DEMOCRAZY.ID – Pihak Uni Emirat Arab (UEA) melontarkan kritik keras terhadap Wahhabisme, doktrin agama yang yang secara historis terkait dengan Arab Saudi.
Ini menandai semakin dalamnya perseteruan antara dua kekuatan Teluk tersebut.
Kritik tersebut dilontarkan penasihat senior Presiden UEA Mohammed bin Zayed (MbZ), Abdulkhaleq Abdulla.
Abdulla, yang juga dikenal sebagai akademisi terkemuka Emirat, mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa Wahhabisme kembali bangkit.
“Wahhabisme kembali bangkit dari sumbernya, sekarang secara terbuka menargetkan model moderasi dan toleransi UEA,” tulis Abdulla.
“Retorika terkoordinasi di media sosial dan media yang terkait dengan negara melegitimasi ekstremisme dan menciptakan ruang bagi ISIS, al-Qaeda, Ikhwanul Muslimin, dan narasi anti-Barat dan anti-Semit,” lanjut dia, seperti dikutip dari The New Arab, Kamis (19/2/2026).
Serangan langsung yang tidak biasa ini terhadap arus keagamaan utama Arab Saudi menandai salah satu kritik publik paling tajam terhadap Riyadh oleh seorang tokoh yang sering dikaitkan di media dengan kepemimpinan Emirat.
Hal ini juga menandakan bahwa ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi tidak lagi terbatas pada perselisihan kebijakan, tetapi semakin menyentuh identitas dan ideologi.
Menurut laporan The New Arab, pernyataan tersebut juga menyoroti perbedaan doktrin, karena sebagian besar di UEA mengikuti mazhab Maliki dalam hukum Sunni, bukan tradisi Wahhabi berbasis Hanbali seperti di Arab Saudi.
Uni Emirat Arab juga mempromosikan model Islam yang dikelola secara terpusat dan relatif pluralistik di bawah Otoritas Umum Urusan Islam dan Wakaf.
Arab Saudi adalah tempat kelahiran Islam dan rumah bagi Makkah dan Madinah, dan Wahhabisme secara historis telah memberikan legitimasi keagamaan yang mendasari negara Arab Saudi sejak aliansi abad ke-18 antara ulama Mohammed bin Abdul Wahhab dan keluarga penguasa Al-Saud.
Meskipun Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah berupaya mengurangi kekuatan politik lembaga keagamaan dan mempromosikan identitas Saudi yang lebih nasionalis dan sekuler, doktrin tersebut tetap secara simbolis terikat pada fondasi kerajaan.
Pernyataan Abdulla juga muncul di tengah meningkatnya konfrontasi media, setelah media yang terkait dengan Saudi, Independent Arabia, menerbitkan kartun pada hari Senin yang menggambarkan sosok Emirat menghindari panah yang diberi label dengan isu-isu regional yang kontroversial, termasuk Yaman, Somalia, dan Aljazair, dalam eskalasi yang tampak jelas.
Perselisihan tersebut tampaknya berakar pada perbedaan strategi regional, khususnya di Yaman, di mana Abu Dhabi telah mendukung Dewan Transisi Selatan (STC) dan mempertahankan pengaruh di provinsi-provinsi selatan, sementara Arab Saudi telah mengejar pengaturan keamanan dan politiknya sendiri.
Media Emirat, termasuk Sky News Arabia, baru-baru ini menyoroti demonstrasi besar-besaran di Yaman selatan yang mendukung STC, sementara laporan menunjukkan pasukan Saudi memperkuat posisi di Shabwa setelah bentrokan.
Di luar Yaman, persaingan tersebut mencerminkan persaingan yang lebih luas atas kepemimpinan regional, posisi ekonomi, dan hubungan dengan Israel.
Meskipun Riyadh dan Abu Dhabi belum secara resmi memutuskan hubungan, dilaporkan tidak ada kontak diplomatik tingkat tinggi yang terjadi sejak akhir Desember, menurut sumber yang dikutip oleh AFP.
Sumber: SINDO