DEMOCRAZY.ID – Narasi yang menyebut Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok yang “tersandera” kekuatan politik lama kembali dipatahkan.
Pemerhati intelijen sekaligus mantan aparat intelijen, Sri Radjasa, justru mengungkap pandangan sebaliknya: Prabowo dinilai tidak berada dalam tekanan siapa pun, melainkan satu frekuensi dan satu garis politik dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Pernyataan itu disampaikan Sri Radjasa dalam sebuah tayangan video yang beredar luas di media sosial dan platform YouTube.
Dalam pernyataannya, ia meminta publik tidak terkecoh oleh narasi drama politik yang sengaja dibangun untuk menyesatkan opini masyarakat.
“Kita jangan tertipu dengan sandiwara mereka. Kalau ada yang bilang Prabowo tersandera, itu bohong. Dia mengikuti jejak dan meniru apa yang dilakukan Jokowi. Prabowo murid terbaik dari guru politiknya, yaitu Jokowi,” tegas Sri Radjasa, Jumat (19/12/2025).
Menurutnya, kesinambungan kebijakan antara era Jokowi dan pemerintahan Prabowo bukanlah hasil paksaan atau kompromi terpaksa, melainkan pilihan sadar dan kesepahaman ideologis.
Ia menilai, sejak awal Prabowo memang telah menempatkan dirinya sebagai penerus arah kekuasaan, bukan sebagai korektor atau pembongkar sistem lama.
Sri Radjasa juga menyinggung bahwa banyak elit politik sengaja memainkan isu “Prabowo tersandera” untuk membangun simpati publik, seolah-olah Prabowo adalah korban dari bayang-bayang kekuasaan Jokowi.
Padahal, kata dia, relasi keduanya jauh lebih dalam dan strategis.
“Ini bukan hubungan sandera-menyandera. Ini hubungan guru dan murid, partner strategis yang sejalan. Jangan dibalik narasinya,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus memperkuat pandangan bahwa pemerintahan Prabowo ke depan akan melanjutkan pola kekuasaan, gaya kepemimpinan, hingga model pengambilan keputusan yang selama satu dekade dijalankan Jokowi.
Dengan kata lain, pergantian presiden tidak serta-merta berarti pergantian arah kekuasaan.
Pandangan Sri Radjasa menuai beragam reaksi publik.
Sebagian menilai pernyataan itu sebagai keberanian membongkar “mitos politik” yang selama ini dijual ke publik, sementara lainnya melihatnya sebagai alarm bahwa perubahan yang dijanjikan Prabowo bisa jadi hanya kosmetik belaka.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana maupun lingkaran dekat Presiden Prabowo terkait pernyataan keras mantan intel tersebut.
Namun satu hal pasti, narasi tentang siapa sebenarnya yang mengendalikan arah kekuasaan nasional kembali menjadi perdebatan panas di ruang publik.
Sumber: RadarAktual