesehatan kota yang unggul, profesional, dan berintegritas”, Dinkes Bekasi terus mendorong masyarakat sehat, mandiri, dan sejahtera dengan kualitas hidup berkelanjutan.

Visi DINKES BEKASI menekankan pelayanan unggul yang profesional dan berintegritas. Misi utamanya mencakup:
Nilai inti seperti integritas, pelayanan prima, akuntabilitas, transparansi, dan profesionalisme menjadi pedoman. Renstra 2024-2026 menargetkan penguatan layanan primer, penurunan stunting, peningkatan imunisasi, dan usia harapan hidup yang lebih panjang.
Berdasarkan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) 2024, DINAS KESEHATAN BEKASI mencatat prestasi signifikan:
Di 2025-2026, capaian terus berlanjut: penghargaan nasional untuk imunisasi, penanggulangan HIV/AIDS, dan active case finding kusta.
Program Kota Bekasi Sehat dievaluasi rutin, dengan Wali Kota Tri Adhianto memerintahkan percepatan verifikasi 2025. Satu tahun kepemimpinan menunjukkan komitmen “Terus Melayani” dengan pelayanan lebih nyaman dan responsif.
Program Bekasi Sehat Ibu dan Anak (BSIA) tetap jadi andalan. Fokus pada:
Hasilnya, angka kematian ibu dan bayi menurun, kunjungan posyandu meningkat. Integrasi digital: reminder via WhatsApp, dashboard real-time, dan aplikasi monitoring.
Stunting jadi prioritas nasional dan daerah. Di Kota Bekasi, prevalensi terus ditekan melalui kolaborasi lintas sektor (Dinas Sosial, Pendidikan, PU). Rencana Aksi 2025 melibatkan koordinasi untuk identifikasi masalah dan program prioritas. Penurunan signifikan tercatat, mendukung target nasional di bawah 14%.

Imunisasi jadi pilar utama. Pertemuan lintas sektor 2025 fokus percepatan imunisasi anak zero dose (belum pernah imunisasi dasar). Cakupan imunisasi ditingkatkan melalui catch-up dan outreach.
Pengendalian PTM (diabetes, hipertensi, obesitas) melalui skrining gratis di puskesmas: cek tekanan darah, gula darah, kolesterol, BMI.
Penyuluhan rutin seperti “Pentingnya Mengontrol Tekanan Darah” (hindari komplikasi jantung) dan “Peran Serat dalam Kesehatan Pencernaan” (cegah sembelit, kanker usus).
Untuk mata di era digital: aturan 20-20-20, istirahat layar, pencahayaan baik. Penghargaan nasional diraih untuk program TBC (active case finding terbaik) dan HIV/AIDS.
Digitalisasi jadi game-changer. Puskesmas terhubung sistem informasi terpadu:
Kolaborasi dengan penyedia teknologi memungkinkan deteksi klaster penyakit cepat. Di 2026, layanan semakin terintegrasi, termasuk MCU Haji di 6 RS (4 RSUD + 2 swasta).
Kerja sama dengan BPJS, RS swasta, IDI, komunitas, dan OPD lain kuat. Kartu Sehat berbasis NIK memastikan akses tanpa hambatan. Penghargaan 2025: tiga nasional (imunisasi, HIV/AIDS, kusta).
Hari Kesehatan Nasional, Rakornas 2026, dan kunjungan kerja (misalnya dari DPRD daerah lain) jadi momentum refleksi.
DINKES BEKASI adalah mitra terpercaya. Kunjungi situs resmi untuk update: program, berita, jadwal vaksinasi, lokasi puskesmas, tips kesehatan. Di era 2026, komitmen “Terus Melayani” makin kuat demi Bekasi nyaman, sejahtera, sehat.
Mari dukung dengan menjaga kesehatan diri dan keluarga. Sehat selalu, Bekasi!