DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto terus bermanuver di jalur diplomasi untuk meredam eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Selain menyatakan kesiapan untuk terbang langsung ke Teheran, Prabowo kini secara intensif menelepon sejumlah pemimpin negara-negara Teluk untuk mencegah perang meluas di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono, mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo telah turun tangan langsung menghubungi para pemimpin dari Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar.
Namun, komunikasi dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), saat ini masih tertunda karena kendala pencocokan jadwal.
“Sudah telepon, yang masih menunggu waktunya mungkin MBS. Yang lain udah,” kata Sugiono kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026) malam.
Sugiono menepis anggapan adanya kebuntuan diplomatik dengan Riyadh dengan menegaskan, “Belum bisa temuan waktunya. Bukan belum bisa.”
Keseriusan Indonesia untuk menengahi konflik ini juga ditegaskan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.
Pemerintah menyatakan bahwa jika mendapat persetujuan dari pihak-pihak yang bertikai, Presiden Prabowo bersedia menempuh risiko dengan bertolak langsung ke ibu kota Iran.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” tulis keterangan resmi Kemlu melalui akun X resminya.
Kemlu juga memandang ketegangan ini berpotensi menjadi bola salju yang mengancam perdamaian dunia.
“Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai,” tambah keterangan tersebut.
Di sisi lain, langkah berani Presiden Prabowo ini mendapat catatan kritis dari Pengamat Hubungan Internasional dan Terorisme dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara.
Meski mengapresiasi niat baik tersebut, Robi menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bukanlah sosok yang memiliki iktikad untuk berunding.
Melihat asimetri kekuatan yang timpang dan kerasnya sikap Israel, Robi menyarankan pemerintah Indonesia untuk mengalihkan fokus pada penggalangan dukungan global secara tidak langsung.
“Jadi yang bisa dilakukan oleh Indonesia saat ini adalah melakukan upaya dan penggalangan (dukungan), agar tidak banyak pihak atau negara yang ikut terlibat dalam perang tersebut,” ujar Robi saat dihubungi di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Lebih lanjut, Robi menyarankan Indonesia untuk melobi Inggris yang secara historis menjadi penentu kuat dalam operasi militer AS, serta mendesak negara-negara Eropa untuk turun tangan.
“Kemudian (Indonesia) juga mendorong negara-negara Uni Eropa untuk berperan aktif dalam mengecam perang ini, khusus ke AS dan Israel. Sebab peperangan ini tidak berimbang,” jelasnya.
Sebagai langkah tambahan untuk menciptakan keseimbangan kekuatan (balance of power), Robi mendorong diplomasi RI untuk memastikan Kongres AS tidak mengabulkan anggaran perang yang diajukan oleh pemerintahan Donald Trump, sekaligus meminta China untuk ikut terlibat menyeimbangkan dominasi di kawasan tersebut.
Sumber: Inilah