DEMOCRAZY.ID – Kabar membanggakan datang dari tanah air! Seorang hafizah cilik asal Malang, Aisyah Ar-Rumy (10 tahun), berhasil menembus tiga besar kategori peserta perempuan dalam ajang prestisius Dubai International Holy Qur’an Award 2026.
Gadis kecil tersebut bersaing ketat dengan dua finalis lainnya: Jana Ehab Ramadan (15 tahun) dari Mesir dan Sara Abdul Karim Alhalak (15 tahun) dari Suriah.
Dalam keterangan yang diterima inilah.com, Senin (2/3/3036), pencapaian itu luar biasa mengingat Aisyah harus berkompetisi dengan 5.618 peserta dari 105 negara.
Setelah melalui proses penyisiran ketat, dewan juri memilih 525 peserta yang lolos ke babak kedua (tahap penyisihan via video call), hingga akhirnya tersisa enam nama, tiga putra dan tiga putri yang kini bersaing di babak final.
Aisyah merupakan siswi kelas 4 SD Tahfidz Alquran Daarul Ukhuwwah, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Di usianya yang baru menginjak 10 tahun (lahir 19 November 2016), ia telah menghafal 26 juz Alquran dengan rutinitas murojaah 3–5 juz setiap hari.
Perjalanan Aisyah dimulai sejak usia 3 tahun, ketika orang tuanya, Muhammad Qowiyul Huda dan Maisyaroh Cholila, mendaftarkannya ke sekolah tahfidz.
Pada usia 6 tahun, ia bergabung dengan SD Tahfidz Daarul Ukhuwwah yang menjadi fondasi utama pendidikannya.
Prestasi Aisyah Ar-Rumy terus bersinar dari tingkat lokal hingga nasional.
Ia meraih Juara 1 lomba tahfidz tingkat kecamatan (2023), mendapat Penghargaan Juri lomba tahfidz regional Malang (2024), menjadi finalis Hafiz Indonesia 2024 di TV nasional, serta menyabet Juara 1 lomba Asmaul Husna dan tilawah se-Malang Raya (2025).
Rangkaian capaian ini menegaskan konsistensi, ketekunan, dan kualitas hafalannya yang luar biasa sejak usia dini.
Ayah Aisyah, Muhammad Qowiyul Huda, mengungkapkan, penentuan juara 1, 2, dan 3 tidak hanya dari penilaian dewan juri, tetapi juga melalui voting publik di situs resminya.
“Sangat dibutuhkan dukungan dari masyarakat Indonesia untuk bisa vote Aisyah. Karena selain penilaian juri juga ada dari penilaian voting,” tuturnya.
Voting publik masih dibuka hingga 2 Maret 2026.
Masyarakat Indonesia diimbau untuk memberikan dukungan maksimal agar Aisyah dapat meraih posisi terbaik di ajang internasional tersebut.
Sebelum bertolak ke Dubai pada 19 Februari 2026, Aisyah dilepas langsung oleh Bupati Malang, HM. Sanusi, di Masjid Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah.
Dukungan penuh diberikan, termasuk bantuan uang saku sebesar Rp32 juta untuk Aisyah dan tim pendampingnya.
“Aisyah adalah siswa pertama di Kabupaten Malang yang berangkat untuk mewakili Indonesia. Aisyah sudah masuk peringkat enam besar. Kami dukung uang sakunya karena semua akomodasi sudah ditanggung oleh panitia,” ujar Sanusi saat pelepasan.
Ajang ini tidak hanya bergengsi, tetapi juga menawarkan hadiah fantastis.
Pemenang pertama kategori putra dan putri masing-masing akan memperoleh hadiah sebesar 1 juta dolar AS atau sekitar Rp16,3 miliar, menjadikannya salah satu kompetisi Alquran terbesar di dunia.
Melalui visi pengembangan baru bertajuk “Mencari bacaan Alquran terindah untuk tahun 2026,” kompetisi tersebut menghadirkan peningkatan signifikan, termasuk total hadiah lebih dari AED 12 juta.
Program tersebut digelar di bawah arahan Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, yang memperkuat posisi Dubai sebagai pusat global dalam pengembangan tilawah Alquran.
Kini, harapan besar tertuju pada Aisyah Ar-Rumy.
Dukungan dan doa dari masyarakat Indonesia menjadi kunci penting agar hafizah cilik ini mampu mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.
Sumber: Inilah