DEMOCRAZY.ID – Mantan Danjen Kopassus, Mayjen TNI (Purn) Soenarko, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menyebut akan mempertahankan Polri “sampai titik darah penghabisan”.
Soenarko menilai pernyataan tersebut tidak hanya berlebihan, tetapi juga konyol, kekanak-kanakan, dan berpotensi menantang atasan tertinggi Kapolri, yakni Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
“Saya bukan polisi, saya tentara. Dalam TNI, kalau atasan sudah memerintahkan sesuatu lalu dibantah, itu namanya pembangkangan dan pelanggaran berat,” kata Soenarko di channel YouTube Forum Keadilan, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, Polri juga memiliki kode etik dan hierarki komando yang jelas.
Sebagai kepala kepolisian, Listyo Sigit berada langsung di bawah Presiden.
Karena itu, pernyataan “bertahan sampai titik darah penghabisan” dinilai tidak tepat dan beraroma pembangkangan.
“Kapolri ini kan bawahan langsung presiden. Kalau dia bicara seperti itu, seolah-olah menantang atasannya sendiri. Itu berlebihan dan konyol,” tegasnya.
Soenarko mempertanyakan konteks pernyataan tersebut.
Ia heran mengapa Kapolri merasa seolah-olah institusi Polri sedang diserang secara fisik.
“Emangnya ada yang niat menyerang polisi? Kok pakai istilah titik darah penghabisan? Siapa yang menyerang Polri?” ujarnya.
Ia juga menyinggung kemungkinan bahwa pernyataan Kapolri merupakan respons emosional terhadap wacana reformasi Polri yang tengah bergulir di masyarakat.
“Kalau itu bentuk penolakan terhadap wacana reformasi Polri, ya berarti dia menantang rakyat. Reformasi itu kan tuntutan publik,” katanya.
Lebih lanjut, Soenarko menilai sikap Kapolri terkesan sok jago dan tidak mencerminkan sikap kenegarawanan.
“Merasa paling jago, seolah-olah pernah perang. Saya ini mantan pasukan khusus saja enggak pernah sombong. Pernyataan seperti itu tidak pantas, tidak simpatik,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan pandangan mantan petinggi Polri Komjen (Purn) Susno Duadji, yang menyebut bahwa posisi institusional Polri seharusnya tidak menjadi masalah selama profesional dan taat pada tugas pokok dan fungsi.
“Polisi itu mau di bawah kementerian apa pun enggak masalah. Yang penting profesional, tahu tugas pokok, dan tidak keluar dari koridor,” pungkas Soenarko.
[FULL VIDEO]
Sumber: JakartaSatu