Makna Setan Dibelenggu di Bulan Ramadan: Harfiah atau Kiasan?

DEMOCRAZY.ID – Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan semua setan dibelenggu.

Para ulama memberikan penjelasan yang mendalam terkait makna hadits ini agar umat tidak keliru memahaminya:

Dorongan Ketaatan (Al-Qadhi): Dibukanya pintu surga adalah motivasi bagi hamba-Nya untuk taat, sedangkan ditutupnya neraka dan dibelenggunya setan bermakna agar manusia menghindari berbagai pelanggaran.

Kesibukan Ibadah (Al-Hulaimi): Setan tidak bisa dengan mudah mengganggu umat Islam karena umat sedang sangat sibuk beribadah, menahan hawa nafsu, berzikir, dan membaca Al-Qur’an.

Dibelenggu di sini juga bisa menjadi kiasan dari ketatnya penjagaan.

Penurunan Intensitas Godaan (Imam Ibnu Baththal): Secara harfiah (tekstual), intensitas godaan setan memang berkurang drastis dibandingkan bulan lain.

Secara majasi (kiasan), jalan menuju surga dipermudah melalui amal ibadah yang cepat diterima, dan jalan menuju neraka (kemaksiatan) dicegah.

Perlindungan Ilahi (Ad-Dawudi & Al-Mahlab): Allah SWT menjaga umat Islam dari kecenderungan untuk menuruti bisikan setan dan berbuat maksiat.

Jika Setan Diikat, Kenapa Masih Ada Maksiat?

Inilah realitas yang sering kita lihat. Imam Al-Qurthubi memberikan tiga alasan logis mengapa kemaksiatan dan kejahatan tetap terjadi meski di bulan Ramadan:

  • Kualitas Puasa: Berkurangnya maksiat hanya berlaku bagi orang-orang yang berpuasa dengan benar-benar memelihara syarat dan etika puasanya. Jika puasanya hanya sekadar menahan lapar, godaan akan tetap masuk.
  • Tidak Semua Setan Diikat: Yang dibelenggu hanyalah sebagian dari golongan setan, yakni mereka yang sangat ingkar (pembangkang utama), bukan keseluruhan populasi setan.
  • Faktor Internal Manusia: Sekalipun seluruh setan dibelenggu, maksiat tetap bisa terjadi karena sumber kejahatan bukan hanya dari setan luar. Nafsu jahat dari dalam diri sendiri, kebiasaan buruk yang sudah mengakar, hingga pengaruh dari “setan-setan berwujud manusia” adalah pemicu utamanya.

Kesimpulannya, bulan Ramadan memang membersihkan udara dari “polusi” godaan setan utama, namun pertarungan sejati sebenarnya adalah melawan hawa nafsu dan kebiasaan buruk kita sendiri.

Wallahu a’lam bishawab.

Artikel terkait lainnya